Saat kesadaranku kembali, rasa sakit itu kembali datang. Bukan hanya sakit di fisik, terutama sakit di hati. Aku menangis terhisak-hisak diatas pembaringan seseorang, dengan selimut tebal menutupi tubuhku. Saking takutnya diriku, aku tak berani mengintip di balik selimut. Mungkinkah aku telah ternoda? Bila iya, aku tak memiliki muka lagi untuk menghadapi lelaki yang kucintai. Tubuhku sungguh nista, aku tak layak lagi baginya. Airmataku mengalir semakin deras, kututup wajahku dengan kedua tanganku, hingga aku tak menyadari seseorang beranjak mendekat dan memelukku hangat. “Lepaskan!” teriakku yang masih merasa trauma. “Bella, ini aku,” katanya dengan suara serak. Suara itu? Apa aku tak salah mendengar? Bos? Aku membuka mataku dan bertemu pandang dengan tatapan sendunya. Mata

