Part 8: Ditinggal Sendirian

1186 Kata
"Dari kemarin aku udah kebayang-bayang kamu terus. Harusnya kamu biarin aku tinggal lebih lama di sini Far, bukannya malah ngusir aku pulang begini." Farah beringsut duduk, mencengkeram erat selimut di d**a untuk menutupi tubuh polosnya. Mereka baru saja menyelesaikan satu sesi bercinta, tapi sepertinya Adam belum puas. "Nadin nungguin kamu, Dam. Seharian dia nggak mau bicara sama aku, dia juga nolak diajak ketemu. Bisa nggak kamu bayangin gimana canggungnya kami di kantor? Aku nggak sanggup, aku nggak bisa terus-terusan bersikap bodo amat seolah nggak terjadi apa-apa." Adam menyentak kemejanya, mengenakan pakaian itu dengan kasar. "Aku udah bilang nggak akan ada yang berubah. Keputusan aku udah final, rasa bersalah kamu nggak akan bisa menghasilkan apa-apa selain membuat hubungan kita merenggang." "Oke, lebih baik kamu nggak usah datang ke sini lagi," putus Farah sepihak. "Apa?" Adam berbalik tajam. Farah memunggunginya, matanya terasa panas, mulai menggenang. Adam meraih tubuh ramping itu untuk menghadapnya. "Kamu bilang apa barusan, Far?" "Kita putus aja Dam," pintanya serak. Di antara rambut berantakan. Kasur yang masih basah karena bergumulan mereka. Pipi Farah ikut basah karena air mata. "Aku udah pikirin ini baik-baik, sampai kapanpun toh kita nggak akan bisa bersama, kan? Jadi buat apa ini dipertahanin?" Rahang Adam mengeras. "Kamu ini ngomong apa, sih? Cuma karena Nadin, kamu mau buang aku gitu aja?" "Nadin istri kamu, Dam. Dia berhak ngatur-ngatur hidup kamu—" "Nggak ada yang berhak ngatur hidup aku selain diri aku sendiri," sela Adam tajam. "Jadi berhenti memikirkan Nadin. Aku minta maaf, oke?" Tangannya yang lebar menangkup wajah sang kekasih untuk mendongak menatapnya. Ibu jari Adam mengusap air mata di pipinya lembut. "Maaf karena aku gagal melindungi kamu, aku belum bisa bikin kamu bahagia. Tapi tolong kasih kesempatan buat hubungan ini Far, kita sudah setahun, aku nggak bisa lepas dari kamu gitu aja. Kalau kamu memang nggak mau sekantor dengan Nadin, oke. Kamu bisa pindah ke cabang luar kota besok. Tapi apa itu bakal menyelesaikan masalah? Nggak Far, itu malah bikin hubungan kita semakin menjauh, dan itu yang Nadin inginkan." Mata Farah kembali memburam. "Sudah ya, kamu nggak harus ketemu Nadin. Tetap di sini. Kalau kamu mau pindah juga aku akan dukung. Aku akan minta orang carikan apart buat kamu. Aku ikutin semua mau kamu, oke?" Kepala itu menggeleng lesu. "Maaf." "It's okay." Adam mengecup keningnya. Lalu merayap ke kedua pipinya sebelum semakin turun ke bibirnya. "Aku yang salah, maaf ya?" Dia mengulum bibir Farah sekilas, lalu berbisik parau. "Lagi?" Adam hanya butuh anggukan dari sang kekasih untuk membawa tubuh itu rebah di kasur. Tanpa melepas pangutan mereka, dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Farah hingga membuat tangisan wanita itu berubah menjadi desahan. Farah meraba-raba laci meja untuk mencari pengaman. "Sebentar Dam." Namun Adam segera mendesak penuh. Farah pasrah tapi bibirnya mengurat senyum culas. "Keluarin di dalam yang banyak sayang," bisiknya dalam hati. *** "Ini besar banget." Nadin tercengang, perlu dia akui kalau selera Angga memang luar biasa. Alih-alih kamar sederhana seperti yang Nadin pesan kemarin, kamar yang dibooking Angga jauh lebih aestetik. Saat membuka jendela, mereka langsung disuguhi dengan pemandangan taman kota dan pantai buatan. "Kamu suka?" Pipi Nadin terasa merona ketika mengangguk. Dia harus membiasakan diri berkontak fisik, jadi Nadin menggandeng tangan Angga untuk diajak ke kamar mandi. Tempat itu tidak kalah mewah dengan bathub besar. "Kebetulan aku belum mandi," katanya sedikit gemetar dan malu-malu. Angga berdeham. "Oke, kalau gitu—" "Kamu juga, kan?" sambar Nadin. Dengan luwes dia berputar. Menatap cermin di westfael, membiarkan Angga di belakang. Nadin menyeka rambut panjangnya ke satu sisi. Lalu meminta Angga mendekat. "Bisa bantu bukain gaun aku, Ga?" Kael mengeram, tapi tetap menuruti perintah itu, jemarinya menarik turun ritsleting dress yang Nadin kenakan. Jantung Nadin berdegup kencang. "Kenapa kamu semalam