Hari ini Agatha di buat penasaran dengan pengumuman dari perlombaan fotografi. Beberapa hari lalu ia memang sudah mengirim file foto yang akan diikutsertakan pada perlombaan tersebut dan hari ini adalah pengumumannya. Pemenang akan di umumkan lewat media sosial dengan postingan foto hasil jepretan pemenang perlombaan, juga ada pihak yang nantinya menghubungi untuk konfirmasi hadiah lomba.
Agatha bukan mengharapkan hadiah, walaupun memang ia merasa senang dengan hadiah yang di dapat yaitu uang sebesar satu juta untuk pemenang pertama, 750 ribu untuk pemenang kedua dan 500 ribu untuk pemenang ketiga di tambah sertifikat untuk seluruhnya peserta.
Tak seberapa memang tetapi bagi Agatha adalah pengalaman dia dalam mengikuti lomba ini, yang pastinya diikuti oleh orang-orang yang juga lebih jago di bidangnya. Kalau Agatha sih hanya sekedar hobi saja bukan orang profesional tetapi ia beruntung bisa ikut serta karena kuota yang terbatas. Entah ia tak mengerti kenapa hanya 100 orang saja yang bisa ikutserta dalam lomba tersebut.
Sudah dari satu jam lalu, Agatha memegang handphonenya dan membuka akun i********: dari panitia perlombaan. Tetapi masih belum ada postingan apapun di akun tersebut, kecuali informasi kalau pemenang akan di umumkan dengan postingan dari hasil foto.
"Kamu lagi apa?" Agatha melihat Rian yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Nunggu pengumuman lomba," balas Agatha.
Rian menganggukkan kepalanya kemudian memilih untuk menyalakan tv sementara Agatha kembali fokus pada handphone. Beberapa menit kemudian postingan dari akun i********: yang ia tunggu akhirnya muncul lalu ia melihat ketiga foto yang di posting di akun tersebut.
"Menang!!!!" pekiknya membuat Rian terlonjak kaget.
"Suara kamu kecilin," protes Rian pada Agatha.
"Kak Rian! Aku ini lagi seneng soalnya menang, juara tiga ni lihat," ucap Agatha sambil menunjukkan postingan foto hasil jepretannya pada Rian.
Rian mengangguk singkat kemudian kembali fokus pada acara tv. Lihat kan, begitulah kakak pertamanya, sampai Agatha ingin sekali membuang Rian ke jurang tetapi bisa-bisa dia tak dapat jatah uang jajan nanti dari Rian.
"Ucapin selamat kek gitu, malah diem doang," gerutu Agatha yang masih bisa di dengar dengan jelan oleh Rian.
"Mau hadiah apa?" tanya Rian dengan mata yang masih pada layar televisi.
Agatha tersenyum cerah, ini yang Agatha suka dari Rian tanpa meminta pun kakaknya ini selalu menawarkan hadiah padanya, meski sering juga dia yang meminta duluan pada Rian.
"Es krim aja, tapi selama satu minggu," pinta Agatha pada Rian.
Rian mengangguk. "Es krim buat hadiah lomba, sepatu keluaran terbaru hadiah kalau kamu bisa juara di kenaikan kelas ini," ucap Rian.
Mendengar sepatu baru membuat Agatha semakin semangat, tetapi dia juga was-was apa nilainya nanti akan bagus dan mendapat juara. Semoga saja, doanya dalam hati.
"Makasih kak Rian, tata sayang deh jadinya," ucap Agatha memeluk Rian dari samping.
Rian berdecak, giliran begini saja dia bisa mendengar ungkapan sayang dari adiknya ini. Tetapi bagaimanapun Rian tetap menyayangi Agatha bahkan bisa memprioritaskan adiknya ini di samping yang lainnya. Termasuk urusan dengan kekasihnya tetapi Rian beruntung karena memiliki kekasih seperti Vira yang begitu mengerti posisinya dan tak pernah merasa iri jika Rian selalu memprioritaskan Agatha di banding dengan dia.
**
Agatha tersenyum lebar setelah mendapatkan es krim dari Rian, dia membawa satu kantong belanjaan ke dalam rumah sementara Rian masih berada di luar. Bian yang saat ini sedang berada di dapur mengambil minum melihat kedatangan adiknya yang membawa satu kantung plastik dengan wajah yang begitu cerah.
"Apa tu?" tanya Bian setelah meneguk air putih dari botol.
"Kepo!" balas Agatha setelah itu terkekeh melihat wajah Bian yang kesal.
"Lo kasih dia apalagi, Bang?" tanya Bian saat Rian bergabung dengan mereka di meja makan.
"Es krim," balas Rian membuka bungkus roti yang tadi mereka beli juga.
"Sebanyak itu? Sakit gigi baru tahu rasa," ucap Bian menatap Agatha yang saat ini sibuk memasukan es krim ke dalam kulkas.
"Emang makan es krim bisa sakit gigi?"
"Kan manis, yang manis-manis itu bikin sakit termasuk dia yang nyakitin gue," curhat Bian membuat Agatha tertawa sementara Rian acuh saja mendengar perkataan adiknya.
"Curhat sama tembok sono!" seru Agatha kembali tertawa.
"Berisik lo! Gak tahun aja gue lagi patah hati," gerutu Bian.
"Jomblo bisa patah hati juga?"
"Udah lah, bagi sini es krim nya.!" pinta Bian.
"Ambil sendiri," ucap Agatha kemudian berjalan dan duduk di kursi sebelah Rian.
Bian berjalan ke arah kulkas dan mengambil es krim kemudian kembali bergabung dengan kakak dan adiknya.
"Jadi juara tiga ni akhirnya?" tanya Bian.
Agatha mengangguk, asyik dengan es krimnya. "Terus juara satu siapa?" tanya Bian lagi.
"Foto dari siapa ya, Ars ... Arsyah, ah iya namanya Arsyah," ucap Agatha mengingat nama pemenang pertama.
"Arsyah? Kaya gak asing lagi," ucap Bian.
"Lah itu sih adiknya si Elvan! Arsyah Fr bukan nama di foto jepretan dia?" seru Bian saat mengingatnya.
"Kayanya iya, gatau lah gue gak fokus sama nama dia. Tapi emang hasil fotonya bagus banget, skill dewa kali ya. Gunung bromo tapi mantap banget cara dia ambil fotonya," cerocos Agatha yang tadi memang melihat foto dari pemenang pertama yang menurutnya luar biasa.
"Gak heran sih, udah dari lama dia ngulik fotografi. Semua jepretan dia yang di ikutin lomba selalu jadi juara, emang udah berbakat anaknya," komentar Bian yang memang mengenal Arsyah karena adik dari sahabatnya, Elvan.
Bian dan Elvan memang bersahabat sejak dulu karena mereka pernah satu klub renang dan hal yang membuat mereka semakin akrab karena mereka mendukung klub bola yang sama di liga Spanyol. Messi adalah pemain yang mereka idolakan.
"Kak Elvan itu yang pacar Rania kan?"
"Iya, dia. Kapan-kapan gue kenalin sama Arsyah biar lo juga bisa belajar dari dia soal fotografi, tapi anaknya agak pendiem gitu sih."
"Kak El juga bilang mau kenalin gue sama adiknya, tapi gatau kapan. Gue jadi penasaran dan pengen belajar banyak dari dia," ucap Agatha.
"Agak susah sih, tapi kalau di bantu Elvan gampang lah ketemu sama adiknya."
Agatha jadi penasaran seperti apa sosok Arsyah ini, kenapa juga laki-laki itu seperti misterius sekali tetapi begitu luar biasa dalam mengambil spot foto. Agatha jadi tak sabar untuk bertemu dengan Arsyah.
**
"Selamat menang lomba," ucap Elvan pada Arsyah.
"Iya," balas Arsyah tanpa ekspresi yang menunjukkan kalau dia adalah pemenang dari lomba tersebut.
Elvan rasanya ingin memberikan sedikit saja ekspresi pada Arsyah, kenapa adiknya ini seperti tak senang menjadi juara di lomba yang dia ikuti. Kalau Elvan yang menang sudah pasti dia akan keliling komplek rumah untuk merayakan kemenangannya. Lebay, memang begitu Elvan.
"Oh iya, gue mau kenalin lo sama temannya cewek gue, katanya suka juga fotografi jadi bisa kali lo bagi ilmu sama dia."
"Gue bukan pengajar," sahut Arsyah.
"Ya tapi lo kan pro masalah fotografi. Gak ada salahnya lah ajarin dia," ucap Elvan.
"Hmm ..." gumam Arsyah.
"Nanti kabarin kalau lo ada waktu, ya sebenernya gue tahu sih lo punya waktu banyak tapi sama kamera lo. Jadi gue ngerti harus atur jadwal sama orang sibuk," ucap Elvan dengan menekan pada kata "orang sibuk" menyindir adiknya.
"Iya," balas Arsyah pelan. Sebenarnya dia tak suka dengan orang baru apalagi harus mengajarkan hal yang selama ini dia nikmati sendirian. Jadi dia bilang iya saja dari pada kakaknya ini selalu meneror dirinya nanti.
Elvan beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamarnya membiarkan Arsyah sendirian di ruangan tengah. Setelah kakaknya itu sudah benar-benar ke atas menuju kamarnya, dia mengambil handphone yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
Arsyah membuka akun media sosial yang memposting foto dari pemenang lomba fotografi, dia tadi melihatnya sekilas dan tahu kalau dirinya menang. Dia senang tetapi ya mau di ungkapkan seperti apa dan bagaimana, lagipula bukan dia sombong tapi ini untuk kesekian kalinya dia memenangkan lomba. Bedanya sekarang dia malah tertarik dengan salah satu foto pemenangnya yang berada di posisi kedua, tertera di fotonya nama yang entah kenapa menarik perhatiannya.
"Agatha," gumamnya masih fokus pada postingan tersebut.
Menyebut nama itu entah kenapa membuat dirinya menghangat, ada perasaan yang tak biasa yang sukar untuk dia jelaskan. Yang jelas kenapa dia penasaran sekali dengan orang yang bernama Agatha.
***
Arsyah saat ini tengah berada di kamarnya setelah selesai makan malam bersama kedua kakaknya dan juga orang tuanya. Dia memilih untuk langsung ke kamar yang berada di lantai atas, sibuk dengan laptop yang penuh dengan file foto yang dia abadikan lewat kameranya selama ini.
Arsyah memindahkan hasil jepretannya itu ke laptop miliknya. Sudah ada sekitar seratus lebih foto hasil bidikan lensa kameranya karena memang selama ini dia tak pernah jauh dari kameranya tersebut.
Pintu kamar Arsyah terbuka, munculah Zidan sang kakak pertamanya. Zidan masuk ke dalam kamar adiknya setelah mengetuk pintu karena memang itu kebiasaannya, tidak seperti Elvan yang selalu masuk seenaknya.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Zidan dengan nada serius di dengar oleh Arsyah.
Mau tak mau Arsyah mengabaikan kerjaan dia lebih dulu dan duduk bersama dengan Zidan di sofa yang berada di kamarnya ini.
"Ada apa?" tanya Arsyah.
"Kalau semester baru nanti lo pindah ke sekolah Elvan gimana?" tanya Zidan membuat Arsyah langsung menatap kakaknya itu dengan tatapan penuh tanya.
Zidan mengeluarkan handphonenya, kemudian membuka galeri dan mencari foto seseorang. Arsyah diam menunggu Zidan yang tengah sibuk dengan handphonenya.
"Namanya Agatha," ucap Zidan sambil menunjukkan foto seorang gadis dengan senyum yang begitu manis di mata Arsyah.
Agatha?
Nama itu seperti tak asing lagi, ah dia ingat sama seperti pemenang lomba.
"Udah lama gue kenal sama dia, awalnya kita ketemu di toko waktu dia beli roti. Gak tahu kenapa gue rasa dia asik untuk di jadikan teman sampai akhirnya gue deketin dia waktu itu, dan bener dia asik orangnya. Nyaman buat di ajak ngobrol," jelas Zidan yang di dengar oleh Arsyah namun mata Arsyah tak pernah lepas dari foto gadis itu.
"Iya mungkin salah gue juga yang terlalu kasih perhatian sama dia sampe akhirnya gue sadar kalau dia suka sama gue. Tapi lo tahu sendiri 'kan gue suka sama siapa dan keberangkatan gue ke Jepang kali ini juga salah satunya buat ketemu sama orang yang selama ini gue suka."
Arsyah mengepalkan tangannya, dia tak menyangka dengan yang baru saja dia dengar dari mulut kakaknya sendiri. Kenapa Zidan sampai melakukan hal seperti ini, apa dia tak pernah tahu kalau perempuan itu mudah sekali terbawa perasaan jika di berikan sebuah perhatian. Meski ada juga yang tak mudah terbawa perasaan tetapi kalau iya, hasilnya akan seperti ini 'kan.
"Gue mau lo bisa deket sama dia, buat dia lupain gue karena sebesar apapun perasaan dia. Hasilnya akan tetap sama, gue gak bisa jatuh cinta sama dia."
Arsyah masih diam namun kali ini tangannya tak mengepal. Dia berusaha untuk tenang meski dalam hati dia benar-benar merutuki apa yang di lakukan oleh kakaknya.
"Kenapa harus gue?" tanya Arsyah menatap Zidan dengan tajam.
"Karena gue yakin lo akan jatuh cinta sama dia," balas Zidan tenang.
Zidan tak menyadari, sejujurnya dirinya telah mempermainkan perasaan, bukan hanya satu orang saja tapi juga dua orang termasuk adiknya sendiri.
**
Agatha kalau ngomong sama Bian berubah terus ya, lo-gue, aku-kakak. Sama kaya Aryah.