Cita-Cita dan Cinta

1706 Kata
Tak hanya para siswa di kelasnya, bahkan guru yang mengajar pun tampak sering memperhatikan Manda dari biasanya. Sejak kelas satu, dia selalu duduk di ujung paling belakang bagian kelas. Hanya dia sendiri yang ada di sana. Tidak ada siswa yang bahkan mau duduk sebaris dengannya. Dia tidak pernah unjuk tangan saat guru bertanya, pun tidak pernah tampil mencolok di depan kelas. Meski punya ranking bagus, tetapi para guru tidak terlalu suka memuji siswa yang pernah kena masalah. Itu sebabnya, Manda seperti tak terlihat di kelas itu. Namun, hari ini semuanya terasa berbeda. Manda benar-benar merasa aneh dengan tatapan orang-orang padanya. Meski sudah biasa dirundung, tetapi kali ini kasusnya berbeda. Apakah setelah hari ini rundungan yang dia dapat akan semakin parah? Mengingat hampir semua siswa di sekolah sangat menyukai si cantik Airin. Begitu juga dengan para guru yang sering memuji prestasinya. Manda merasa takut bercampur malu. Dia hanya ingin tamat tanpa ada masalah tambahan. Hanya tinggal beberapa pekan lagi, bisakah dia melewatinya dengan baik? Manda ingin mengirim pesan untuk Ryan, tetapi terus dia urungkan. Tunggu saja, mungkin Ryan sedang iseng saja. Sebentar lagi pasti dia akan menghapus unggahan itu. Iya, 'kan? Manda mengusap wajah dengan gelisah. Lama sekali waktu hari ini berjalan. Dia ingin langsung menghampiri Ryan saat jam istirahat nanti. Ponsel bergetar menandakan notifikasi masuk. Dari Lisa, sudah sejak tadi anak itu selalu menggoda Manda. Tampaknya dia mulai kesal karena Manda tak kunjung membalas pesan-pesannya. Habisnya dia terus mempertanyakan sesuatu yang bahkan Manda sendiri pun tak tahu jawabannya. Apakah mereka berpacaran? Manda benar-benar tidak bisa menjawabnya! Dia tidak ingin gede rasa karena bisa jadi Ryan hanya bermain-main saja. Bukankah para playboy suka membuat hati gadis meleleh dengan melakukan hal seperti itu? Setelah mendapatkan yang dimau, melihat wajah gadis itu saja mereka sudah tak mau. Manda tidak menuduh, tetapi dia memang belum mengenal Ryan dengan baik. Bisa saja dia hanya salah satu dari para playboy itu, 'kan? Setelah merasa uring-uringan selama tiga jam, akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Manda segera bangkit dari duduk dan berniat menemui Ryan. Namun, dia kembali terduduk saat sadar bahwa itu adalah ide yang buruk. Bukankah itu justru akan membuat gosip menjadi lebih besar? Justru sikap acuhnya akan membuat orang-orang segera melupakan hal tersebut. Dia bisa menyuruh Ryan untuk menghapus unggahan itu nanti, lalu semua akan mereda dan kembali seperti semula. Manda pun mengatur emosi, kemudian mengambil buku-bukunya dan berjalan menuju ruang belajar. Ya, mungkin dengan mengerjakan soal-soal bisa membuatnya melupakan hal ini sejenak. Dia bisa menyuruh Ryan ke rumahnya saja nanti. Akan lebih aman jika mereka mengobrol di rumahnya tanpa dilihat oleh para siswa yang lain. Namun, semua rencana ambyar saat Ryan tiba-tiba muncul dan duduk di hadapannya. "Hai," sapanya. Rasa panas menjalar ke pipi Manda yang kini tampak merona. Apalagi saat melihat Ryan tersenyum padanya. Dia kemudian melihat sesuatu yang disodorkan padanya di atas meja. Sebungkus cokelat. "Aku lihat kamu belajar tekun banget akhir-akhir ini. Setiap istirahat bahkan nggak pernah sempat makan. Aku kangen juga ketemu sama kamu di kantin. Ini, buat ganjal lapar." Manda terdiam menatap cokelat di hadapannya. "Kenapa?" tanya Ryan yang melihat Manda hanya diam saja. "Kayaknya kita perlu ngobrol." Sebelah alis Ryan terangkat. "Ya udah, ngobrol di sini aja." "Nggak bisa, di sini terlalu rame." "Terus mau di mana?" "Dekat loker aja." Manda bahkan tidak menunggu respon dari Ryan saat bangkit dari kursi. Buku-bukunya bahkan dia tinggal begitu saja di sana. Ryan hanya bisa menurut dan mengikuti Manda tanpa banyak bertanya. Sesampainya di loker, Manda langsung mencecar Ryan. "Kamu upload apa ke i********:, Yan?" Ryan menunjukkan tampang 'Oh, ternyata mau bahas itu'. Dia mengambil ponsel dari saku celana dan mencari sesuatu di sana. "Ini?" tanyanya sambil menunjukkan profil akun Instagramnya dengan foto Manda berada di umpan paling atas. "Hapus, Yan!" perintah Manda yang refleks mencoba merampas ponsel Ryan. Namun, Manda kalah cepat oleh Ryan yang sudah menarik ponselnya tinggi-tinggi. Penghinaan sekali untuk Manda karena jelas dia sudah pasti tidak sampai dalam posisi seperti itu. Akan tetapi, Manda tak putus asa dan terus berusaha melompat-lompat untuk menangkap ponsel Ryan. "Yan, sini, Yan. Hapus, dong, maluuu ...." pinta Manda. Ryan cuma bisa terkekeh. Durhaka sekali memang anak sebiji ini. Awalnya dia pikir Manda akan marah atau mengatakan hal-hal yang membuatnya sedih lagi. Namun, saat melihat ekspresi gadis itu saat ini, sepertinya lebih tepat disebut malu daripada marah. "Ngapain dihapus? Orang cantik, kok." Ryan menolak untuk menghapus foto Manda. "Semua orang di sekolah ngegosipin kita, loh. Nanti mereka salah paham." "Salah paham soal?" tanya Ryan heran. "Lisa aja ngirain kita pacaran. Pasti yang lain juga mikir gitu," jawab Manda yang sudah mulai kelelahan melompat-lompat. Ryan tersenyum. Apa mungkin Manda masih belum yakin pada dirinya? Apa Manda merasa bahwa semua yang Ryan lakukan untuknya hanyalah sebatas gombalan saja? Percayalah, Manda … Ryan betul-betul menyayangimu. "Mereka nggak salah paham, kok," bantah Ryan, membuat Manda mendadak diam. "Aku juga nggak sembarangan masang foto cewek di medsos aku. Pasti karena ada sesuatu." "Yan, jangan becanda, ih, nggak lucu!" Manda cemberut. "Aku nggak becanda." Ryan meyakinkan. "Kalau kamu jadi pacar aku, otomatis nggak akan ada lagi yang berani bully kamu. Itu janji aku ke diri sendiri pas pertama kali ngedekatin kamu. Mulai sekarang siapa pun yang nge-bully kamu, bakalan berhadapan langsung sama aku." Manda tidak bisa tak terpukau oleh pernyataan Ryan barusan. Bahkan ucapan 'Aku suka kamu' atau 'Kamu mau jadi pacar aku' tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang barusan diucapkan oleh Ryan. Levelnya jauh di atas itu. Ryan tersenyum melihat Manda yang cuma bisa bengong. "Nggak perlu jawab sekarang. Tapi, dari sini kamu pergi-pulang sekolahnya sama aku, ya. Ntar kamu kuliah juga aku yang bakalan anterin kamu ke mana-mana." "Yan, jangan gitu. Kamu udah banyak banget janji ke aku. Kalau kamu nggak bisa nepatin gimana?" tanya Manda khawatir. "Pertama, nggak bakalan bikin kamu nangis. Kedua, bakalan ngelindungin kamu. Ketiga, bakalan anterin kamu ke mana-mana. Cuma ini, 'kan? Nggak sulit ini, mah! Percaya sama aku." Manda ingin sekali percaya. Namun, sejauh ini dari melihat perlakuan Ryan padanya sampai ke pendapat mamanya, dia yakin pemuda itu memang tulus padanya. "Makasih, ya, Yan," ucap Manda tulus. Dia kemudian berjinjit dan mengecup pipi Ryan. Cuma itu, tetapi bisa membuat Ryan melayang. Senyuman Manda semakin menghilangkan kesadarannya. Aneh, sebab saat pertama terdampar di semesta ini, Ryan merasa begitu kacau. Akan tetapi, dia merasa bisa tinggal di sini selamanya asalkan ada Manda di sisinya. Setidaknya, sampai mereka bertemu lagi entah di semesta mana pun itu. ... Airin juga sudah mendengar gosip yang beredar di sekolah—mustahil untuk tidak. Dia sedang melihat isi profil akun i********: Ryan dan menemukan foto Manda di sana, seperti yang dikatakan orang-orang. Dulunya dia pernah berharap bahwa suatu saat nanti, fotonya yang ada di sana, tetapi sekarang itu semua sudah sirna. Namun, Airin tidak merasa cemburu. Sebab, gadis itu adalah Manda. Airin tersenyum. Dia kemudian melihat Ryan jalan berduaan dengan Manda. Dia tidak ingat kapan terakhir kali melihat Manda tersenyum sejak peristiwa di kelas satu dahulu. Akan tetapi, saat bersama Ryan, Manda tersenyum bahagia sekali. Dia pun ikut senang. Semua orang di seluruh penjuru sekolah sudah mengetahui bahwa Ryan berpacaran dengan Manda. Tak menunggu sepekan, gosip itu sudah sampai ke mana-mana. Benar saja, Manda langsung aman dari semua ancaman perundungan. Perlahan, mereka semua mulai mau berteman dengan Manda. Khususnya anak-anak kelas satu yang masih diajarkan kursus oleh Manda. Mereka bahkan meminta Manda tetap mengajar mereka walaupun dia sudah kuliah nanti. Dia mengiyakan, lalu disambut sorakan oleh anak-anak kelas satu. Image Manda di sekolah mulai membaik tanpa harus menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Manda aman, Airin juga aman. Banyak sekali hal yang dilakukan oleh Ryan untuk Manda. Manda bahkan tak pernah mengira kalau kehidupan sekolahnya akan menjadi sebahagia ini—bahkan dalam mimpi pun tak pernah. Semuanya berkat Ryan. Beberapa hari lagi ujian kelulusan akan dilaksanakan. Manda menerima beberapa tawaran dari perguruan tinggi untuk masuk tanpa mengikuti tes. Kepala sekolah bilang bahwa dialah yang merekomendasikan Manda. Sungguh di luar dugaan. Manda benar-benar terharu. Kelulusannya dari sekolah ini pasti akan sangat berkesan. "Jadi, kamu udah mutusin mau ambil yang mana?" tanya Ryan saat mereka sedang duduk di taman belakang rumah Manda dan memandang ke langit. Manda menggeleng. "Aku benar-benar nggak nyangka bakalan dapat tawaran sebanyak itu. Aku kira bakalan berjuang sendiri untuk masuk perguruan tinggi. Memang, sih, ada yang jadi tujuan aku. Tapi, kayaknya aku nggak boleh buru-buru memutuskan. Karena ini berpengaruh ke masa depan aku, 'kan?" Ryan mengangguk setuju. Dia pun merasa Manda tampak dilema akhir-akhir ini. "Kamu mempertimbangkan aku, ya, kalau misalnya harus kuliah di luar kota?" Manda menatap Ryan dengan ekspresi sedikit terkejut. "Kok, kamu tau?" "Aku rasa kamu nggak perlu mikirin aku, Nda. Kamu bebas melakukan apa aja selama itu baik buat kamu. Kan, kita bisa tetap ketemu kalau kamu pulang untuk liburan." Manda menggeleng. "Aku nggak mau jauh dari kamu, Yan." Ryan menahan napas. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan mendengar penuturan dari gadis di depannya. "Bukannya aku berharap kamu anter-jemput aku, ya. Bukan itu. Tapi … aku cukup lama menghabiskan waktu sendirian tanpa teman di sekolah. Memang aku bisa dapat teman baru waktu kuliah. Tapi, pasti nggak akan sama rasanya dengan dekat sama kamu." Ryan bisa memahami maksud perkataan Manda. Gadis itu pasti akan merasa kesepian jika harus jauh darinya. Mereka memang belum menjalin hubungan terlalu lama, tetapi Manda terlihat lebih bahagia karena hubungan mereka. "Kalau aku lagi capek belajar atau ngerjain tugas, pasti ada kamu yang menghibur. Kalau aku lapar tiba-tiba waktu malam, kita bisa cari makan sama-sama. Sedangkan kalau aku di luar kota bakalan susah untuk ngelakuin itu semua, Yan. Makanya aku pengen kuliah di sini aja walaupun di luar kota kampusnya lebih prestisius. Selama aku belajar dengan keras, pasti aku tetap bisa sukses. Bener, 'kan?" Ryan mengangguk mengiyakan. Dia kemudian menggenggam tangan Manda, merasa begitu bahagia karena gadis itu membutuhkannya. "Kita bakalan sukses sama-sama. Aku juga bakalan belajar lebih serius dari sekarang supaya cocok bersanding sama kamu." Manda mengangguk dengan girang. Lalu, mendadak ingin tahu tentang sesuatu. "Cita-cita kamu apa, Yan?" Tanpa ragu Ryan menjawab, "Nikahin kamu." Manda tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Obrolan yang sebelumnya serius, entah kenapa dirasa menjadi jenaka. "Udah, ah, Yan, becanda mulu!" Ryan juga ikut tertawa. "Tapi, nggak becanda, loh." Ingin rasanya Ryan menceritakan kalau dia memang pernah hampir menikahi Manda. Namun, Ryan tak pernah lanjut bercerita karena harus menyapa bibir Manda dengan bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN