Kuda itu masih melaju, meski sedikit pelan sekarang. Sebab jalan di depannya sedikit menanjak. Istana sudah cukup jauh, Indri hanya melihat sekilas bayangannya yang semakin kabur saat kabut kembali menutupi. Ketika merasa telah berkuda cukup jauh, Arjuna memperlambat lajunya. “Kita mau ke mana Mas?” Indri bertanya ingin tahu. “Dieng,” jawab Arjuna. “Jawa Tengah? Jauhnya … kira-kira kapan kita sampai.” “Duniaku tak sama Indri, bagi kami jarak dan waktu itu tak berarti. Itu sebabnya kami abadi, tak dapat mati. Kecuali sesama makhluk abadi yang membunuh kami.” “Apakah, Mas Juna dan Bunda juga abadi?” “Bunda memutuskan mengikuti Ayah, keputusannyalah yang membawanya pada keabadian. Aku menjadi abadi, karena ayahku begitu,” jelas laki-laki itu. “Lalu aku? Apakah aku akan menjadi sekar

