"Justin, kamu sudah bangun?" Avira membuka pintu kamar Justin dan di sana menampilkan sosok Justin yang mirisnya sedang diikat di sebuah kursi, dan wajahnya penuh dengan luka-luka yang disebabkan orang suruhan Avira. Dengan senyumannya, Avira berjalan ke arah Justin dan duduk di kursi satunya lagi yang berhadapan dengan Justin. "Ingin makan?" Tanya Avira dengan senyumannya. "Aku sekarang sudah bisa membuat makanan kesukaanmu, sayang." Justin yang masih merasakan sakit di wajahnya, memilih untuk menatap Avira. Tatapan Justin ke Avira benar-benar berubah. Tatapan itu sungguh tatapan kebencian yang amat dalam. "Kenapa menatapku begitu, sayang?" Avira membelai wajah Justin dengan lembut, dan Justin hanya bisa berdiam tanpa menepis tangannya. Karena memang Justin tidak memiliki tenaga la

