Penaklukan di Dapur.

1033 Kata
Sarah bangkit dari tempat tidur dan meraih tangan Arini, menggenggamnya erat. "Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa melakukan ini. Vano bercerita padaku betapa kamu terus menghindarinya di rumah sakit. Dia tampak sangat frustrasi, Arini. Aku belum pernah melihat anakku seputus asa itu hanya karena seorang wanita." ​"Itu bukan urusan saya, Nyonya. Dan jika tujuan Anda mengundang saya ke sini hanya untuk membahas Vano, saya mohon pamit. Saya punya banyak pasien yang benar-benar membutuhkan bantuan medis di rumah sakit," balas Arini tajam, mencoba menarik tangannya. ​"Tunggu dulu, Arini. Aku tidak hanya ingin membahas Vano. Aku ingin kamu tahu bahwa di balik sikapnya yang keras kepala dan posesif, dia benar-benar peduli padamu. Dan aku ... aku sangat menginginkanmu menjadi bagian dari keluarga ini. Aku butuh seseorang yang bisa menjaga Vano, seseorang yang bisa menjinakkan naga itu," Sarah menatap Arini dengan tatapan memohon yang tulus, namun bagi Arini, itu terasa seperti jerat sutra yang mencekik. ​"Saya dokter, Nyonya, bukan pawang hewan," sahut Arini dingin. "Dan setelah apa yang dilakukan anak Anda semalam di area parkir ... saya tidak rasa ada ruang bagi kami untuk bicara secara normal." ​"Apa yang dilakukannya semalam?" mata Sarah berbinar penuh rasa ingin tahu, yang membuat Arini semakin merasa salah tingkah. Arini segera memalingkan wajah, merutuki mulutnya yang baru saja membocorkan sedikit informasi tentang kejadian memalukan itu. ​"Bukan apa-apa. Saya permisi sekarang," Arini menyambar tas medisnya dan berbalik untuk pergi. ​Namun, tepat saat ia mencapai pintu kamar, sosok tinggi besar sudah berdiri di sana, menutupi seluruh jalan keluar. Elvano berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kainnya. Ia tidak lagi memakai kemeja hitam semalam; kali ini ia mengenakan kemeja putih bersih dengan beberapa kancing atas terbuka, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas dan aura maskulin yang mendominasi. Tatapannya langsung terkunci pada Arini, tatapan lapar yang sama dengan semalam, yang membuat kaki Arini seketika terasa lemas. ​"Mau ke mana, Dokter? Pemeriksaannya belum selesai, bukan?" suara Elvano rendah dan penuh dengan provokasi. ​Arini mematung. Ia merasa dikepung oleh dua orang Adiguna ini. Sarah di belakangnya dengan skenario aktingnya, dan Elvano di depannya dengan tuntutan fisiknya yang tak terpuaskan. Arini menyadari bahwa ia baru saja masuk kembali ke dalam sarang predator, dan kali ini, gerbang mansion mungkin tidak akan terbuka semudah itu untuk pelariannya. ​"Ibumu baik-baik saja, Elvano. Dia hanya ... merasa bosan," ucap Arini tanpa menatap mata Elvano, mencoba melewati pria itu dengan cara menyamping. ​Namun, Elvano tidak bergemerincing. Ia tetap berdiri kokoh seperti tembok baja. "Mama memang baik-baik saja sekarang karena kamu sudah di sini. Tapi aku? Aku sedang tidak baik-baik saja, Arini. Ada sesuatu yang tertinggal di mobilmu semalam, dan aku ingin mengambilnya kembali." ​Arini mendongak, menatap mata Elvano dengan amarah yang berkilat. "Tidak ada yang tertinggal di sana kecuali rasa muak ku pada mu! Minggir, Elvano!" ​Elvano hanya menyeringai, sebuah seringai yang menandakan bahwa permainan baru saja dimulai. Ia melirik ibunya yang sedang menonton dari atas ranjang dengan senyum lebar, seolah-olah ini adalah tontonan teater terbaik tahun ini. Arini sadar, di mansion ini, ia tidak hanya berhadapan dengan satu predator, melainkan seluruh sistem yang dirancang untuk menjebaknya dalam sebuah takdir yang ia sendiri belum siap untuk terima. ​"Ma, kurasa Dokter Arini perlu memeriksa tekanan darahku juga. Jantungku berdetak sangat tidak beraturan sejak dia masuk ke ruangan ini," ucap Elvano dengan nada menggoda yang sangat menjijikkan bagi Arini namun sangat menghibur bagi Sarah. ​Arini mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia terjebak. Ia terjebak di antara kewajiban medis yang dimanipulasi dan gairah yang terus diburu. Dan di mansion mewah yang sunyi ini, ia tahu bahwa jeritan penolakannya hanya akan menjadi musik yang merdu bagi telinga seorang Elvano Adiguna. *** ​Suasana di kamar Nyonya Sarah masih terasa menyesakkan, namun tekanan yang dirasakan Arini di sana tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang menantinya di koridor lantai bawah. Setelah dipaksa melakukan pemeriksaan ulang yang sia-sia di bawah tatapan lapar Elvano yang tidak pernah beralih dari garis tubuhnya, Arini akhirnya berhasil melepaskan diri dari kamari itu. Namun, harapannya untuk segera mencapai pintu keluar dan menghirup udara bebas seketika pupus. Baru saja kakinya menapak di anak tangga terakhir, sebuah tangan besar dengan cengkeraman yang sangat kuat namun presisi menyambar pergelangan tangannya. ​"Lepas, Elvano! Aku harus kembali ke rumah sakit!" desis Arini, suaranya tertahan, takut jika pelayan atau Nyonya Sarah mendengar keributan mereka. ​Elvano tidak menjawab dengan kata-kata. Wajahnya yang kaku dan rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa ia sedang tidak ingin bernegosiasi. Dengan satu tarikan yang dominan, ia menyeret Arini menjauh dari lobi utama, menuju ke arah sayap kanan mansion yang merupakan area dapur dan ruang makan pribadi. Arini mencoba meronta, namun tenaga pria itu seperti baja. Ia merasa tubuhnya seolah melayang mengikuti langkah lebar Elvano yang tidak mempedulikan protesnya. ​"Elvano! Ini gila! Apa yang kamu lakukan?" rintih Arini saat mereka melewati lorong yang sepi. ​Suara denting piring dan percakapan samar para pelayan terdengar dari arah ruang depan—mereka sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan siang untuk tamu kolega Nyonya Sarah. Elvano memanfaatkan momen kesibukan itu. Ia mendorong pintu ganda dapur yang luas itu, memastikan area pantry belakang sedang kosong karena para koki sedang fokus di area kompor depan. Tanpa peringatan, Elvano menarik Arini hingga punggungnya menghantam pinggiran meja pantry yang terbuat dari marmer hitam yang dingin. ​"Kamu pikir kamu bisa datang ke sini, memikat ibuku, lalu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan urusanmu denganku, Arini?" suara Elvano rendah, serak oleh gairah yang sudah ia tahan sejak melihat Arini turun dari mobilnya pagi tadi. ​"Aku datang karena ibumu mengeluh sesak napas! Itu tugas medis, bukan urusan pribadi!" Arini mencoba mendorong d**a bidang Elvano, namun kedua tangannya justru dikunci di atas meja marmer oleh tangan besar pria itu. ​Elvano merangsek maju, mengunci tubuh mungil Arini di antara meja dan tubuh tegapnya. Aroma maskulin yang dominan bercampur dengan bau kopi mahal dari napas Elvano seketika menyerbu indra penciuman Arini, melumpuhkan sisa-sisa logikanya. Mata gelap Elvano menatap tajam ke arah bibir Arini yang memerah karena amarah dan napas yang memburu. ​"Kamu tahu benar bahwa setiap kali kamu berada di dekatku, tidak ada yang namanya urusan medis. Hanya ada aku dan kamu, dan fakta bahwa kamu adalah milikku," geram Elvano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN