Wajah Aksara memerah. Terlihat matanya berkaca saat merapihkan dokumen pribadi Mama dan memotretnya melalui gawai yang dibawanya. Aksara meraih kembali foto buram dirinya waktu kecil dengan seorang perempuan cantik yang memeluknya di samping Papa. Matanya semakin mengembun. Lama tatapannya, lekat di wajah perempuan dalam potret di genggamannya. Ada bias rindu yang terasa menggelora. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Aksara merasa dicintai dan disayangi oleh perempuan yang bernama Ibu. Tatapan seorang ibu, pelukan seorang yang mencintai dengan sepenuh jiwa, kehangatan yang ia rindukan terpatri jelas di wajah perempuan yang tengah memeluk sosok kecilnya, meski dalam bingkai yang sunyi. Diciumnya berkali-kali potret buram itu. Membawanya dalam dekapan dengan wajah yang mulai meneteskan

