Tuntutan Sang Pemilik.

1085 Kata
Arini mencoba kembali bekerja, namun setiap kali pintu ruangannya diketuk, ia berjengit ketakutan. Ia merasa aroma mawar itu masih tertinggal, merayap masuk melalui celah pintu, mengingatkannya bahwa sang predator sedang mengawasi dari kejauhan, menanti saat yang tepat untuk menerkam kembali. Ia duduk di kursinya, menatap vas bunga kosong di sudut ruangan, menyadari bahwa mulai hari ini, kehidupannya yang tenang sebagai seorang dokter telah berakhir, digantikan oleh permainan kucing dan tikus yang mematikan dengan seorang konglomerat yang tidak mengenal kata kalah. ​Sepanjang sisa jam prakteknya, Arini merasa seperti sedang diadili. Setiap kali ia keluar ruangan untuk visitasi, ia merasakan tatapan-tatapan aneh dari rekan sejawatnya. Dr. Handoko, senior kardiologi yang biasanya ramah, sempat melemparkan senyum penuh arti sambil berkomentar tentang "penggemar rahasia yang sangat murah hati". Arini hanya bisa membalas dengan senyuman kaku yang dipaksakan, sementara di dalam hati ia ingin sekali berteriak bahwa itu bukan cinta, melainkan obsesi yang menjijikkan. *** ​Aroma mawar merah yang menyesakkan itu seolah-olah telah menempel di dinding-dinding lorong Rumah Sakit, terus menghantui setiap langkah Arini hingga jam prakteknya berakhir. Sinar matahari sore yang mulai meredup, digantikan oleh semburat oranye keunguan di ufuk barat, tidak sedikit pun memberikan ketenangan bagi Arini. Sebaliknya, setiap detak jarum jam terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah konfrontasi yang tak terelakkan. Ia tahu, Elvano bukanlah pria yang akan berhenti hanya dengan mengirimkan ratusan mawar dan kartu ucapan yang ambigu. Mawar-mawar itu hanyalah peringatan, sebuah appetizer sebelum hidangan utama yang sesungguhnya. ​Arini merapikan meja kerjanya dengan gerakan mekanis. Ia meletakkan stetoskopnya ke dalam laci, menutup rekam medis pasien terakhir, dan menatap vas bunga kosong di sudut ruangan. Bayangan buket raksasa di lobi poli jantung tadi kembali terlintas, membuat rasa mual dan jengkel kembali naik ke tenggorokan. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak di depan umum. Seluruh staf rumah sakit kini pasti sedang membicarakannya, berspekulasi tentang hubungan macam apa yang dijalani sang "Ice Queen" dengan konglomerat muda seperti Elvano. Arini mengepalkan tangannya, mencoba meredam amarah yang membakar dadanya. ​"Suster Maya, saya pulang duluan. Tolong pastikan semua dokumen riset untuk besok sudah siap di meja saya," ucap Arini pada Maya yang sedang sibuk merapikan berkas di meja nurse station. ​"Baik, Dok. Hati-hati di jalan," sahut Maya, matanya menatap Arini dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa ingin tahu dan simpati. ​Arini melangkah menuju lift, menghindari lift utama dan memilih lift barang di bagian belakang yang lebih sepi. Ia merasa seperti seorang buronan di rumah sakitnya sendiri. Suara denting lift yang terbuka terdengar sangat keras di telinganya yang berdenging karena ketegangan. Begitu pintu lift tertutup, ia menyandarkan punggungnya di dinding logam yang dingin, memejamkan mata sejenak. Pelariannya di fajar yang dingin tadi pagi terasa sia-sia sekarang. Elvano telah menemukan cara untuk menjangkaunya, menghancurkan ketenangannya, dan menandai wilayahnya dengan cara yang paling mencolok. ​Lift berdenting lagi saat mencapai lantai parkir bawah tanah. Arini melangkah keluar, aroma semen dan bensin menyambutnya. Area parkir itu remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding beton. Suara langkah kaki Arini bergema, menciptakan irama tegang yang beradu dengan detak jantungnya yang semakin liar. Ia mempercepat langkahnya menuju mobil city car putihnya yang terparkir di sudut yang agak tersembunyi. ​Ia