tiba-tiba pulang?" tanyanya berusaha tenang. Kael sangat lembut dan hati-hati. "Sudah kukatakan alasannya Nadin." "Bohong, kamu sengaja menghindar, apa karena kamu takut kita ketahuan?" "Sama?" "Bos kamu." Kael berdecih, bibirnya tersenyum tipis. "Kenapa aku harus takut sama dia?" "Menurut kamu dia galak nggak?" Apakah dirinya sendiri galak? Kael tidak tahu, mungkin tidak. Sejauh ini Kael lebih senang disebut sopan daripada sangar. "Mungkin." Nadin mengecup pipinya sekilas. Kael seketika membeku. "Nadin?" Saat dia menoleh. Nadin langsung meraih bibirnya. Sial, jadi daritadi Nadin mencoba mengalihkan perhatian? Nadin mengulum lembut, ciumannya canggung, seperti mencoba-coba. Tapi itu justru membuat Kael terbakar. Kael bisa melihat pantulan mereka di cermin, juga tangannya yang meremas pinggang Nadin, menjaga keseimbangan. Sebelum dia membalas, Nadin sudah menarik diri. Bibirnya tampak menebal merona. "Kamu suka nggak?" tanyanya polos. Sungguh gila, di saat dia berniat meniduri Kael tapi masih bertanya soal kenyamanan pasangannya? "Angga?" Kael mengerjap, dia mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari. Menjawab tenang. "Kamu yakin ini disebut ciuman Nadin?" Jantung Nadin melonjak, tatapan Angga berubah tajam. Dia maju selangkah, praktis membuat Nadin terdesak. Hawa dingin seketika melingkupi tubuhnya, membuat Nadin merinding tanpa sebab. Mungkin karena gaunnya yang hampir melorot, atau karena Angga yang mengusap bibirnya sendiri. Nadin tidak tahu, yang jelas dia seperti terhimpit. "Kita bisa pelan-pelan," bisiknya. Kepala Kael meneleng. "Kamu yang memulai harusnya kamu tahu gimana konsekuensinya, bukan?" "Tapi ini simbiosis mutualisme." "Ah," desah Kael. "Atau lebih tepatnya transaksi. Itu artinya kamu akan membayar saya untuk malam ini, lantas apa keuntungan kamu Nadin?" Nadin megap-megap, oksigen seperti tersedot habis di sekelilingnya. "Ti-tidur dengan kamu udah termasuk keuntungan. Aku cuma perlu teman, itu aja." "Teman tidur?" Nadin mengangguk. Sudut bibir Kael tertarik membentuk senyum tipis. "Pembohong," bisiknya. Lalu dengan semangat menyambar bibirnya. Nadin terkesiap, berbeda dengan dirinya yang malu-malu, ciuman Angga terasa menggebu-gebu, tidak ada kelembutan di sana, dia memaksa bibir Nadin membuka, dengan gemetar Nadin melakukan yang dia inginkan. Tubuhnya yang ramping bahkan dengan mudah diangkat, Nadin segera melingkarkan kaki di pinggangnya. Deru napas mereka beradu di dalam kamar luas itu selagi Angga menggendongnya lalu merebahkan Nadin dengan hati-hati di atas kasur. "Kamu yang mau melakukan ini Nadin," kata Kael terengah, melepas kaosnya. "Jadi jangan salahkan saya." Nadin hanya bisa mengerang. Saat akan menarik gaunnya turun, Kael melihat mata Nadin tertutup rapat. Alis Kael mengerut tidak senang. "Look at me when I doing this, buka mata kamu." Nadin tidak sanggup, tapi dia memberanikan diri melihat Kael yang sudah topless. Tubuhnya kelihatan atletis, tanpa sadar Nadin menelan ludah. Pria itu mendengkus. "Kamu takut," katanya. Nadin melotot. "Saya bisa melihat itu dengan jelas di mata kamu." Apakah memang kentara? "Enggak, Angga, jangan..." Nadin berusaha meraihnya saat Angga menyela tubuhnya berdiri. "Kamu mau ke mana?" Kael memungut pakaiannya di lantai lalu mengenakannya kembali. "Kita akan melakukannya kalau kamu sudah nggak merasa takut, Nadin." Tapi Nadin sudah siap, mereka hanya perlu melakukannya sedikit lagi. Dia tidak boleh pergi begitu saja. "Nggak bisa," serunya. "Perjanjiannya dari awal nggak kayak gini. Aku cuma akan bayar kamu kalau kamu mau tidur sama aku Angga." "Kita berdua harus sama-sama tenang, tapi kamu jelas enggak. Sebagai orang yang paling berkontribusi, saya juga berhak memberikan peraturan." Heh, siapa yang bilang begitu? "Tunggu sebentar, Angga." Terus bagaimana ini? Hasrat Nadin sudah naik, kepalang tanggung kalau berhenti. "Kembali ke sini, kita belum selesai." "Nope, malam ini cukup sampai di sini, Nadin. Selamat tinggal." Nadin melempar bantal ke pintu yang ditutup Angga dari luar. Merasa kesal karena ditinggal sendirian lagi! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN