"Ayo kita jemput Hana sekarang." Ratih melepaskan celemek. Dia tidak sabar menyerahkan semua pekerjaan ke Hana lagi. Juga bertemu anaknya. "Kita tunggu waktu yang tepat. Nanti malam saja." "Sekarang aja sih Mas. Biar Hana cepat bisa masak buat kita. Aku capek seharian masak sama bersih-bersih rumah." Kalau Hana dijemput sekarang, ia bisa bersantai dan tidak perlu repot-repot masak untuk berbuka dan sahur. "Aku tahu Ratih, tapi kita harus sabar." Ratih mendengus kesal, dia menghentakkan kakinya dan kembali ke dapur. Bakwannya hampir gosong. Merutuki Hana yang pergi dan Rizal yang membawa babunya pergi. Jika saja Hana di sini dia pasti tidak akan belepotan tepung dan kumal seperti sekarang. Sekarang mau tidak mau ia harus kembali membuat makanan buka puasa, ibu mertuanya tidak mau