sudah memegang kunci mobil, siap untuk menekan tombol unlock, ketika sebuah bayangan tinggi besar muncul dari balik tiang beton tepat di samping mobilnya. Arini tersentak, nyaris berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat ia mengenali sosok itu. Elvano berdiri di sana, bersandar pada pintu mobil Arini dengan gaya yang sangat cool namun mematikan. Ia tidak lagi mengenakan jas navy blue seperti tadi pagi; kini ia hanya memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengan yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. ​"Selamat sore, Dokter Arini," suara Elvano terdengar rendah, berat, dan penuh wibawa yang menyesakkan. Tidak ada senyum di wajahnya yang tampan, hanya ada tatapan mata elang yang dingin dan menuntut. ​Arini mundur selangkah, mencoba menjaga jarak. "Tuan Adiguna ... apa yang Anda lakukan di sini? Ini area parkir staf, Anda tidak seharusnya ada di sini." ​Elvano menegakkan tubuhnya, melangkah mendekati Arini. Setiap langkahnya terasa seperti intimidasi yang nyata bagi Arini. "Aku tidak peduli dengan aturan parkir rumah sakitmu, Arini. Aku di sini untuk mengambil jawaban yang kamu abaikan sepanjang hari." ​"Saya sibuk bekerja. Saya tidak punya waktu untuk permainan Anda," sahut Arini tajam, mencoba bersikap tegas meskipun hatinya bergetar hebat. ​"Permainan?" Elvano menyeringai, sebuah seringai tipis yang tidak mencapai matanya. "Kamu pikir apa yang terjadi semalam adalah permainan, Arini? Setelah apa yang kita lewati ... setelah aku mengklaim kesucianmu ... kamu berani menyebutnya permainan dan melarikan diri seperti pencuri di pagi buta?" ​Wajah Arini memerah padam, antara malu dan marah. Kalimat Elvano terlalu frontal, terlalu telanjang di area parkir yang sunyi ini. "Diam, Elvano! Jangan bicara sembarangan di sini!" ​"Kenapa? Takut ada yang dengar kalau 'Ice Queen' ternyata sangat panas di ranjangku?" Elvano semakin mendekat, hingga Arini bisa mencium aroma sandalwood dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria itu—aroma yang sama dengan yang tertinggal di kulitnya semalam. ​Elvano merenggut tas medis Arini dari tangannya, melemparkannya ke atas kap mobil. Sebelum Arini bisa bereaksi, Elvano mencengkeram kedua pergelangan tangan Arini dengan satu tangan besarnya, menekannya ke dinding beton yang dingin. Tubuh mereka menempel sempurna, tidak menyisakan ruang sedikit pun di antara mereka. Arini bisa merasakan panas tubuh Elvano merambat ke tubuhnya, memicu desiran aneh yang ia benci sekaligus ia inginkan. ​"Lepaskan aku, Elvano! Kamu menyakiti ku!" rintih Arini, mencoba meronta. ​"Kamu jauh lebih menyakitiku dengan pelarianmu itu, Sayang," bisik Elvano di dekat telinga Arini, napas hangatnya menyapu kulit leher Arini yang sensitif, membuat bulu kuduknya meremang. "Kamu pikir kamu bisa memberikan mahkotamu padaku, lalu pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa? Kamu salah besar. Di duniaku, sekali kamu menjadi milikku, kamu akan selamanya menjadi milikku." ​Elvano melepaskan cengkeraman di pergelangan tangan Arini, namun ia langsung mengunci tubuh Arini dengan kedua lengannya yang bertumpu pada dinding, mengurungnya sepenuhnya. Ia menatap Arini dengan intensitas yang sanggup meluluhkan es terkeras sekalipun. Tatapannya turun ke bibir Arini yang sedikit terbuka karena napas yang memburu. ​"Kenapa kamu kabur, Arini? Berikan aku satu alasan yang masuk akal," tuntut Elvano, suaranya kini terdengar lebih rendah, serak karena gairah yang mulai bangkit. ​"Karena ... karena itu kesalahan! Aku tidak seharusnya membiarkan kamu menyentuh ku! Aku terjebak di rumah kamu karena badai, dan kamu memanfaatkan situasi itu!" Arini berteriak, air mata kemarahan mulai menggenang di matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN