Windy berusaha mengumpulkan tenaganya. Wanita itu benar-benar ketakutan. Putra semakin mendekat, kini hanya berjarak lebih kurang tiga puluh senti dari dirinya. “Kenapa? Kenapa kamu terlihat sangat takut terhadapku?” Putra semakin mendekat, menarik lengan Windy hingga tubuh wanita itu masuk ke dalam dekapan Putra. “Ma—maafkan aku ... a—aku hanya tidak ingin ....” Windy tidak mampu melanjutkan perkataannya. “Tidak ingin apa?” Windy menggeleng, “Bukankah kau adalah istriku, sudah sepatutnya kau menemani dan melayaniku.” “I—iya bang.” Windy berkali-kali menelan salivanya. Tubuhnya sedikit bergetar. Putra memang tidak atau mungkin belum menyakitinya, tapi Windy sudah resah. “Aku ingin kita mandi bersama.” Windy terperanjat dengan apa yang barusan didengarnya. Ia tidak percaya. Mandi bers

