10. Perang Dingin

1005 Kata
Mas Fauzi masuk ke kamar setelah hampir dua jam berkutat di kandang. Kaki, tangan, dan wajahnya basah pertanda dia telah membersihkan diri. Itu adalah syarat dariku jika dia ingin mencium putranya setelah bercengkrama dengan para ayamnya. "Gak tidur, Dek?" tanyanya. Aku masih duduk menyandar sambil memainkan gawai secara asal, men-scroll aplikasi bolak balik tanpa tujuan. "Gak," jawabku ketus. Sepintas kulihat gerak tubuhnya terkejut. Pastilah keningnya berkerut. Beberapa jenak ia terdiam sebelum akhirnya kembali bertanya, "Gak ngantuk?" Nada bicaranya terdengar hati-hati. "Gak." Kembali aku menjawab ketus. Ternyata aku tidak bisa mengikuti nasihat Ibu untuk menyelesaikan masalah dengan baik-baik. Tetap selalu emosi yang bicara.Beginilah aku jika sedang kesal tingkat dewa. Diam seribu bahasa. Jika pun bicara, sangat irit kata. Laki-laki itu terdengar menghela napas dalam. Dia mengambil gawainya yang terletak di atas nakas. Ekor mataku melihat layarnya menyala. Berarti dia sedang memeriksa isinya. "Adek kenapa?" tanyanya lembut.Tangannya menyentuh pundakku. Namun, aku bergeming. Sepertinya dia yakin tidak ada sesuatu pada gawainya yang menjadi penyebab perubahan sikapku. Dia tidak menemukan apa pun di sana. Karena itu dia kembali bertanya setelah memeriksa benda pipih persegi panjang itu. Memang begitu kenyataannya, tidak ada hal baru pada gawainya yang menyulut emosiku. "Ada masalah?" Dia masih bertanya lembut. "Mas ada salah?" Huh! Apa dia merasa tidak pernah berbuat salah? Merasa apa yang dilakukan bersama Erlin itu bukan suatu hal yang menyakiti? "Apa tadi kamu ada manggil terus Mas gak dengar?" "Dek." Tidak ada satu pun pertanyaannya yang kujawab. Dia terlihat mengusak rambut, frustrasi. Kubiarkan dia duduk dengan tingkah serba salah, terlihat tidak nyaman dan gelisah. Sesekali menatap padaku yang tiba-tiba membeku, sesekali menatap gawainya yang juga membisu. Sementara aku berlagak santai dan pura-pura sibuk sendiri memainkan gawai. "Kamu mau ngemil? Mas kupaskan buah, ya," tawarnya setelah cukup lama suasana hanya diam-diaman. Kemudian ia beranjak dan akan melangkah. "Tidak usah, nanti kalau mau aku kupas sendiri," ucapku menahan langkahnya. Biasanya aku sangat senang jika Mas Fauzi menawari sesuatu. Merasa diri sangat diperhatikan dan dimanja. Namun, siapa sangka dibalik perhatian itu, ada sembilu tajam yang ia simpan untukku. Dia mengurungkan langkah. Kemudian duduk lebih rapat denganku. "Ada apa, Sayang?" tanyanya dengan sangat lembut sambil mengusap ubun-ubunku. Aku tipe orang yang cepat terharu jika diperlakukan dengan lembut, terlebih jika hati sedang sedih. Usapan Mas Fauzi membuat mata ini memanas. Sekuat tenaga kutahan agar sesuatu di dalam sana tidak mencair. Kamu selembut ini, tapi mengapa begitu tega bermain curang di belakang, Mas? Seharusnya dia tidak usah bersikap manis jika di sisi lain menyakiti. Seperti bunglon saja, sebentar hijau sebentar merah. Lain waktu malah berubah cokelat. "Jika Mas ada salah, tolong sampaikan. Biar Mas perbaiki," pintanya. Aku tetap bergeming. Dia menghela napas panjang. "Bicaralah, Dek, lebih baik kamu marah dan meluapkan semuanya daripada diam begini. Jadi Mas bisa ngerti. Jika diam begini, Mas gak paham. Bagaimana Mas bisa perbaiki diri?" Mengapa dia tidak merasa bersalah sama sekali? Tidak bisa introspeksi diri? "Tadi ada yang nelpon ke hp, Mas?" "Bicara, dong, Dek. Ada apa? Tadi pagi baik-baik saja." "Astagfirullahal'azim." Ia mengusap wajahnya kasar setelah sekian lama aku tetap membisu. "Apapun kesalahan itu, Mas minta maaf. Tolong maafin, Mas." Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Mas sayang kamu. Sakit rasanya didiamkan begini. Tolong maafin, Mas. Mungkin ada yang tidak Mas sadari, atau kesalahan di masa lalu." Suaranya terdengar serak. "Mas sadar kemarin-kemarin banyak nyakitin kamu. Bahkan Mas tidak bisa menyebutkan satu-satu kesalahan itu karena teramat banyak. Mas minta maaf." Aku menarik tangan dari genggamannya. Jujur, sebenarnya terenyuh mendengar permohonan maaf yang disampaikan laki-laki itu. Namun, saat ini aku tidak tahu apakah semua itu tulus atau tidak. Mengingat bahwa ia pernah berniat menceraikanku, rasanya separuh hati telah tertutup sehingga tidak peka lagi. Hati terlanjur kecewa begitu cepat ia berpikir untuk pisah. Padahal aku bertahan meskipun diabaikan sedemikian rupa. Pengkhianatan, sekecil apapun bagiku adalah suatu kesalahan besar. Dengan merasa nyaman bercerita dengan perempuan lain tentang hal-hal intim sudah membuka jalan untuk berkhianat. Bahkan besar kemungkinan hati telah melakukannya. Mata yang memanas kini telah berhasil mencairkan isinya. Satu bening bergulir di pipi. Antara sakit atas fakta yang baru kuketahui dan haru atas permohonan maaf Mas Fauzi. "Jangan menangis, Dek. Luapkan saja." Ia mengulurkan tangan untuk menghapus air mataku, tetapi pelan kutepis. Kuusap sendiri pipi yang basah. Sikapnya seolah mempermainkanku. Kelembutan dan perhatiannya beberapa hari ini telah membuatku lupa atas semua salahnya setahun terakhir, ketika dia lebih mementingkan hobinya dibandingkan istrinya. Namun, mengapa dia membawa perempuan lain di antara kami? Mengapa pula dia tetap berlaku lembut jika berniat melepasku? Jadi apa sebenarnya yang dia mau? Setelah memastikan tak ada lagi air mata yang tersisa, aku menggendong Aqmar yang terlihat mulai gelisah. "Mau ke mana?" tanyanya ketika melihatku melangkah. "Keluar." Aku menjawab pelan. Langkahku menuju ke ruang tengah, menyusui Aqmar sembari menyaksikan siaran televisi di sana. Pukul sebelas siang, rata-rata setiap chanel menayangkan siaran kriminal. Salah satu beritanya penggerebekan pasangan tidak resmi. Mas Fauzi menyusul dengan segelas s**u dan sepiring buah. Ia menyuapkan sepotong kecil pear padaku. Kebiasaannya ketika aku sedang menyusui, ia menyuapi karena Aqmar kalau menyusu cukup lama. "Kamu boleh marah, tapi jangan lupa makan dan minum. Mas gak mau kamu sakit," ucapnya kembali membuatku terenyuh. Ya Allah, tuluskah dia? *** Aku terjaga ketika merasa sangat gerah. Biasanya kamar kami full AC. Namun, malam ini aku sengaja tidur di kamar tamu yang hanya memiliki kipas angin. Khawatir angin dapat memberi efek tidak baik pada Aqmar, kuarahkan kipas menghadap dinding. Jadi sejuknya tidak terlalu berasa. "Mengapa pindah ke sini?" Suara Mas Fauzi mengagetkan. Pantas saja sangat gerah, ia mendekapku erat dari belakang. Tadi, ketika memastikan ia telah terlelap, aku membawa Aqmar pindah ke sini. Rupanya ia menyusul ke mari. Entah sejak kapan. "Gak apa-apa," jawabku singkat tanpa menoleh. "Kamu menangis?" Pasti ia mendengar perubahan suaraku. Aku hanya perlu menangis untuk melepaskan sesak. Biasanya setelah menangis, hati dan pikiran akan terasa lega. "Mas minta maaf, Sayang. Apa ini ada kaitannya dengan Erlin?" Akhirnya dia sadar kesalahannya yang menyakitkan itu. "Benar?" Ia bertanya untuk penegasan. "Kalau Mas jelaskan kamu mau dengar?" Ia tetap memelukku erat sambil sesekali merapikan helaian rambutku ke belakang telinga. Menjelaskan apa lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN