Poni berkata cepat ketika Ansel mulai berjalan menujunya. “Oh, Anda ingin tidur di sini? Baiklah. Saya akan menyingkir—” Ansel berbaring di belakang Poni. Membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Lalu menyelimuti tubuh mereka yang nyaris telanjang dengan coat Ansel yang tidak seberapa. Mata Poni melebar. Tubuhnya menegang kaku hingga ke jari-jari kakinya. Jantungnya berdebar-debar sangat kencang. Dan Poni tidak dapat melanjutkan ucapannya. Poni bisa merasakan kehangatan di belakang tubuhnya. Dan bagaimana pria itu membungkuskan tangannya di atas tangan Poni yang menutupi dadanya, terasa nyaman dan aman. Rasanya lebih hangat daripada berada di depan api. “Dengan begini tubuhmu akan tetap hangat sampai besok pagi.” Suara Ansel menyadarkan Poni seketika dan memahami apa yang baru saja ter

