Windy masih tertunduk di ruang makan itu, sementara Putra mulai mendekatinya. “Pintar mengadu kau sekarang, ya ....” bisik Putra tepat di depan daun telinga Windy. Hal tersebut membuat Windy meremang dan ketakutan. “Aku mau membawa anak-anakku pulang.” Windy berusaha mengumpulkan keberaniannya, wanita itu segera bangkit dari duduknya. Namun Putra dengan cepat menyambar pergelangan tangan Windy. Memasukkan wanita itu dalam dekapannya. Netranya menatap tajam netra windy sementara tangannya yang lain menggenggam rahang wanita itu dengan kuat. “Mau pulang kemana, ha? Bukankah ini rumahmu,” ucap Putra pelan tapi kasar. “Bukan, aku tidak berhak di sini. Ini rumahmu, bukan rumahku. Lagi pula, bukan’kah kau tidak pernah menginginkanku selama ini? mengapa kini kau malah menjebakku? Ha?” Ketus

