Setelah menyampaikan pesan Mama, gegas Nafisah ke luar. Meski dia selama ini telah mempersiapkan diri untuk hal sepahit apapun tapi melihat kenyataan Citra dan suaminya begitu akrab, tak urung dadanya terasa sakit melihat Bisma menunggui Citra dengan Setia. Hal yang tak pernah laki-laki itu lakukan terhadap dirinya. Bahkan ketika Hanifa Putri mereka lahir, Bisma tak ada di sisinya dan lebih mementingkan urusan karirnya jauh di luar sana. Saat melintasi koridor rumah sakit yang sepi, terasa ada yang hangat di pipi Nafisah, perlahan Nafisah menyekanya. Bagaimanapun dia hanya wanita, Sekuat apapun dia berusaha Tegar, tetap saja ada luka yang menganga dan berdarah, melihat Imam dalam hidupnya lebih mementingkan perempuan lain ketimbang dirinya. Pepohonan di sekitar rumah sakit bergerak ter

