Suasana hening menyelimuti sebuah kamar yang cukup luas. Di sana ada sepasang suami istri yang tengah duduk di depan seorang wanita paruh baya. Mereka berdua tampak saling bergenggam tangan. Saling menguatkan satu sama lain, seperti sebelum mendengar apa yang wanita paruh baya itu ingin katakan. "Jujur saja, membuka masalah lalu yang begitu kelam ini sangatlah menyakitkan. Bahkan rasa sakitnya melebihi dari awal luka tersebut tertoreh. Tapi, apa daya.. Kalian berdua memang harus tahu apa yang terjadi di masa lalu, agar tak menyalahkan aku atas restu yang tak kunjung kuberikan." Iwan dan Sabrina tertegun. Orang yang menyakiti memberi restu. Ayahnya Sabrina. Benar. Pria paruh baya itu yang merestui mereka, sehingga pernikahan berjalan dengan lancar. Sehingga mereka bahagia, dari awal pern

