Mata Hanifa tak urung basah, saat menyadari Bisma sudah tidak ada lagi dalam pandangannya. Dalam hidupnya bisa dihitung dengan jari bisma memeluk Hanifah, tapi bagaimanapun darah yang mengalir dalam tubuh Hanifa tetaplah kental. Tak ayal kehilangan laki-laki yang bergelar Ayah itu membuat dirinya terdiam. Hanifah terpaku, menatap mobil yang dikendarai Bisma sampai hilang dari pandangannya. Nafisah cepat menyongsong tubuh Hanifa dan menggendongnya ke dalam. Mata Nafisah basah melihat ekspresi wajah Hanifa saat lambaikan tangan pada Bisma. Maafkan Mama Hanifa, bukan bermaksud memisahkan dirimu dengan papa. Tapi apa yang Papamu lakukan dengan perempuan itu sudah tidak bisa dimaafkan. Mama rela berbagi tapi mama tidak mau dikhianati, mereka bermain cinta di belakang Mama tanpa ikatan. Ka

