Affan POV
“Tadi lo jadi figuran juga??” Tanya Tia pada Kana setelah udon mereka semua tiba. Affan hanya mendengarkan, sibuk menyeruput udonnya, sementara Kana mengangguk.
“Iyaa, aku juga kaget banget tiba-tiba disuruh jadi figuran video klipnya.” Balas Kana, menggunakan aku-kamu seperti biasa. Kana yang asli Bandung dan tinggal di Bandung sedari lahir memang tidak pernah terbiasa menggunakan lo-gue, tidak seperti Affan dan Tia yang besar di Jakarta. Affan jadi ikutan menggunakan aku-kamu kalau bicara dengan Kana, sementara tidak dengan Tia.
“Lo tau Bara ya Ti?” Tanya Affan pada Tia. Tia mengangguk.
“Lagi hits banget tau dia di Indo!” Balas Tia semangat. “Lagu-lagunya bagus banget liriknya, musiknya juga easy listening gitu.”
“Update banget ya lo masalah dunia perartisan Indo,”
“Kalian juga harusnya update dong!” Tia menggeleng-geleng. “Gila Kana, lo beruntung banget. Sayang gue sibuk seminggu ini, kalo nggak mungkin gue mau ikut ke tempat syuting dia. Jadi gimana orangnya? Baik ngga?”
“Nggak banyak omong sih aku sama dia.” Kana mengangkat bahu. “Tapi tadi pas peluk aku sih baik ya,” Lanjutnya, membuat Tia melongo. Affan tiba-tiba tersedak mendengarnya. Peluk??
“Peluk????” Tia sudah mendahului. “Ngapain kok peluk-peluk?” Affan hanya menghabiskan teh hijaunya sembari serius mendengarkan.
“Ya, adegannya begitu tadi.”
“Jadi love interestnya?”
“Semacam itulah, tapi cuma punggung doang sih, wajah nggak direkam.”
“Gilaaaaa….” Tia bertepuk tangan. “Luar biasa, ketiban rejeki banget nih sobat kita Fan!” Tia menepuk punggung Affan. Tapi Affan tidak ikut senang.
“Kok kamu mau sih Kan, dipeluk gitu?” Celetuk Affan. Tiba-tiba ia merasa tidak rela. Kana hanya terkekeh.
“Ya nggak mungkin nolak atuh tadi, orang udah tinggal take gitu.”
“Nggak diapa-apain kan sama dia?” Selidik Affan lagi.
“Ya nggaklah!” Sambar Tia. “Kan di depan kamera, di depan umum lagi. Lo nih aneh-aneh aja deh.”
“Lain kali nggak usah maulah kalau adegannya bikin nggak nyaman begitu.” Ujar Affan. Ia sebal membayangkan lelaki lain terlalu dekat dengan Kana. Aneh memang, Kana padahal Cuma temannya.
“Bukan nggak nyaman sih, Cuma jadi deg-degan aja, abis orangnya ganteng pisan..” bisik Kana, terlihat begitu malu. Padahal di sekitar mereka juga semua orang Jepang yang sedang makan udon di restoran itu, tidak ada yang mengerti pembicaraan mereka. Tia tertawa mendengar kepolosan Kana, sementara Affan hanya merengut, tapi lalu ikutan tertawa kecut, agar perubahan moodnya tidak disadari oleh kedua sahabatnya.
“Makanya lo cari pacar, Kan!” Titah Tia semangat. “Bisa-bisanya dari lahir jomblo! Di antara kita bertiga aja cuma lo nih yang nggak ada pacar.” Affan lagi-lagi tersenyum kecut. Tia punya pacar, orang Jepang, teman sekampusnya. Dia bahkan beberapa kali ganti pacar selama mereka kuliah di Jepang. Sementara Affan, sudah dijodohkan keluarganya sejak sebelum berangkat ke Jepang, dan mereka berencana akan menikah setelah kuliah Affan di Jepang selesai. Affan tidak memberi tahu Kana dan Tia kalau tunangannya sebenarnya hasil perjodohan, karena ia menyimpan rahasia sendiri soal keluarganya. Sejujurnya, hingga sekarang ia belum memiliki perasaan lebih pada sang tunangan. Tapi tetap saja ia menghormati perjodohan yang sudah diatur keluarganya.
“Aku nggak pernah beruntung Ti, masalah percintaan.” Kana hanya menghembuskan nafas, pasrah. “Orang terakhir yang aku suka taunya udah punya tunangan.” Komentarnya lagi, melirik Affan. Affan tersedak lagi, sementara Tia tergelak. Affan memang tahu soal perasaan Kana karena Kana menyatakannya langsung padanya waktu itu, di depan Tia juga ketika mereka sedang makan malam seperti ini. Affan langsung menolak dengan alasan sudah bertunangan. Untung Kana tidak terlalu sedih, ia bilang ia memang biasa menyatakan rasa sukanya duluan pada lelaki dan ditolak begitu. Mereka bertiga juga tidak jadi canggung karenanya, mungkin karena sifat mereka bertiga mirip, sama-sama santai dan supel.
“Makanya lo jangan cepet baper Kan, jadi orang.” Saran Tia. “Dan jangan terlalu agresif! Gila aja baper dikit main nembak orang.”
“Ya mending gitu daripada lama-lama dipendam taunya ditolak juga.” Tegas Kana. Affan hanya tertawa. Kana memang unik dan berani. Aneh sekali perempuan sebaik Kana selalu jomblo selama hidupnya. Memang kadang lelaki tidak suka dengan perempuan agresif, tapi tidak dengan Affan. Seandainya ia tidak punya tunangan, ia pasti tidak akan menolak Kana. Bahkan, ia mungkin akan menyatakan duluan pada Kana.
“Jadi lo ini sebenarnya udah berapa kali sih nyatain rasa suka lo sama orang dalam hidup lo?” Tanya Tia.
“Berapa ya?” Kana terlihat menghitung. “10 kali ada deh.” Affan dan Tia mendelik mendengarnya.
“Buset!”
“Dan itu ditolak semua??” Respons Affan.
“Iya. Alasannya mah macem-macem sih. kebanyakan bilangnya mau berteman aja.” Kana hanya mengangkat bahunya lagi, santai. “Tapi sekarang aku nggak mikir mau cari pacar dulu deh, mau fokus ke kuliah sama banyakin jejaring dan tabungan.”
“Mantap!” Affan mengacungkan jempol. Kenapa gue jadi lega ya? Gumam Affan dalam hatinya. sementara Tia hanya mendengus.
“Emang selama ini nggak ada yang nembak lo Kan?”
“Ada sih beberapa kali, tapi aku tolak soalnya aku gak suka orangnya.”
“Ah, gue jadi inget!” Sergah Tia. “Mas Anton anak PPI kenapa lo tolak waktu itu?” Anton adalah senior mereka di organisasi PPI Tokyo, yang datang duluan ke Jepang. Affan pernah dengar Anton ditolak Kana tahun lalu. “Lo nggak baper sama dia? Padahal dia udah baik banget waktu itu sama lo.”
“Ya dia kan baik sama semua orang, banyak juga yang suka sama dia, jadi aku ngga ngeh kalo dia suka sama aku, dan aku nggak punya perasaan apapun sama mas Anton.” Seloroh Kana.
“Giliran ada yang suka sama dia, dia nggak peka. Giliran ada yang dia suka, dia baper terus agresif.” Tia menarik kesimpulan. “Bisa-bisa jomblo terus ini sih dia!”
“Weei jangan nyumpahin dong!” Seru Kana, lalu mengikik mendengar penuturan jujur Tia, sementara Affan tersenyum simpul. Tidak tahu kenapa, bukan hal buruk bagi Affan bila Kana selalu jomblo.
*
Selesai makan malam, mereka kembali ke stasiun Shibuya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat berjalan sebelum mencapai lampu merah, Affan tiba-tiba ditelpon oleh seseorang. Esti.
“Mas, sudah pulang?” Esti, tunangannya bertanya.
“Ah, belum nih.” Jawab Affan, tidak bertanya balik karena ia tidak begitu tertarik dengan keadaan Esti nun jauh sana di Jakarta. Di sudut matanya ia melirik ke arah Kana dan Tia yang menunggunya, sembari mengobrol seru.
“Oh, aku sudah pulang dari kantor nih mas. Nanti ngobrol yuk kalau mas sudah pulang?” Esti terdengar berharap. Affan hanya menghela nafas. Ingin ia menolak, tapi rasanya tidak kuasa. Meski tidak terlalu menyukai perjodohan ini, tapi ia tidak tega menyakiti hati Esti, karena Esti adalah wanita yang baik. Ia juga tidak ingin kabar mengenai perbuatannya yang tidak mengenakkan pada Esti terdengar oleh keluarganya. Affan hanya bisa mengikuti arus.
“Oke. Nanti kukabari kalau sudah sampai.” Akhirnya Affan menjawab. Ia lalu menutup telepon dan menyusul Kana serta Tia.
“Duh mesranya yaa, biarpun beda zona waktu, tiap hari telponan melulu!” Komentar Tia pada Affan. Affan hanya tersenyum kecut, lagi.
“Iya ih, untung aku ditolak waktu itu, kalau ngga bisa-bisa aku jadi pelakor.” Kana menimpali, dan lalu tertawa berdua dengan Tia. Affan geleng-geleng melihat keduanya yang begitu santai membicarakan hal itu. Seandainya saja kamu tahu perasaanku, Kana. Ujar Affan dalam hati, sembari memperhatikan Kana dari belakang.
Tidak terasa, mereka sudah tiba di stasiun Shibuya. Bertiga mereka menunggu di peron Yamanote Line, karena akan menaiki kereta yang sama, namun turun di tempat yang berbeda. Kana dan Tia turun di Ikebukuro lalu ganti kereta naik Tobu Tojo Line, karena apartemen Tia di Oyama sementara asrama Kana di Asakadai. Sementara Affan lanjut ke Ueno, apartemennya.
“Besok lo jam berapa Kan kerja sama Bara lagi?” Tanya Tia saat mereka sedang menunggu kereta.
“Jam 10.”
“Berarti dari asrama jam 9?”
“Jam 7, aku mau mampir kampus dulu sejam dua jam.” Jawab Kana.
“Ada apaan di kampus? Bukannya lagi fuyu yasumi?” Cecar Tia. Fuyu yasumi adalah liburan musim dingin setelah ujian semester.
“Profesor Yamada tadi chat bilang perlu bantuanku besok.” Kana memang menjadi asisten profesor di kampusnya, dan ini sudah semester kedua dia menjadi asisten profesor jurusan Kana yang katanya strict dan galak itu. Ditambah semester depan, berarti akan jadi tiga semester.
“Kan bisa nanti setelah tahun baru, kok besok sih?” Celetuk Affan heran. Kana hanya mengangkat bahu, tanda ia pun tak tahu.