Pulang - COB 6

2117 Kata
Ceklek. “Kenapa baru pulang?” Radiva mengusap dadanya begitu mendengar suara sang kakak. Gadis yang baru saja membuka pintu itu menarik napas panjang. Melirik pada lelaki yang sedang duduk di sofa, Radiva bisa melihat dengan jelas lelaki itu menatapnya dengan tajam. Sekalipun lampu ruang tamu sudah dimatikan dan hanya beberapa lampu yang menerangi, tetap saja Radiva bisa melihat dengan jelas aura kejahatan yang kakaknya pancarkan. “Kakak sendiri kenapa belum tidur?” Tanya Radiva. Tangannya mengangkat tas kecil yang sempat jatuh. “Udah makan malam?” Tanya lelaki itu yang tidak menjawab pertanyaan Radiva. Dua manusia dengan sifat yang sama dan keras kepala yang sama pula itu saling berhadapan satu sama lain. Aliran kekejaman terasa menyengat begitu kedua pasang mata itu saling menatap. Dengan wajah yang sama-sama datar dan terlihat kejam, Radiva berusaha tetap memasang wajah kejamnya. Sekalipun dalam hati, Radiva ketakutan. Bagaimanapun wajah dan watak kakak pertamanya ini, Radiva tetap tidak pernah melihat sang kakak semarah dan semengerikan ini. Hidup 21 tahun dengan memiliki tiga kakak dan juga tiga adik, Radiva merasa dirinya sedang dihimpit. Apalagi jika yang berhadapan dengannya adalah si kembar pertama. Kakak tiri Radiva sekaligus kakak pertamanya, Kenan Fernando Archer. Lelaki yang menjabat sebagai Presdir di perusahaan keluarga itu adalah orang yang ditakuti di rumah setelah mending sang ayah. Dan Radiva berada di peringkat ketiga. “Kamu mendadak bisu?” Sarkas Kenan. Radiva menelan salivanya. Ia yakin Kenan sangat marah padanya. Dan Radiva tahu yang menjadi alasan lelaki itu apa. “Udah,” jawab Radiva tanpa minat. Padahal dalam hati Radiva sudah ketakutan setengah mati. “Tidur sana,” titah Kenan. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Radiva yang kini menghela napas lega. “Besok pagi ke kamar Abang.” Radiva memejamkan mata mendengar lanjutan kalimat Kenan. Tangannya mengepal namun tak bisa melayang. Ia harus bisa menahan kekesalannya atau Kenan akan semakin marah padanya. Menjadi kakak tertua, jelas bukan hal yang mudah. Dengan keempat adik yang harus dijaga dan dipenuhi segala kebutuhannya sedangkan dirinya sudah memiliki keluarga sendiri, tentu saja bukan hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Dan Radiva mengetahui hal itu. Tapi, tetap saja Radiva merasa bahwa yang ia lakukan sekarang ini tidak salah. Dengan pemberontakan bahkan kelakuannya yang di luar batas, Radiva masih merasa dirinya benar. Ia tidak bersalah dalam hal apapun. Dan ia tidak peduli dengan semua orang yang mungkin tersiksa akibat kelakuannya. Ia tidak merasa apa yang dilakukannya keterlaluan. “Eh? Adek pulang?” Mata Radiva membulat. Tubuhnya kaku dan terasa sangat berat. Seolah ada magnet yang mengikat kakinya pada lantai. Napasnya memburu berat. Tenggorokannya juga ikut tercekit sampai rasanya Radiva tidak bisa menelan apapun. Lemas. Takut. Dan cemas. Radiva juga merasakan pandangannya perlahan mengabur. Namun sebisa mungkin Radiva pertahankan kesadarannya. Memutus kontak mata dengan melihat ke arah bawah, Radiva lalu berjalan acuh. Saat naik ke anak tangga, Radiva kuatkan hatinya agar tidak goyah. “Aku langsung tidur. Capek,” ujar Radiva begitu melihat wanita yang sempat menyapanya itu akan kembali bertanya. “Gak mau makan dulu? Bunda udah masak. Erick tadi kasih tahu Bunda kalau kamu mau ke sini. Mau Bunda bawain?” Tawar wanita itu. Radiva menggeleng. Saat berada di anak tangga yang sama, Radiva menarik napas panjang dan menoleh sekilas pada wanita di sampingnya. “Aku udah makan diluar.” Mencoba menenangkan dirinya sendiri, Radiva kepalkan tangannya. “Tidur. Bunda butuh istirahat.” Setelah mengatakan hal itu, Radiva pergi. Perempuan dengan rambut yang diikat satu itu berjalan cepat menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Menarik napas lega karena berhasil melewati ketakutan terbesarnya, Radiva rasakan beban di pundaknya perlahan menurun. “Dua hari bisa pasti!” *** Radiva mengerang kesal. Wanita yang baru saja tertidur itu menatap kesal pada pintu kamar yang terus diketuk. Beberapa kali namanya juga ikut dipanggil. Membuat Radiva membuka mata. “Sebentar, anjing!” Umpatnya kasar. Menaikkan celana bolanya ke atas, Radiva lalu turun dari kasur. Rambut panjangnya terurai berantakan. Wajah bantalnya dengan mata yang memerah juga tidak Radiva pedulikan. Mengambil ponselnya yang bergetar di atas nakas, Radiva lalu membuka pintu kamar setelah mematikan telepon yang entah dari siapa itu. “Kenapa?” Tanya Radiva seraya mengucek matanya. Satu detik setelah bertanya, Radiva rasakan tubuhnya terhuyung ke belakang. Seseorang baru saja memeluknya. “Kakak kenapa gak bangunin Ega?! Kata Kak Erick kalau Kakak pulang, Kakak bakal bangunin Ega!” Ucap gadis yang tingginya sebatas d**a Radiva itu seraya mendongkak. Menatap Radiva yang kini bergumam pelan. “Kakak, ih! Ega lagi nanya juga!” Radiva menganggukkan kepalanya malas. Megan Fernando Archer. Adik perempuan satu-satunya yang Radiva miliki. Perempuan yang juga memiliki kembaran sepertinya dan Kenan. Bedanya, Megan memiliki kembaran lelaki. Dan lelaki itu pasti ada di sekitar sini sekarang. Bau-bau p*********n yang akan segera terjadi juga bau-bau akan rusaknya barang-barang di kamar Radiva nantinya mulai tercium. Apalagi saat mendengar langkah kaki yang amat keras memenuhi lorong. “Kakak Diva!! Regan datang!!” Teriak seorang lelaki lengkap dengan baju SMPnya itu seraya berlari mendekati Radiva yang tak berdaya dengan pelukan Megan. “Lo peluk gua, uang jajan lo gua—“ Radiva tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Regan sudah lebih dulu menghantamnya dengan pelukan maut. Sampai-sampai Radiva terjatuh ke bawah dengan Megan yang ada di tengah-tengah. Rasa sakit tentu saja Radiva rasakan di punggungnya. Sialan! Seharusnya sejak tadi Radiva menghindar dan tidak membuka pintu. “Bangun, Regan! Ancur badan gua ini!” Jerit Radiva seraya mencubit kecil lengan adik lelakinya. Mendengar suara sang kakak yang terjepit, lelaki yang memiliki t**i lalat di bagian keningnya itu segera bangkit dan terkekeh. Sedangkan Megan langsung merangkak dan duduk di samping Radiva. Membiarkan kakak perempuannya itu bangkit sendiri. “Kakak kapan pulang?! Kok aku gak liat mobil merah Kakak? Kemana?” Tanya Regan beruntun. “Kenapa? Lo mau minjem mobil gua lagi, kan?” Tanya Radiva sarkas. Regan menyengir lebar mendengarnya. Membuat Radiva mendengkus sebal. “Masih bocah udah gaya-gayaan bawa mobil! Belajar dulu yang bener, Bocah!” “Regan udah SMP, ya! Enak aja masih bocah. Megan tuh yang masih bocah!” Jawab Regan tidak terima. Lelaki itu melihat sekitar kamar Radiva sebelum membelalak terkejut. Apalagi saat melihat banyaknya miniatur kecil di lemari kaca. Radiva yang sadar jika bocah penghancur itu sudah mendeteksi kamarnya segera bangkit dan mendorong Regan keluar. “Kakak kok punya miniatur boruto? Aku mau minjem, dong,” pinta Regan seraya menahan tubuhnya agar tetap berada di tempat dengan memegang daun pintu. “Gak ada! Keluar lo, Bocah!” “Aku mau minjem! Kalau gak yang Deidara aja! Itu tuh, yang Mikey juga! Gitar—“ “Lo gak mau keluar, gua balik lagi ya ke apartemen!” Ancam Radiva seraya mendorong Regan keluar. Karena kamarnya yang memang selalu kosong, Kenan dan yang lain sepakat untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamar Radiva tanpa seizin gadis itu. Dan lagi, Radiva juga bukan orang yang suka tempatnya dimasuki oleh sembarang orang. Dan kamar ini juga salah satu tempat yang sama sekali tidak tersentuh selama Radiva tidak ada. Sekalipun ada, tentunya hanya orang-orang yang bertugas membersihkan. Itupun mereka yang sudah Radiva percaya. Bukan tanpa sebab Radiva tidak suka kamar ini dimasuki oleh orang lain. Di kamar ini Radiva sering menuangkan idenya dalam tulisan tangan. Bahkan pada dinding sekalipun. Yang mana itu memiliki sangkut pautnya dengan dunia perhaluan dan peenovelan yang Radiva buat. Ia tidak suka anggota keluarganya tahu mengenai perkembangan novelnya. Cukup ia dan orang-orang tertentu saja yang tahu. “Kakak sarapan!” Panggil Erick dari lantai bawah. Suara beratnya itu juga seolah mnegintruksi kedua manusia kembar di depan Radiva untuk segera turun ke bawah. “Sana!” Usir Radiva seraya menoyor kepala Regan yang terus menatap kamarnya. “Kemana?” Tanya Regan dan Megan bersamaan. “Ya sana. Ke bawah!” “Kan Kakak yang disuruh sarapan, bukan kita,” jawab keduanya kembali serentak. “Mau lo atau gua yang makan. Sama aja. Sana, turun. Gua mau mandi dulu,” ujar Radiva dan kembali memasuki kamarnya. Menutup pintu dengan keras, Radiva lalu meluruhkan tubuhnya ke bawah. Setidaknya miniatur kecil di kamarnya tidak jadi diambil oleh si pencuri barang. Dan tulisan-tulisan di dinding juga belum dibaca oleh Megan. Semoga saja belum. Radiva memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Gara-gara ketukan pintu dan insiden jatuh tadi, Radiva jadi tidak bisa melanjutkan tidurnya. Padahal sudah jelas kalau ia sangat mengantuk. Bahkan terlihat dari kantung matanya yang menghitam. Ah! Sialan. Radiva memang seharusnya tidak pulang ke rumah. Baru akan kembali menenangkan otaknya dan juga mengusir rasa kantuk, Radiva rasakan ponselnya kembali bergetar. Membuat gadis itu berdecak kesal dan mengangkat telepon itu dengan sebal. “Ya, kenapa?” Tanya Radiva tanpa basa-basi. Padahal ia tidak tahu siapa yang sedang meneleponnya saat ini. “Halo, Apa benar ini dengan Mbak Radiva?” Tanya seseorang dari sebrang sana dengan suaranya yang lembut. Radiva mengernyit, setahunya ia tidak memiliki teman yang berbicara lembut seperti ini. Kalaupun ada, Mocin tidak semanis ini saat berbicara dengannya. Memastikan siapa yang sedang meneleponnya, Radiva lihat layar ponselnya sesaat. Tertera tulisan Editor Geri di sana. Tapi, kenapa suaranya perempuan? “Ya, saya Radiva,” jawab Radiva singkat. “Maaf menganggu waktunya, Mbak. Tapi Pak Geri sudah menelepon Mbak sejak kemarin dan belum ada balasan. Beliau meminta Mbak menemuinya hari ini. Apa—“ “Saya kosong hari ini. Bertemu di mana?” Potong Radiva. Gadis itu melihat kalender dengan gambar motor yang terpajang di dinding. Melihat angka 28 di sana, Radiva mendengkus sebal. “Bilang pada Pak Geri untuk menunggu saya di café biasa. Saya akan segera ke sana 30 menit lagi.” “Tapi, Mbak—“ Radiva menutup teleponnya dan menatap ke arah jam. Menghela napas panjang, gadis yang masih membutuhkan istirahat dan tidur itu segera menyambar jaket kulit yang tergantung di depan pintu. Menaruhnya dia atas kasur bersama dengan ponselnya, Radiva langsung memasuki kamar mandi begitu melihat jendela luar. Hanya menggosok gigi dan mencuci muka dengan air, Radiva yang memang sedang malas mandi itu membungkus tubuhnya dengan jaket kulit. Celana bola yang dipakainya sejak semalam juga tidak gadis itu ganti atau ditutupi dengan rok dan semacamnya. Mengikat rambut menjadi satu, Radiva segera membuka pintu kamarnya. “Mau kemana?” “Astagfirullah!” Kaget Radiva. Gadis itu mengusap dadanya sebelum menghela napas kesal. “Abang emang mau buat Diva mati jantungan?!” “Kamu mau ke mana? Mau menghindar lagi?” Radiva mengernyit kasar. Perempuan itu memasukkan tangannya ke dalam saku jaket sebelum menatap Kenan dengan wajah datarnya. “Menghindar apa sih? Aku ada janji.” “Janji apa? Semalam kayanya gak ada janji apa-apa.” “Aku ada janji sama—“ Kenan mengangkat sebelah halisnya. Lelaki itu bersedekap kala Radiva tidak meneruskan kalimatnya dan langsung terdiam. “Sama siapa?” “Ada pokoknya! Awas, Diva mau berangkat.” “Kamu juga ada janji sama Abang!” Radiva menatap bingung Kenan. “Janji apa? Diva gak punya janji apa-apa sama Abang.” “Kamu janji mau temuin Abang pagi ini. Mana? Sarapan aja kamu gak turun, kan? Mau ngomong sama Abang kapan?” Radiva menghela napas panjang. “Sejak kapan Diva iyain yang Abang omongin? Diva gak janji apa-apa sama Abang. Diva sekarang ada janji, kalau emang mau ngomong, Abang bisa—“ “Kalau gitu kamu sarapan dulu sebelum pergi.” Radiva menolehkan kepala melihat kembaran Abangnya yang kini berdiri di samping Kenan. “Gak bisa. Diva udah telat.” “Kamu beneran ada janji?” Tanya Kenan yang masih tidak percaya dengan ucapan Radiva. “Deminya Abang. Aku udah telat.” “Mau keluar koloran gitu? Dan gak mandi? Kamu masih waras, kan?” Radiva melihat kakinya yang sama sekali tidak tertutup apapun. Mendengkus pelan, Radiva lalu melihat ke arah jam. “Biarin, deh. Yang penting pake celana. Udah, awas! Diva udah telat ini, Abang! Tempatnya jauh.” “Ganti!” Titah Kenan dan Kinan bersamaan. Radiva mengeraskan rahangnya kesal. “Abang, udah gak ada waktu!” Kesal Radiva. Gadis itu berusaha menerobos tubuh kekar Kenan. Namun hasilnya sia-sia. Karena lelaki itu sangat kuat dan tak bisa Radiva geser barang sedikitpun. “Ganti, Dek. Kamu gak malu apa keluar kaya gitu? Yang pantes sedikit kek kalau mau keluar,” saran Kinan seraya memasuki kamar Radiva. Namun dengan cepat Radiva menahan tangan wanita itu. “Oke. Diva ganti. Tapi jangan ada yang masuk!” Larang gadis itu sebelum masuk ke dalam kamar dan berganti celana. Demi apapun, Radiva tidak pernah mau mengalah. Ia juga tidak merasa malu. Toh, dirinya yang memakai celana dan dirinya yang akan dikomentari oleh orang-orang. Memang kedua kakak tirinya itu terlalu protektif. Mengambil celana panjang secara asal dari dalam lemari, Radiva lalu memakainya tanpa melepaskan celana bolanya yang hanya sebatas paha itu. Keluar dari kamar setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Radiva lalu menunjuk celananya pada sang kakak. “Udah, kan? Awas! Diva mau berangkat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN