Chapter 6: Hakone

2039 Kata
Kana POV “Thank you, professor. Arigatou Gozaimasu.” Kana membungkukkan dirinya dan mengucapkan terima kasih, sementara Profesor Yamada hanya melambai acuh dari dalam mobil. Kana kembali berdiri tegak dan betapa kagetnya ketika melihat seseorang di sampingnya. Bara. “Eh, ada mas Bara.” Kana tersenyum cerah. Bara hanya mengangguk, dengan tanpa ekspresi seperti biasa. Matanya memperhatikan mobil Profesor Yamada yang menjauh. Nurul tiba-tiba mendekati mereka berdua. “Halo Kana! Diantar teman ya barusan?” Tanyanya ceria. “Bukan teman mba, tapi Profesor saya. Saya baru dari kampus, ada kerjaan sebagai asistennya. Untung tidak terlambat sampai disini.” Jelas Kana. “Wah, sibuk sekali ya kamu Kana, selain jadi mahasiswa, kerja sambilannya juga banyak.” “Iya mba, mumpung masih muda.” “Haha.. bisa aja kamu.” Nurul dan Kana tergelak. Bara masih diam. “Ya sudah, kita berangkat yuk. Kamu bisa telponkan pak supir?” “Siap mba!” Agenda Tim hari ini ke stasiun Tokyo, pengambilan gambar di depan gedung merah bata bergaya eropa yang merupakan ciri khas stasiun Tokyo itu. Mereka mencari sisi yang tidak begitu ramai agar bisa merekam Bara tanpa ada orang lain. Sembari memperhatikan dari kejauhan, pikiran Kana melayang ke tawaran sang professor yang tadi menawarkan diri mengantarnya, bahkan menjemputnya. Ia masih deg-degan saja bila mengingat kejadian tadi. Kaget sekali rasanya ketika professor Yamada yang tegas dan serius itu mau mengantarnya ke hotel dan betapa canggungnya ia di saat perjalanan. Tiga semester kenal si professor, baru kali ini mereka pergi berduaan di luar kampus untuk urusan bukan pekerjaan. Hanya karena hujan rintik? Ckck. Kana lalu menepuk pipinya sendiri. Sadar, Kana. Jangan baper. Ia mengingatkan dirinya sebelum kebablasan berpikir yang tidak-tidak. “Kana, bisa kan?” Pertanyaan Nurul membuyarkan lamunannya. “Eh, maaf mba, bisa apa ya?” “Besok dua hari kamu ikut ke Hakone, mau pengambilan gambar disana biar kelihatan ada Gunung Fuji nya, dan malamnya melihat winter illumination.” Jelas Nurul. Kana mengangguk, Isa sudah menjelaskan soal ini sebelumnya, penginapannya juga akan ditanggung oleh tim Bara. Hakone terletak di sekitar 107 km dari Tokyo, di Prefektur Kanagawa, dekat dengan Gunung Fuji. “Bisa mba.” “Sip!” Pengambilan gambar selesai lebih cepat dari kemarin karena besoknya akan perjalanan jauh. Kana tiba di asrama jam 6 sore dan langsung memasak makan malamnya, yaitu nasi goreng telur. Sambil makan, Kana asyik membalas chat grup Ia, Tia dan Affan. Tia: Besok pada ada acara ga? Jalan yuk ke Yokohama. Affan: Besok gue ke Hakone, nginep semalam. Kana: Loh? Aku juga besok ke Hakone dan nginep juga. Tia: KALIAN JANJIAN BERDUA GAK NGAJAK GUE??? OKE FINE! Affan: Gue gak janjian sama Kana, Ti. Gue ada acara sama anak klub fotografi kampus. Kana: Aku nemenin timnya Bara syuting. Tia: Enaknya kalian… besok bisa ketemu dong disana? Kana: Ngapain jauh-jauh ke Hakone ketemu Affan? :P Affan: Tadinya aku mau fotoin kamu gratis loh Kan. Kan lumayan di Kawaguchi Ko dengan background Fujisan. Tia: Tau nih, Kana jual mahal, padahal banci kamera. Kana: He he.. orang besok aku kerja bukan jalan-jalan. Lagian kan Hakone luas. Belum tentu papasan sama kamu, Fan. Affan: Emang besok kamu rencananya kemana? Kana: Nggak tau deh. Besok ya kukabari kalau udah sampe. Tia: Duh gue ngapain ya besok? Affan: Jalanlah sama cowok lo. Tia: Doi lagi mudik ke Osaka. Sepi deh guee. Affan: Cari cowok lain aja. Kana: Enak bener nih Affan ngomongnya. Tia: Tau, dipikir gue tukang main cowok kali ye. Affan: Emote ketawa Kana: Kita temu minggu depan aja yuk. Di tempat Tia aja biar aku yang masak. Tia: Ide bagusss! Affan: Sip! Setelah puas berbalas pesan dan nasi gorengnya sudah habis disantap, Kana lalu memulai mengepak baju yang akan ia bawa ke Hakone besok. Dua hari, lumayan juga ini bawa beberapa potong baju. Apa aku perlu bawa koper yah? Kana menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa koper berukuran kabin yang ia punya. Ia lalu memasukkan dua set coat beserta pakaian dan celana panjang karena udara masih dingin, serta syal. Sepatu ia hanya bawa sepasang boots yang biasa ia gunakan. Tak lupa dia membawa set obat-obatan dan peralatan mandi yang biasa ia bawa bila bepergian keliling Jepang. Setelah kopernya siap, Kana lalu membereskan baju kotornya. Ia berencana mencuci dan mengeringkan baju-bajunya sebelum keluar kota, mumpung belum terlalu malam dan ruang laundry asramanya belum ditutup. Asramanya memang menyediakan mesin cuci dan pengering gratis di ruang laundry lantai satu untuk setiap mahasiswa yang tinggal disana. Setelah memasukkan baju-bajunya ke dalam mesin cuci, Kana memutar kenop mesin dan membiarkannya berjalan. Sembari menunggu, ia memutuskan untuk pergi ke minimarket dekat asrama, membeli snack dan es krim matcha favoritnya untuk teman menonton dorama malam ini. Tak peduli udara masih cukup dingin, Kana tetap ingin mengemil eskrim malam ini. Kana sedang menimbang-nimbang mau membeli berapa es krim di depan freezer minimarket saat seseorang menyapanya. “Kana?” Suara itu sontak membuatnya menoleh, dan betapa terkejutnya ia saat melihat professor Yamada yang tadi mengantarnya pagi ada di depannya, mengenakan celana pendek dan kaos serta jaket di luarnya, lengkap dengan sandal jepit. “Profesor?” Kana terbelalak. “Profesor tinggal di daerah sini juga ya?” Tanya Kana dalam bahasa Inggris seperti biasa. “Iya, aku baru pindah kesini beberapa minggu lalu.” Jawab professor muda itu. “Kamu tinggal di asrama Rikkyo di Asakadai ya? Apartemenku pas di seberang gedung asrama.” Kana mengangguk. “Pantas, saya baru pertama kali lihat professor di daerah sini.” “Mau makan eskrim? Dingin begini?” Profesor Yamada tersenyum tipis, menunjuk ke tangan Kana yang memegang dua es krim. “Iya, hehehe..” Kana hanya tertawa kecil, lalu memasukkan dua es krim favoritnya ke dalam keranjangnya, yang sudah agak penuh dengan kopi dan snack lainnya. Ia lalu melongok ke arah keranjang si professor yang berisi sushi dan bento isi nasi dan lauk pauk khas Jepang. “Belum makan malam ya professor?” “Iya nih. kamu sudah selesai? Ayo barengan ke kasir, biar kutraktir.” “Beneran?” Mata Kana membulat. Sang professor mengangguk, dan Kana sebagai mahasiswa rantau pencinta gratisan tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.  Rejeki tidak boleh ditolak. Ia lalu mengikuti sang professor ke kasir dan meletakkan keranjangnya. Profesor itu lalu meminta kasir memisahkan plastik belanjaannya dan Kana, sementara Kana hanya menatap dari belakang. Baru kali ini ia melihat profesornya ini menggunakan baju santai begini, ternyata tidak mengurangi ketampanannya sama sekali. Udah ganteng, pinter, baik.. Bisik Kana dalam hati. Kok banyak orang bilang dia galak sih? padahal aslinya baik gini. Memang jarang ngomong dan jarang senyum aja sih, tapi pada dasarnya dia Cuma galak di dalam kelas. Setelah menyelesaikan pembayaran, Tetsuya lalu memberi plastik berisi es krim dan snack pada Kana, yang sontak mengucapkan terima kasih berulang kali. Tetsuya hanya mengibaskan tangannya, tanda itu bukan hal besar. “Mau langsung pulang?” Tanyanya. Kana mengangguk. Mereka lalu berjalan beriringan. Lagi-lagi Kana bingung mau bicara soal apa, jadi ia diam. Tapi Tetsuya malah membuka obrolan duluan. “Tadi pulang kerja sambilan jam berapa?” “Jam 6 sampai rumah, professor.” “Ooh. Besok kerja lagi?” Tanyanya, membuat Kana mengernyitkan dahi. Tumben sekali professor ini bertanya macam-macam soal kegiatannya. Apa dia mau minta aku datang lagi besok? “Besok juga ada, tapi di Hakone.” “Hakone? Jauh sekali.” “Iya, menemani tim penyanyi Indonesia syuting untuk video klip.” Jelas Kana. “Profesor ingat laki-laki yang tadi menunggu di lobi saat saya tiba? Itu dia penyanyinya, professor.” “Oh, laki-laki yang tadi ya?” Komentar Tetsuya singkat. Raut wajahnya benar-benar tidak bisa dipahami sekarang. “Iya. Kenapa professor? Ada kerjaan lagikah yang harus saya selesaikan di kampus?” “Tidak ada.” Tetsuya menggeleng. “Oh, okay.” Tak terasa, keduanya tiba di depan asrama Kana. “Terima kasih sekali lagi atas traktirannya, professor. Kalau ada perlu apa-apa di kampus seperti tadi, saya siap membantu.” Janji Kana setelah membungkukkan kepalanya, tanda ia berterima kasih. “Kalau perlunya bukan di kampus, apa bisa bantu?” Tiba-tiba Tetsuya bertanya dengan ekspresi wajah serius seperti biasa. “Uh.. bisa? Memang urusan soal apa ya prof?” “Kapan-kapan saja kita bahas soal itu. Masuklah.” Tetsuya membalikkan badannya dan berjalan ke arah apartemennya yang memang terletak di seberang asrama. Kana terdiam, lalu masuk ke dalam gedung. Meski agak bingung dengan interaksinya kali ini yang cukup panjang bersama si dosen, tapi ia tak ingin ambil pusing. Lumayan nih ditraktir banyak, bisa hemat. Haha.. Kana terkekeh sembari berjalan ceria menuju ruang laundry. Setelah mengangkat hasil cuciannya yang sudah kering otomatis berkat mesin cuci Jepang yang modern, Kana lalu kembali ke kamarnya. Iseng ia mengecek hapenya yang tadi lupa ia bawa, ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Affan. Affan juga meninggalkan pesan di chat pribadi. Affan: Besok, kasihtau aku ya kamu kemana aja dan nginep dimana? Affan: Kok gak balas sih Kan? Telepon juga gak diangkat? Kana terkekeh. Posesif sekali temannya yang satu ini, kalau Affan belum punya tunangan pasti Kana sudah baper kemana-mana. Sayang Affan sudah bertunangan, jadi Kana tahu diri. Ia sekarang hanya geli saja melihat tingkah Affan dan menganggapnya sama seperti kakak lelakinya yang protektif. Kana: Ngapain sih kok mau tau aja aku kemana dan nginep dimana? Affan: Siapa tahu aku bisa nemuin kamu setelah acara klubku. Kana: Kaya gak pernah ketemu aja kita di Tokyo. Baru juga ketemu kemarin. Affan: Ya kan disana lebih seru, bisa foto-foto. Nanti kufotoin, janji. Kana: Ya udah, besok aku kasih tau. Affan: Kok baru balas? Kana: Aku baru dari minimarket, terus tadi ketemu professor Yamada! Ternyata dia baru pindah ke daerah sini. Abis itu aku ditraktir snack dan eskrim. Rejeki anak soleha ini namanya. Affan: Baik juga ya profesormu itu. Kana: Iya, tadi pagi juga dia anter aku dari kampus naik mobil ke hotelnya Bara. Biarpun dingin gitu orangnya ternyata dia baik kok. Affan: Kamu dianter naik mobil sama dia? Berdua aja? Gak canggung apa? Kana: Canggung banget! Tapi dia maksa. Yaudah rejeki. Lumayan aku gak capek jalan. Affan POV Di apartemennya di Ueno, Affan merengut membaca balasan polos dari Kana. Sebagai laki-laki yang sebenarnya punya perasaan lebih terhadap sahabatnya ini, hatinya sekarang cemburu mendengar kedekatan Kana dan profesornya. Ia sering dengar Kana cerita soal professor yang mempekerjakannya sebagai asisten ini. Yamada Tetsuya, orangnya galak kalau di kelas, dingin, tapi sebenarnya baik dan profesional. Lalu ia juga ganteng, menurut Kana dan Tia yang sudah pernah melihat fotonya. Biasanya interaksi Kana dan sang professor hanya sebatas urusan pekerjaan mereka di kampus, tapi Affan merasa ada yang aneh ketika Tetsuya meminta Kana datang saat libur musim dingin, lalu mengantarnya ke tempat kerja sambilan dan sekarang bahkan menraktirnya. Halah, paling dia cuma sekedar berbuat baik sama bawahan aja, Fan. Affan menenangkan diri. Ia lalu berbaring di atas tempat tidurnya. Pikirannya lagi-lagi berputar pada Kana. Hampir ia ingin menelpon Kana lagi, tapi ternyata, teleponnya sudah berdering duluan. Esti. “Halo mas, lagi ngapain?” Sapa sang tunangan, ceria. “Hai. Aku baru selesai beberes. Besok mau ke Hakone, acara klub fotografi kampus.” Jawab Affan sekenanya. “Oh, seru banget ya. kapan-kapan aku mau dong mas ke Hakone.” “Ya, nanti kalau kamu kesini, kuajak kesana.” Komentar Affan pendek. Sebenarnya ia tidak serius dengan janjinya ini, tapi Esti terdengar begitu senang. “Asyik, beneran ya mas! Nanti kalau mas libur semesteran lagi, aku cuti terus aku liburan kesana deh. Abis kelamaan kalau nunggu mas lulus.” “Oke. Ya sudah, aku istirahat dulu ya. kamu juga, istirahatlah.” “Ya mas, hati-hati ya besok berangkatnya.” “Ya.” Affan lalu menutup telpon dan menghela nafas panjang. Rasanya sekarang ia begitu bersalah pada Esti karena tidak antusias bila mengobrol dengannya, tidak seperti saat ia berbincang dengan Kana. Tapi bagaimana lagi? Hatinya memang dari awal beku terhadap Esti. Ia menerima pertunangannya hanya karena permintaan kedua orang tuanya yang memiliki relasi bisnis dengan keluarga Esti. Meski awalnya menolak, tapi ia dan kakak-kakaknya memang hanya dibolehkan menikah dengan pilihan orang tua mereka. Tidak ada yang salah dengan Esti, gadis itu baik, cantik, dan pintar juga. Tidak manja meskipun anak orang berada. Yang salah hanyalah hati Affan yang hingga saat ini lebih memilih wanita lain. Dan wanita itu adalah Kana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN