BAB 08

1106 Kata
Dua hari lamanya, Candy memblokir semua tentang Kei. Dia tidak peduli apapun lagi. Bahkan di kampus pun, dia terlihat tidak semangat. Candy yang ceria nan manja berubah menjadi pemurung dadakan. Bahkan ketika dia digodain sepanjang oleh Darren, ia tidak menganggapnya sebagai penganggu. Ketika di kantin pun, dia memilih duduk sendirian ketimbang nimbrung dengan teman-temannya. Arlo pun datang membawakan minuman coklat. Ia duduk di hadapannya sambil bertanya, "Kenapa lo? Diusir g***o?" "Jaga mulut lo!" sentak Candy langsung melotot dan bersiap menyiramkan minuman itu ke wajah Arlo. Dia tidak ingin berdebat, pikirannya penuh akan Kei—dan pergumulannya dengan Bianca. "Bercanda, barcanda. Maaf." "Pergi sana, gue nggak mau ngobrol." "Penasaran doang, kok bisa lo cemberut dua harian ini. Kenapa? Digodain Darren tetep cemberut aja. Positif hamil ya? Candy langsung mengangkat gelasnya. "Berani lo ..." Arlo buru-buru menahan gadis itu, menurunkan gelasnya kembali dan cengengesan. "Iya, sorry, sorry, lo biasanya jawabnya seru kalau disindir begitu, kok sekarang sensi banget? Cerita sini sama Abang." "Abang pala lu." "Pak dosen?" "Nggak." "Lo pacarnya berapa sih? Ada yang ngambek? Biar gue bantu, ceritain." "Ngapain sih lo sok akrab. Udah sana pergi, gue nggak mau lo comblangin gue ama temen m***m lo, si Darren itu. Udahlah, nggak usah sok akrab, gue benci ama cwook kek elo, oke." "Nggak kok, nggak. Seriusan, sedih gue lihat ratu seksi jadi gini. Nggak ada yang bisa gue sindir kalau lo cemberut terus." "Nggak apa-apa, gue cuma bosen aja." "Oh, masalah cowok yang pernah jemput lo di kampus waktu itu." "Enggak!" "Jujur aja, Can, gue ini cowok peka." "Dia tahu-tahu punya tunangan, terus malah ngehina gue, ngusir gue. Ya udah, gitu doang. Gue bad mood jadinya." "Emang hubungan lo sama dia itu apa?" "Tanpa status." "Terus ngapain lo sedih?" "Nggak sedih kok." "Itu sedih. Ah, cemburu lo, ya? Cinta tumbuh berawal dari hubungan ranjang, seru juga cerita percintaan lo. Cuma biasnaya yang kayak gini emang akhirnya ngeri sih." "Enggak!" bantah Candy berusaha menepis kebenaran itu dengan mengingat ucapan kasar Kei. "Gue benci cowok yang sok, cuma manfaatin cewek, terus dibuang.. gue nggak suka." "Bukannya itu elo ya? Manfaatin cowok, terus lo baperin, terus lo tinggalin?" Candy memalingkan wajah karena sadar diri itu benar. Dia akhirnya menerangkan, "dulu waktu gue pertama masuk kuliah, banyak cowok yang manfaatin gue. Mereka sok polos waktu PDKT, ujung-ujungnya m***m juga. Makanya gue benci ama cowok sok polos, pengen gue usilin aja, kayak elo." "Gue? Gue nggak polos kok cuma nggak suka muka cantik elo aja." "Ya udah, pergi sana." "Jangan gitu dong, Can, sekarang gue jadi tahu itu sejarah terciptanya Candy si Ratu Seksi. Akibat terkena rayuan cowok-cowok b******k, kini tumbuh menjadi cewek sialan penggoda iman." "Diam aja deh lo." "Jadi cowok lo, maksud gue itu yang ngusir lo, ternyata juga cowok b******k?" "Iya, dia main ngelarang gue main-main di luar, dia sendiri main-main sendiri. Itu'kan nggak adil, cowok itu nggak adil. Maunya enak mulu, ceweknya nggak boleh! Gue itu benci komitmen!" "Ya udah mau nggak pacaran sama gue aja?" Candy tersentak kaget. "lo budek ya?" "Daripada lo diganggu Darren, cowok-cowok b******k lain, mending lo jalin hubungan ama seseorang. Nah sekarang gue bantu. Gue jamin deh, gue bantu tugas kuliah lo, gua paham kok tampang-tampang pemalas kek elo." "Nggak mau. Gue udah nggak mau ngurusin cowok lagi." "Gue nggak bakalan minta aneh-aneh ama lo. Tenang, gue ini gentleman. Pantang nidurin anak orang." "Terus apa gunanya lo minta jalan ama gue?" "Biar seru aja. Pacaran sama Ratu Seksi, heboh jelas. Darren bakalan ngehajar gue karena cemburu." Candy tak sengaja menertawai alasan bodoh tidak masuk akal itu. Akan tetapi setelah melihat baik-baik raut wajah Arlo, ia yakin kalau alasan itu memang jujur. "Serius? "Iya lah." "Kasih gue waktulah. Tapi serius'kan bantuin tugas gue? Kebetulan semester ini banyak tugas nggak guna, kesel gue." "Iya, jadi udah dong jangan cemberut mulu, jadi jelek wajahnya loh.." "Tapi jangan sok romantis deh lo. Jijik gue dengernya." "Masa sama pacar sendiri, gue nyindir mulu." "Idih. Gue masih risih denger kata pacar." "Halah, sok-sok'an lo," Arlo tertawa melihat Candy yang jijik mendengar ucapannya. Ia berdiri, mengelus rambut gadis itu, kemudian berkata, "gue masuk kelas dulu ya, ntar gue Chat. Gue tunggu jawaban lo." Candy hanya membisu. *** Kei membuka pintu apartemennya dengan lemas. Dia tidak b*******h melakukan apapun selama beberapa hari belakangan. Karena hal itulah, pekerjaan kantornya menumpuk sampai harus dibawa pulang. Suasana hati semakin memburuk saat melihat di dalam apartemennya ada Bianca yang bermalas-malasan di depan televisi. "Ngapain sih lo masih disini?" tanya Kei melonggarkan dasinya, lalu menaruh tas kerjanya di atas meja depan TV. "Sono pergi." Bianca yang masih dalam balutan piyama seksinya menjawab santai, "Kita mau nikah 'kan, biasakan hidup bersama, Kei, kayak dulu." "Kayaknya udah lupa kalo gue pernah pacaran ama lo." "Jahat banget sih, jangan-jangan bener, kemarin manggil gue cuma pengen one night stand ya?" Kei menjawabnya dengan enteng dan tanpa penyesalan, "Iya, emang." "Terus lo ngusir Candy, itu cuma kesel doang?" "Udah deh, pusing gue, minggat aja sana." "Ya, pokoknya penting keluarga kita udah setuju." Bianca menertawai kejujuran Kei, "mau cuma cinta satu malam, dua malam, terserah Kei, kita akan nikah!" "Setidaknya sewa saja apartemen lain, jangan sama gue. Pala gue lagi pusing, ngeliat lo makin pusing—biarin gue sendirian sekarang." "Kemarin romantis, sekarang gitu. Lo bener-bener brengsek." "Iya emang gue cuma mau bikin kesel Candy, sekarang gue makin kesel. Paham lo?" Kei terdengar ingin terus marah. Apalagi saat mengingat wajah Candy. Dia mendadak langsung ke kamar dan tidur. "Masih sore, Kei, main masuk kamar aja, sini dong." "Gue mau mandi." "Jangan dingin-dingin gitulah, nanti gagal move on." Kei meliriknya dengan tatapan tajam. Dari tatapan mata tersebut, sudah bisa dipastikan sejak awal, dia tidak menyukai wanita ini. "Lo nyindir gue?" "Enggak kok. Lucu aja, masa beneran suka sama modelan Candy. Dulu bilangnya tanpa status, nggak peduli, cuma senang-senang doang." "Berisik! Jangann ganggu gua!" bentak Kei masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. "Kayak bocah aja deh." Bianca mendengus. Namun kelihatannya wanita ini sama sekali tidak terpengaruh pada kekasaran Kei. Dia tampak biasa saja dan kembali menonton televisi. Apapun yang terjadi, dia memang sangat menginginkan Kei sebagai suaminya. Selain keluarga Kei yang memang sudah terpandang, Kei memenuhi kriteria pria seksi idamannya. Kei sendiri langsung mengguyur badannya di bawah shower tanpa melepaskan pakaiannya terlebih dahulu. Dia kelihatannya sungguh tidak berniat melakukan apapun dan ingin tidur. Akan tetapi saat dia sudah ingin merebahkan diri di atas ranjang, dia menyempatkan diri untuk menghubungi nomor Candy. Walaupun hasilnya masih sama sejak kemarin-kemarin. Ia membuang ponselnya ke tengah ranjang sambil menggerutu, "Masih diblokir juga. Lebay banget dia. Cuma ngusir doang, pakai acar blokir-blokiran." Tak lama kemudian, dia membenamkan diri di tumpukan bantal berharap masih ada aroma parfum Candy yang tersisa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN