Matahari bersinar dengan bangga di atas langit, menampakan sinar orange di sekitar benda bulat samar itu, membuat hari yang sudah panas menjadi semakin panas. Bahkan semilir angin yang berembus malu-malu, terkapar begitu saja diterjang panas, tidak membuat suasana sejuk sedikitpun. Renata menghela napas kasar, kepalanya ia jatuhkan pada meja putih di depannya. Matanya menatap ke arah pintu, menimbang antara keluar untuk makan di kantin atau bertahan di dalam kelas hingga usai. Bukan dirinya malas berjalan dan malas berkeringat di bawah cuaca yang terlalu cerah ini, hanya saja membayangkan dirinya akan bertemu dengan Royyan membuat dirinya langsung merinding seketika. Renata sejujurnya tidak bisa berbohong jika dirinya senang berada di kampus yang sama dengan pria yang menjadi pujaan ha

