Rezim Matarom
WAKTU berlalu, Enong tak menunjukkan tanda-tanda akan menikah. Akhirnya, adiknya
Lana dan si bungsu Ulma juga dengan terpaksa mendahuluinya. Ketiga adik Enong
meninggalkan rumah, mengikuti suami masing-masing. Tinggallah Syalimah dan Enong, serta
rumah mereka yang sepi.
Enong tetap bekerja sebagai pendulang timah. Namun, ia tak lagi satu-satunya
perempuan. Sekarang dengan mudah dapat ditemukan perempuan di ladang tambang.
Enonglah yang memulai semua itu. Enong masih pula setia saling berkirim surat dengan
sahabat penanya selama bertahun-tahun, Minarni. Minatnya pada bahasa Inggris tak lekang-
lekang. Ia bahkan meningkatkan kelas kursusnya dan tetap naik bus dua kali seminggu untuk
kursus di Tanjong Pandan, tak pernah membolos.
Beberapa waktu kemudian, Syalimah jatuh sakit. Dokter berkata, ia sakit karena lanjut
usia. Tabib berkata, ia sakit karena sudah tua. Selama ibunya sakit, Enong sering mendapati
ibunya memandanginya dengan sedih. Enong tahu apa yang ingin dikatakan ibunya, namun
tak sanggup terkatakan. Ia ingin melapangkan hati ibunya sementara masih ada waktu.
Karena itu, ia menerima pinangan seorang lelaki bernama Matarom. Suatu keputusan yang
kemudian akan disesalinya.
Tak seperti perkawinan ibu dan ketiga adiknya, Enong tidak beruntung. Kelakuan
buruk suaminya telah tampak sejak awal perkawinan, namun ia bertahan. Seburuk apa pun ia
diperlakukan, ia menganggap dirinya telah mengambil keputusan dan dia ingin menjaga
perasaan ibunya. Namun, pertahanan Enong berakhir ketika suatu hari datang seorang
perempuan yang mengaku sebagai istri Matarom. Perempuan itu dalam keadaan hamil. Ia
tidak datang dengan marah-marah karena tahu apa yang telah terjadi bukan kesalahan
Enong. Enong meminta maaf dan mengatakan bahwa sepanjang hidupnya ia tak pernah
mengenal lelaki dan tak tahu banyak tentang Matarom. Enong mengakhiri perkawinannya
secara menyedihkan. Ia minta diceraikan.
Sering Enong melamun. Sesungguhnya ia tak sepenuhnya tak mengenal lelaki. Ia
pernah mengenal seseorang, Ilham namanya, pada satu masa yang sangat lampau ketika ia
Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata
baru kelas enam SD. Ilham gemar pelajaran bahasa Inggris seperti dirinya. Enong selalu
senang berada di dekatnya, senang dengan cara yang tak mampu ia jelaskan.
Semula aku hanya mengenal Matarom dari reputasinya---sebagai seorang pecatur yang
tangguh dan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Tak pernah kulihat macam apa
rupanya. Namun, dengarlah namanya itu: Matarom. Bukankah menimbulkan perasaan
segan?
Reputasi Matarom merupakan kombinasi ketenaran dan kesemena-menaannya
memanfaatkan nama besar untuk melestarikan hobinya sebagai lelaki hidung belang. Ia
bergabung dengan klub catur legendaris Di Timoer Matahari yang dipimpin Mitoha.
Sudah dua kali berturut-turut Matarom meraup piala catur kejuaraan 17 Agustus.
Sekarang ia bersiap-siap menggondol piala untuk ketiga kalinya. Jika itu terjadi, ia akan
meraih piala abadi. Kepala kampung bisa kalah pamor darinya.
Karena lelaki Melayu gemar berlama-lama di warung kopi, dan yang mereka lakukan
di sana selain minum kopi dan menjelek-jelekkan pemerintah adalah catur, maka kejuaraan
catur 17 Agustus amat digemari dan tinggi gengsinya di kampung kami, tak kalah dari sepak
bola. Kejuaraan itu memberi kehormatan pada juaranya sekaligus hadiah yang besar, yaitu
piala setinggi anak berusia 11 tahun, selembar piagam yang ditandatangani Pak Camat, kipas
angin, bola voli, setengah lusin pinggan, perlengkapan salat, radio transistor 2 band, batu
baterai, dan bibit kelapa hibrida.
Matarom sangat kondang karena Rezim Matarom, begitu golongan pecatur warung kopi
menamai teknik serangan catur ciptaannya sendiri yang kejam tiada ampun. Konon ia
menciptakannya dengan meniru taktik perang tentara Nazi lightning attack atau serangan
halilintar. Nazi menerkam Polandia secara sangat tiba-tiba waktu negeri itu belum bangun
tidur.
Selain itu, ia kondang karena papan catur peraknya yang melegenda, yang telah
menjadi perlambang kehebatannya. Papan catur dan buah-buahnya terbuat dari perak. Ia
pesan khusus dari seorang empu pengrajin perak di Melidang. Papan catur perak itu adalah
medan tempurnya dan ia tak pernah kalah di medan tempurnya sendiri. Bentuk kudanya
benar-benar seperti kuda. Raja bermahkota megah. Menteri dibuat berbentuk manusia yang
gagah bak jenderal Dinasti Tang. Luncus seperti sepasang bidadari dari kayangan. Pion-pion
disepuh serupa prajurit terakota.
Orang-orang Melayu yang tak pernah mengenyam pendidikan percaya bahwa ilmu
hitam telah mengambil bagian dalam urusan papan catur perak itu. Konon Matarom takkan
pernah bisa dikalahkan jika berlaga dengan papan catur perak itu dan memegang buah hitam.
Desas-desusnya, sang empu dari Melidang telah meniupkan sukma raja berekor, yakni raja
Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata
kanibal yang menguasai Belitong purba, melalui ubun-ubun raja hitam itu. Menterinya diisi
sang empu dengan nyawa Kwan Peng, Panglima Perang Ho Pho yang amat kejam, yang telah
menetak leher ratusan kerabatnya dalam perang saudara memperebutkan ladang timah. Pion-
pionnya disurupi sang empu nan sakti mandraguna dengan arwah-arwah gentayangan bajak
laut Laut China Selatan.
Hari ini, untuk pertama kalinya kulihat Matarom. Pembawaannya memang pongah.
Tubuhnya tinggi besar. Ia membentuk cambangnya macam gagang kayu pistol revolver model
lama isi lima peluru. Kemejanya ketat, berwarna ungu terong mengilap-ngilap. Sebuah fashion
statement tipikal playboy cap belacan.
Matarom memesan kopi pahit. Dari koper yang dirancang khusus, ia mengeluarkan
papan catur peraknya, bukan untuk bercatur, melainkan untuk mengelap perwira-perwira
caturnya. Sesekali ia menjilat ujung jarinya untuk menggosok pinggang sang luncus. Luncus
dapatlah disebut semacam perwira wanita di papan catur. Ia duduk di sana, di selatan. Aku
duduk di sini, di utara. Bulan masih Juli, musim masih selatan, maka aku berada di bawah
angin. Jika angin bertiup, tercium olehku bau perangai buruknya. Ia mengembuskan asap
dari cangklong tanduk menjangan gunungnya, bergelung-gelung di langit-langit warung kopi.