"Sayang sekali, itu sudah menjadi sifatku sejak terlahir menjadi peri. Dan rupanya masih terbawa sampai aku menjadi manusia!" Milena mengecilkan suaranya, ia melirik ke arah pintu, rupanya David dan pamannya berdebat mengenai suatu hal, seperti biasa, mereka berdua berbicara sejauh mungkin agar dirinya tak mendengar percakapan itu. "Bagus. Kalau begitu permainan ini akan semakin menarik." Ia menegakkan kepala, mengedip nakal. "Hentikan tindakan bodohmu itu!" bentaknya dalam suara nyaris tak terdengar. "Maaf, kau bilang apa?" Max pura-pura tuli, tangan kanannya berada di balik daun telinganya. "Keluar!" Milena mengerang sebal. "Apa kau tahu?" Ia mendekat, tubuhnya dicondongkan, "Itu juga adalah ciuman pertamaku. Kurasa diantara kita sudah terjalin sesuatu yang istimewa, huh? Tampaknya

