Chapter 12

1978 Kata
"Jadi, kapan kalian jadian?" tanya Kaila seraya menatap bergantian Kara dan Redy yang duduk di sebrangnya. Redy melirik Kara sekilas lalu berdeham. "Dua hari yang lalu." "Oh..." Kaila bergumam kecil lalu memasukan makanannya ke dalam mulut. Dua hari yang lalu berarti hari dimana Redy mengajaknya bertemu di rest area. Tanpa sadar, Kaila tersenyum masam. Terjadi hening cukup lama sebelum akhirnya Redy angkat suara. "Yo, gimana di sekolah? Udah lama kita enggak main bareng lagi," ujar Redy sambil tertawa garing. Cowok itu berusaha sebisa mungkin mencairkan suasana yang terasa canggung. Entah kenapa, Redy merasa asing sendiri dengan Zio. Mungkin karena efek mereka berdua jarang berkomunikasi, mengingat keduanya kini berada di sekolah yang berbeda. Zio tertawa kecil. "Baik. Ah, iya, ya? Gue kangen kita nonton bola bareng. Lo sendiri gimana, Re?" Kara diam-diam tersenyum senang. Entah kenapa, melihat Zio tertawa dari jarak sedekat ini bisa membuat hatinya berbunga-bunga. "Gue... baik," jawab Redy sambil tersenyum kecil. Setelahnya, tak ada lagi yang bersuara. Suasana kembali hening seperti sebelumnya. Kaila memerhatikan sekitar. Tampak Zio sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Berbeda dari Zio yang terlihat tenang, Redy justru terlihat sedikit gusar. Berkali-kali cowok itu menyendok makanannya namun tak kunjung ia makan. Redy menatap kosong piring di hadapannya. Kemudian, tatapan Kaila beralih pada Kara. Cewek itu tampak berulang kali mencuri pandang ke arah Zio. Kaila memberengut tak suka. Entah kenapa, dari awal ia bertemu dengan Kara tadi, Kaila merasa sangat sulit untuk sekedar tersenyum ke arah cewek itu. "Ada yang mau lo omongin ke Zio?" tanya Kaila langsung. "Dari tadi lo ngelirik dia mulu." Sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan untuknya, Kara kontan gelagapan sendiri. Kini seluruh pasang mata menatap Kara penuh tanda tanya, termasuk Zio. Dengan cengiran khasnya, Kara menggeleng cepat. "Eng--nggak, kok! Aku cuma baru sadar kalau Kak Zio itu senior aku di sekolah," balas Kara sembari cengengesan. Duh, mati! "Senior?" Kaila menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Zio. "Beneran, Yo?" Terdapat kerutan samar di dahi Zio. Ia mengamati Kara sejenak, mencoba mengingat apakah ia pernah melihat Kara barang sekali saja di sekolah. Namun nyatanya, cowok itu tak mengingat apapun. Zio terpaksa mengangguk dan tersenyum. "Iya, gue sering liat dia di sekolah," katanya bohong. Kara kontan menatap Zio dengan mata berbinar. Demi apa Kak Zio sering liat gue? Batin Kara girang. Cewek itu mendadak ge-er sendiri, mengira kalau Zio ternyata suka memerhatikannya diam-diam di sekolah. "Kakak masih inget aku? Yang ngasih botol minum pas latihan basket waktu itu loh!" Zio tampak berpikir sebentar lalu tertawa geli. "Yang kepentok ring itu, ya?" Senyum sumringah yang tercetak di bibir Kara mendadak pudar. Cewek itu mendengus sebal. "Kenapa Kakak masih inget aja, sih?" Zio terbahak. "Lagian, udah tau ada ring, masih aja ditabrak." "Aku 'kan enggak tau kalau ada ring disana! Kalau ada juga, enggak mungkin aku tabrak kali, Kak." "Masa sih? Ring segitu gedenya gak bisa lo liat?" "Bukan enggak bisa! Kebetulan lagi gak liat aja." "Masih sakit? Memar, enggak?" "Memar sih enggak, benjol iya! Makin jenong deh, nih jidat." Kaila tersenyum penuh arti melihat keakraban yang tercipta diantara Zio dan Kara. Detik berikutnya, cewek itu langsung melemparkan pandangannya ke arah Redy. Kaila bisa melihat dengan jelas kalau Redy sama sekali tak terlihat terganggu ketika Kara terlibat obrolan seru dengan Zio. "Redy," panggil Kaila, sepenuhnya membiarkan Zio dan Kara asik mengobrol. Redy mendongak. "Hmm?" "Pulang sekolah besok, bisa ajarin gue matematika dulu, nggak? Lusa nanti kelas gue ada ulhar matematika," kata Kaila sambil tersenyum manis dan menatap Redy penuh harap. Redy terdiam sebentar lalu mengangguk. "Bisa." • • • "Huaaaah... gue jamin malem ini gue bakalan mimpi indah!" Kara berseru senang sambil telentang di karpet berbulu yang ada di ruang TV. Setelah pulang dari acara makan-makan, bukannya cepat-cepat ganti baju, Kara malah ber-euforia mengingat obrolan serunya dengan Zio di restoran tadi. Redy melempar asal jas yang tadi di pakainya lalu mengenyakkan tubuh di sofa. "Apaan tuh tadi, Kak Zio main basketnya keren banget, deh," cibir cowok itu sambil menirukan gaya bicara Kara. "Emang keren, kok!" Kara membela diri. "Lo enggak pernah liat dia main basket sih." "Gue tiga tahun liat dia main basket," kilah Redy. "Dari SMP dia emang anak basket. Tapi skill-nya biasa aja tuh." "Kayak yang elo bisa main basket aja sih!" Kara mendelik jutek ke arah Redy. "Gue pernah one on one sama dia," kata Redy bangga. "Serius?" Kara langsung telungkup dan menatap Redy penasaran. "Lo menang, nggak?" "Nggak." Kara nyaris melempar Redy dengan frame foto yang ada di dekatnya begitu mendengar jawaban cowok itu. Songong banget pake acara bilang skill basket Zio biasa aja! Padahal dia sendiri kalah sewaktu melawan Zio. Tanpa sadar, Kara mendumel sendiri. Menit-menit selanjutnya kemudian diisi dengan keheningan. Baik Kara ataupun Redy, keduanya sama sekali tak merasa canggung dengan keheningan yang mengisi suasana malam itu. Mereka berdua terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Kara membuka suara lebih dulu. "Redy." "Hmm?" "Putus, yuk?" "Hah?!" Redy langsung terlonjak kaget dan menatap Kara tajam. "Lo bilang apa?" "Putus," ulang Kara dengan wajah polosnya. "Kita putus, yuk?" "Kenapa lo minta putus?" Kara menampilkan cengiran lebarnya. "Biar gue bisa jadian sama Kak Zio," katanya santai. Redy mendengus keras dan mencibir. "Baru juga kenalan." "Ya, gak apa-apa. Justru kalau udah kenalan, gue 'kan jadi gampang pedekatenya, hehehe." "Kalau dia mau." Redy menyeringai mengejek. "Kalau, enggak?" Kara cemberut. "Jangan buat gue pesimis gitu deh." "Udahlah, kalau lo mau ngejar Zio 'kan nggak berarti kita harus putus. Lo masih bisa ngedeketin dia sementara kita pacaran. Jadinya, gue berusaha dapetin Kaila, dan elo berusaha dapetin Zio." Kara tampak berpikir sebentar. "Iya sih..." gumamnya. Redy menjentikan jarinya puas. "Bener 'kan? Ide gue bagus, nggak?" tanya cowok itu dengan kedua alis naik-turun. "Biasa aja tuh!" Kara meleletkan lidahnya. Redy kontan melempari cewek itu dengan bantal sofa lalu tertawa. Untungnya, Kara cepat tanggap dan langsung menghindar dengan cekatan. "Anak basket, nih! Daya refleks gue bagus," kata Kara songong. Redy tertawa geli. "Anak basket darimana? Lay up aja lo enggak bisa." Kara melotot. "Minta dilempar pake frame foto, ya?" "Aku maunya dilempar hati kamu," ujar Redy sambil tersenyum menggoda. Cowok itu refleks tertawa geli begitu melihat semburat merah mulai muncul di kedua pipi Kara. "Udah, ah, gue mau ganti baju. Enggak enak kelamaan pake dress kayak gini." Kara bangkit lalu berjalan dengan terburu-buru ke kamarnya. Redy langsung terbahak melihat Kara yang mendadak jadi salah tingkah hanya karena ucapannya. Sejurus kemudian, cowok itu mengecek notifications dalam ponselnya dengan sisa-sisa tawa yang ada sambil membetulkan posisi rebahanya. Dora bisa salting juga ternyata, batin Redy geli. • • • Tok Tok Tok Seorang wanita paruh baya berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju ruang tamu lalu membukakan pintu. Wajahnya langsung berseri-seri begitu melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu rumahnya. "Redy! Udah lama banget Tante nggak lihat kamu!" seru wanita itu sambil mengacak rambut Redy sayang. Redy tersenyum lebar lalu mencium tangan wanita itu. "Siang, Tante. Iya, Redy sibuk sama sekolah, nih. Jadinya udah jarang kesini buat main." "Mentang-mentang udah SMA gitu ya, kalian jadi sibuk. Saking sibuknya, Zio sampai-sampai sakit." Wanita paruh baya itu tersenyum masam. Namun detik berikutnya, wajahnya kembali ceria. "Ayo, masuk! Kamu mau jenguk Zio 'kan? Kamu langsung ke atas aja, udah ada Kaila juga disana." Setelah tersenyum sopan, Redy pun melangkah masuk lalu menaiki tangga menuju ke kamar Zio. Senyum di wajah Redy mengembang. Ia benar-benar kangen dengan Zio, sahabatnya itu. Semenjak mereka menduduki bangku SMA, waktu bermain Redy dengan Zio jadi berkurang. Apalagi mengingat keduanya pisah sekolah. Redy sudah membuka mulutnya lebar-lebar, berniat untuk menyapa sahabat dan pacarnya itu. Namun dengan cepat, mulutnya langsung terkatup rapat begitu mendengar obrolan serius dari dalam. "Bukan cuma perasaan gue doang, tau! Lo emang menghindar. Kenapa sih? Kok lo tiba-tiba menghindar?" Itu suara Kaila, batin Redy. Terdengar helaan napas panjang sebelum akhirnya suara berat khas seorang cowok yang dikenalnya masuk ke telinga Redy. "Lo sadar gue menghindar? Tapi kenapa lo nggak pernah sadar sama perasaan gue sih, Kai?" Badan Redy tiba-tiba menegang. Entah kenapa, firasatnya berubah jadi buruk. "Gue enggak ngerti. Perasaan apaan deh?" Zio tertawa hambar. "Gue harus ngomong secara frontal, ya?" "Ap--" "Gue suka lo, Kai," jeda sesaat. "Gue suka lo." Deg. Jantung Redy seakan berhenti berdetak selama satu detik. Pikirannya menyuruh untuk cepat-cepat pergi, namun kakinya tetap bergeming. Redy membeku di tempat. "Apa sih lo, Yo? Lo 'kan tau sendiri gue udah pacaran sama Redy. Gak jelas, deh." Kaila tertawa garing. "Gue tau. Sampai kapanpun perasaan lo cuma buat Redy. Sekalipun lo enggak pernah ngeliat gue." Lagi-lagi Kaila kembali tertawa garing. "Enggak pernah ngeliat gimana? Gue selalu ngeliat lo, kok. Lo 'kan sahabat gue. Lagipula mana ada sejarahnya sahabat jadi cinta? Sahabat ya sahabat, cinta ya cinta." "Apa dulunya Redy bukan sahabat lo?" Zio berkata dengan suara lembut namun sarat akan perasaan terluka. Kaila bungkam. "Kenapa Redy bisa sedangkan gue enggak, Kai? Kenapa Redy bisa berubah jadi cowok lo sedangkan gue enggak?" "Lo beneran lagi sakit, ya?" "Gue yang udah lama kenal lo, Kai. Gue kenal lo dari umur tiga tahun, dari kita TK. Sedangkan