Ansel seketika terdiam. Sudut mulut sisi kanannya terangkat sedikit. Dia mendenguskan tawa kecil dalam hati. Wanita ini benar-benar sangat serius menghindarinya. Tunggu... Poni mengerjapkan matanya. Kenapa dia merasa posisi mereka saat ini sedikit membingungkan? Agar Ansel tidak menyesal dengan gerakan kecilnya tadi, Poni segera membawa kepalanya ke belakang. Tapi, pria itu malah semakin menolehkan wajah searah wajah Poni. Dan sekarang, posisi Poni tampak bersandar dengan tubuh yang kaku. Sedangkan Ansel sedikit mencondongkan tubuhnya... Ini... Terlalu... “.... Pak—” Poni memanggilnya. Awalnya ia ingin bersuara sopan, tapi entah kenapa nada suara yang keluar dari mulutnya sedikit bergetar. Poni memerah karena malu. Dia agak takut. Poni menyadari ada yang tidak beres. Melihat tanga

