Senyum kecut Citra masih belum menghilang. d**a perempuan itu sungguh diliputi amarah dan bara permusuhan. Sejak kapan aku kalah? Dilihatnya Aksara dengan buncah cemburu yang merajalela. Ditatapnya mata coklat Aksara yang tengah menatap ke arah dirinya dan Hellena. Tuhaaannnn... Seandainya wajah dan tatapan itu buatku. Batin Citra. Seandainya di ruangan ini hanya ada aku dan dirimu tanpa ada si perempuan songong yang kampungan ini. Aarrgh. "Istrimu tak berkelas, Mas." "Perempuan murahan." "Cewek ganjen yang kebetulan dapat Pangeran." "Lihat bahkan alisnya polos dan tidak berukir dengan wajah tanpa make up. Menyedihkan." "Laki-laki bodoh. Hhh...." Citra mengumpat panjang pendek. Dalam hati. Faktanya Hellena tengah tersenyum ke arahnya tanpa beban. "Mau dilanjutkan pembicaraan