Redy? Kita bahkan baru kenal dia pas kelas tujuh dulu! Tapi kenapa lo lebih bisa nerima Redy ketimbang gue, Kai?" Redy bisa merasakan badannya sedikit bergetar. Rasa marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Kenapa Zio nggak pernah bilang itu sebelumnya? Kenapa Zio nggak pernah sekalipun cerita ke Redy kalau ia juga menyukai Kaila? "Lo enggak tau gimana sakitnya perasaan gue sewaktu lo cerita kalau ternyata lo naksir Redy. Dan lo juga enggak tau gimana hancurnya perasaan gue sewaktu ngeliat lo jadian sama dia. Lo enggak tau, Kai. Sampai kapanpun lo nggak akan pernah tau kalau bukan karena gue yang ngomong saat ini." Ada hening sesaat sebelum akhirnya suara serak dan parau Kaila terdengar. "Jadi, itu alasan lo ngehindarin gue? Itu juga alasan kenapa lo milih buat enggak satu SMA sama gue dan Redy? Karena lo marah? Lo marah sama gue karena gue nggak bisa bales perasaan lo? Gitu?" "Bukan itu." Zio berkata pelan dan lembut supaya tangis Kaila tak pecah. "Gini-gini gue itu cowok, Kai. Gue jealous ngeliat lo sama Redy. Entar, kalau gue tiba-tiba kalap dan nekat misahin kalian, gimana? Gue yakin lo pasti bakalan sedih sekaligus kecewa. Makanya, gue sengaja pisah sekolah sama kalian." Redy langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat sewaktu mendengar suara isakan tertahan dari bibir Kaila. Sebisa mungkin, ia meredam emosinya yang semakin menjadi-jadi. "Tapi, ini bukan berarti gue sepenuhnya menutup pintu buat kalian. Lo ataupun Redy masih bisa dateng ke gue kalau kalian butuh. Gue bakalan selalu ada disini, kok," kata Zio dengan suara cerianya. "Udah, jangan nangis. Niat lo kesini 'kan bukan buat nangis. Lagian enggak enak kalau nantinya tiba-tiba ada Redy. Entar gue disangka ngapa-ngapain ceweknya lagi." "Tapi ... kenapa lo ... baru bilang ... sekarang ... sih?" ucap Kaila terisak. Cewek itu susah payah menahan tangisnya. "Sshhh! Nggak usah dibahas lagi. Gue nggak mau Redy tiba-tiba ngedenger obrolan kita." Mendengar ucapan Zio barusan, Redy refleks tersenyum kecut. Karena nyatanya, cowok itu telah mendengar semuanya. Semua yang perlu ia ketahui. "Udah, ya? Jangan nangis. Gue kangen kalian, nih. Redy kapan dateng?" "Sebentar, gue ... mau nelpon ... dia ... dulu." Sebelum Kaila sempat menelpon Redy, cowok itu telah lebih dulu membuka pintu kamar Zio lebar-lebar. Redy nggak mungkin membiarkan Kaila menelponnya. Karena dengan begitu, ia malah akan tertangkap basah sedang menguping. "Yo, apa kabar, Yo? Tumben lo sakit," kata Redy santai dengan senyum lebarnya. Bisa ia lihat Zio tengah berbaring di kasur dengan Kaila yang duduk di tepi kasurnya. Melihat sahabatnya itu datang, Zio kontan tersenyum sumringah. "Lo 'kan bisa liat sendiri gue lagi sakit. Pake nanya kabar segala." Redy cuma bisa memaksakan tawa walau kini perasaannya terasa perih. Perih karena melihat Zio masih bisa tersenyum padanya. Perih karena Zio masih bisa bersikap biasa saja. Dan perih karena Zio masih saja berpura-pura. Sesaat, Redy bisa melihat Kaila tengah mengusap kasar jejak air matanya di pipi. Cowok itu berpura-pura tidak tahu lalu menyapa Kaila. "Hey! Udah lama disini?" "Enggak, kok. Baru aja dateng," jawab Kaila dipaksakan ceria. Redy refleks tersenyum masam. Perih karena Kaila pun membohonginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN