“ikut aku!” ajak Khant dengan sorot mata yang dingin, Raya tentu saja senang luar biasa. Ia dengan santai mengekor dibelakang Khant, selama mereka lewat banyak karyawan yang memandang bingung, bahkan tak jarang mereka berbisik menanyakan siapa sebenarnya Raya. Sampai diruang kerjanya, Khant langsung membuka dan mempersilahkan Raya masuk. Khant yang sudah duduk dimeja kerjanya terlihat serius menulis sesuatu hal, membiarkan Raya yang berdiri didepannya. Mata Raya terbelalak melihat ruangan kerja Khant yang begitu rapi dan mewah. sesekali ia memindai barang-barang yang ada disana dan mulai memikirkan berapa rupiah yang harus ia keluarkan jika ingin punya barang yang sama. “Jangan sentuh apapun!” suara dingin Khant memperingatkan, mengaburkan khayalan Raya. laki-laki itu tadi sempat meliri

