(++) Buka Segel.

986 Kata
​Tangan Elvano merayap turun, menyelinap di antara paha Arini yang masih rapat. Saat jari-jarinya menyentuh area inti Arini yang sudah sangat lembap, Arini tersentak, pinggulnya refleks terangkat tinggi. "Ssshhh ... Vano ... apa yang ... Ahhh!" Arini mendesah pendek saat Elvano dengan paksa namun lembut membuka lebar kedua pahanya, memposisikan dirinya di antara kaki jenjang sang dokter. ​Elvano tidak menjawab. Matanya yang gelap karena gairah menatap lekat pada keindahan yang selama ini tersembunyi. Tanpa peringatan, ia menenggelamkan wajahnya di sana, menghirup aroma kewanitaan Arini yang murni. "Elvano! Hhh ... Ahhh ... jangan ... ssshhh ... itu kotor ... Ahhh!" Arini memekik, tangannya mencoba mendorong bahu Elvano, namun tenaganya seolah menguap saat ia merasakan indra pengecap Elvano mulai bekerja dengan mahir di atas area yang sudah sangat basah itu. ​Elvano menggunakan lidahnya dengan ritme yang menggila, memberikan hisapan-hisapan kuat pada titik paling sensitif Arini yang membuat tubuh sang dokter mengejang seketika. Punggung Arini melengkung ke atas, menjauhi sprei sutra. "Ahhh! Ohhh ... El ... Elvano! Eughhh ... ssshhh ... mmmm ... Ahhh!" Arini mengerang keras, kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri seiring dengan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. "M-masuk ... kumohon masuk ... aku tidak kuat lagi ... Ahhh!" ​Elvano mendongak sebentar, bibirnya basah oleh cairan Arini yang manis. Ia menyeringai puas melihat Arini yang sudah benar-benar hancur dalam gairah, kehilangan martabat "Ice Queen" yang selama ini ia banggakan. "Belum, Sayang. Aku ingin kamu benar-benar siap untukku," gumam Elvano sebelum kembali menenggelamkan wajahnya, kali ini lebih dalam dan lebih rakus. Arini sesekali mengejang hebat, kakinya mencengkeram bahu Elvano, jemari kakinya menekuk saking kuatnya sensasi yang ia terima. ​Setelah membuat Arini hampir kehilangan kesadaran karena kenikmatan yang bertubi-tubi, Elvano akhirnya bangkit. Kembali mencium Arini, indra pengecap mereka saling bertautan di dalam. Dan Elvano menarik tangan Arini, diletakan pada 'Adik' kecilnya yang sudah membesar dan keras. Mata Arini membelalak di tengah ciuman itu karena tidak menyangka memegang benda tumpul itu secara nyata dengan ukuran yang diluar standar Indonesia itu. Arini meremas lembut, hingga membuat erangan kecil Elvano di tengah ciuman mereka. Elvano tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dia melepaskan celana tidurnya, memperlihatkan kejantanannya yang sudah menegang sempurna. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Arini yang terbuka lebar. Ia menatap wajah Arini yang memerah dengan mata yang sayu karena gairah. ​"Aku akan masuk, Arini," bisik Elvano dalam. ​"Eughhh ... hhh ... lakukan ... hhh ... aku ... ahhh!" Ia memposisikan miliknya di depan Arini yang napasnya tersengal-sengal dengan tatapan lapar. Ia mulai mendorong miliknya masuk. Saat Elvano mendorong masuk dengan satu sentakan yang dalam, ia merasakan sebuah hambatan yang nyata. Arini memekik keras, air mata menetes di sudut matanya, dan jemarinya mencengkeram lengan Elvano hingga memerah. ​"AKHHH! SAKIT! SSSHHH ... HHH ... TUNGGU!" ​Arini memekik histeris, tubuhnya menegang hebat seolah-olah dipaku ke ranjang. Air mata spontan jatuh dari sudut matanya saat ia merasakan sesuatu yang besar merobek penghalang terakhirnya. Elvano membeku di tempat. Ia merasakan hambatan yang sangat kuat, sebuah jalan yang masih utuh dan sangat rapat, yang seolah-olah menolak kehadirannya karena belum pernah tersentuh sebelumnya. ​Elvano melirik ke bawah, melihat noda merah darah segar yang mulai merembes dan mengotori sprei putih sutranya. Matanya membelalak lebar, napasnya seolah-olah berhenti berputar di paru-parunya. ​"Ssshhh ... sakit ... ahhh ... Van ... sakit ... hhh ...," tangis Arini tertahan. ​Elvano terdiam sejenak, matanya melebar saat melihat bercak darah merah segar di atas sprei putih yang bersih. Jantungnya berdegup kencang bukan karena gairah, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. "Kamu ... kamu masih ...?" ​"Ahhh ... hhh ... perih ... ssshhh ...." Arini membenamkan wajahnya di leher Elvano, tubuhnya menegang hebat. ​Elvano tertegun. Di balik sikap kaku dan masa lalu pahit dengan Dimas, ternyata Arini belum pernah menyerahkan mahkotanya pada siapa pun. Rasa posesif yang gila seketika memenuhi rongga d**a Elvano. Ia menciumi kening Arini dengan lembut, mencoba menenangkan wanita itu. ​"Maafkan aku, Sayang ... ssshhh ... aku tidak tahu. Aku akan pelan-pelan," bisik Elvano, suaranya kini berubah menjadi sangat lembut dan protektif. ​Elvano mulai bergerak dengan perlahan, memberikan waktu bagi tubuh Arini untuk beradaptasi dengan ukurannya yang besar. Arini mulai merasakan rasa sakit itu berganti menjadi denyutan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. ​"Ahhh ... hhh ... Ohhh ... Van ... hhh ... hhmm ... enak ... ahhh ...," rintihan Arini mulai berubah nada, menjadi lebih berirama mengikuti gerakan pinggul Elvano. ​"Eughhh ... ssshhh ... ketat sekali ... Arini ... kamu ... ahhh ... membunuhku ... hhh ...," erang Elvano saat ia mulai mempercepat tempo gerakannya. ​Suara gesekan kulit dan desahan napas yang memburu memenuhi kamar itu, bersaing dengan suara guruh di luar. Elvano memegang kedua tangan Arini di atas kepalanya, mengunci wanita itu dalam ritme yang semakin intens dan dalam. ​"Ahhh ... ahhh ... ahhh ... Vano ... aku ... hhh ... tidak kuat ... ahhh!" Arini mencapai puncaknya pertama kali, tubuhnya bergetar hebat dalam kontraksi o*****e yang panjang. ​Elvano meraung rendah, ia memberikan beberapa dorongan terakhir yang sangat kuat sebelum akhirnya menyemburkan seluruh benihnya jauh ke dalam rahim Arini. "Eughhh ... hhh ... Arini ... ahhh ... hhh ...." ​Mereka berdua terkapar dengan napas yang terengah-engah, peluh membasahi tubuh mereka yang masih menyatu. Elvano menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu memeluk Arini dengan sangat erat, seolah-olah takut wanita itu akan menghilang. ​"Kamu milikku sekarang, Arini. Selamanya. Tidak akan ada pria lain yang menyentuhmu seperti ini," bisik Elvano sembari mengecup bahu Arini yang masih bergetar. ​Arini hanya bisa terdiam dalam pelukan sang tiran, menyadari bahwa mulai malam ini, dinding es yang ia bangun selama bertahun-tahun telah hancur sepenuhnya, menyisakan dirinya yang kini terikat secara jiwa dan raga pada pria yang paling ia takuti sekaligus ia cintai dalam diam. Bukti kesucian di atas sprei itu menjadi saksi bisu bahwa malam ini adalah titik balik yang tidak akan pernah bisa ia tarik kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN