Mata Hellena memanas, dia tidak tahu entah harus sedih atau marah atas kejadian yang menimpa Aksara suaminya. Aksara hanya manusia biasa, dan bukan malaikat. Adakakanya dia jatuh atau khilaf meski dengan alasan yang berbeda. Dengan tangan lunglai, Hellena membelai wajah suaminya yang kusut dan letih. Meneliti tanda merah didada Aksara dengan mata berkaca dan hati terluka. Perlahan Hellena merengkuh kepala Aksara dalam pelukannya, mendekapnya erat dalam tangisan yang ditahan. "Sayang, aku tahu ini sulit bagi kita," gumam Hellena. "Aku tahu ini juga tak mudah bagi dirimu apalagi bagi diriku." Hellena melanjutkan kalimatnya bibirnya bergetar menahan gerimit yang terasa kian sakit. "Setelah malam itu aku yakin, Citra tidak akan mudah melepaskanmu. Dia akan memakai banyak cara untuk ter

