Beberapa hari berlalu, Kei membeli buket bunga kembali di toko bunga yang sama seperti biasa. Dia kemudian mendatangi apartemen Candy tanpa mempedulikan apapun lagi. Ia juga ogah menganggap serius tatapan mata tajam yang diberikan oleh Ben kepadanya. Hari ini dia akan mengakuinya. Candy sudah sendiri dan ini kesempatan terakhirnya. Suara ketukan pintu terjadi berulang kali. "Can?" Panggil Kei sambil mengetuk pintu berulang kali, "Candy?" Candy membuka pintu dengan masih mengenakan piyama. Wajah maupun rambutnya bertambah kusut membuktikan dia sangat muak dengan semua hal. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dia kelihatannya tidak ada keinginan untuk mandi. "Oh?" reaksinya sedikit kaget saat melihat Kei, "kenapa? Mau ngirim surat undangan? Tumben—maksud gue, eh—mau apa

