BAB 46 – Masih Terasa Sakit

1153 Kata

Malam ini, langit bumi andalas begitu indah. Bulan purnama bersinar begitu terang. Cahaya terang itu masuk lewat jendela kaca rumah Irfan yang tirainya belum di lepas sama sekali. Di rumah itu, Irfan seorang diri. sepi, itu adalah temannya sehari-hari. Dua minggu sudah pria itu resmi menduda. Bahkan sebelum resmi menduda pun, Irfan sudah terbiasa hidup seorang diri. Pria itu kemudian bangkit dan berjalan ke arah jendela. Ia melepas kain pengikat tirai sehingga tirai itu menutupi jendela secara sempurna. Irfan kembali ke atas ranjang, mencoba memejamkan mata, namun tidak bisa. Netranya menolak untuk terpejam. Pikirannya menerawang. Pria itu merindukan Kenzo—putranya—dan juga Windy—wanita yang sudah mencuri hatinya. Irfan kembali bangkit, matanya sulit terpejam. Pria itu mengambil kunci

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN