1.

1318 Kata
Mata Meyra membulat dengan sempurna saat merasakan sebuah lengan melingkari perut ratanya. Namun di detik kemudian, ia tersadar. Ia ingat, semalam adalah malam pertamanya setelah resmi menyandang status istri sah dari seorang Alfread Putra Bagaskara. Walaupun begitu, mereka belum melakukan kewajiban yang sebagaimana suami dan istri lakukan, itu semua sesuai dengan perjanjian yang Meyra ajukan pada Alfread. Meyra Altha Dixie, gadis manis putri tunggal dari keluarga Farhan dan Rosa Altha Dixie. Gadis manis yang menikah pada usia 19 tahun, yang baru saja menjalani awal semester pertama di salah satu Universitas swasta, langsung di suguhkan sebuah lamaran yang sangat membingungkan sekaligus menggiurkan. Bagaimana tidak, Alfread adalah pengusaha muda sukses yang lahir di sebuah keluarga yang mapan, penerus Oswald Company. Flashback "Yaang, nikah yuk!" Meyra mengernyit heran. "Maksudnya?" Alfread meraih lengan Meyra dan menggenggamnya dengan erat. Suasana taman yang tenang, seketika terasa menegangkan bagi Meyra. "Will you marry me?" "Al, Al dengerin aku... Kamu jangan marah, jangan salah paham juga, okay?" Ucap Meyra. Al mengangguk setuju. "Aku sayang kamu, tapi aku bel-belum bisa nerima lamaran kamu yang dadakan ini..." Al menatap Meyra tak suka. "Why?" "Ya, ya aku masih mau kuliah, terus nyari kerja," jawab Meyra apa adanya. "Kamu gak perlu kerja, kamu cukup diem di rumah, nurut sama aku, yaang... Come on, mau yah..." Mohon Alfread, pria tampan yang terpaut 3 tahun dengan Meyra. Meyra menggelengkan kepalanya kembali. "Bukannya aku gak mau, tapi aku belum si--" "Kamu boleh kuliah kok," potong Al. "Al, aku tetep belum bisa, maaf..." Al terdiam dan menatap Meyra penuh selidik. "Kamu pasti punya niatan buat deketin cowok lain di kampus nanti, iya 'kan?" Meyra menatap Al tak percaya. Mulutnya membulat sempurna. "Ya tuhan, bisa-bisanya yah pikiran kamu sampe ke sana, gak abis pikir..." "Bener 'kan?" "Ya enggaklah, apaan sih! Kamu tuh, ish nyebelin." Kesal Meyra. "Lagian, ngajak nikah kayak ngajak mabar cacing," Al menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi taman. "Ya kamu sih," "Loh, kok aku?" "Ya gimana dong, pokoknya harus mau. Aku bakalan dateng sama keluarga aku buat ngelamar kamu dan kamu harus mau." Meyra menggeram tertahan. "Bisa gak sih mikir yang dewasa, nikah itu bukan perihal mudah. Aku belum bisa ngapa-ngapain," "Kita belajar sama-sama. Kita bakalan berhasil, kita akan bahagia kalau kita mau bekerja sama yaang... Come on, please say yes for tonight." Meyra sudah tidak tahu harus mengatakan kalimat penolakan seperti apalagi. Bahkan dengan entengnya seorang Alfread mengatakan 'tonight'. "Yaang..." "Hn?" Sahut Meyra. "Ngomong dong, jangan diem." "Aku harus ngomong apa, udah dari tadi aku bilang gak mau, aku belum siap, tapi kamu tetep maksa 'kan? Udahlah, cape aku. Terserah kamu, tapi aku tetap mau kuliah." Meyra pun berdiri dan berlalu meninggalkan Alfread dengan senyumannya. Alfread tersenyum senang mendengar nada pasrah pada setiap kalimat yang Meyra lontarkan kepadanya. "You should be mine, honey." Ucapnya yang kemudian berlalu menyusul langkah lebar Meyra. Flashback off. Malamnya Alfread benar-benar datang untuk melamar dan Meyra menjawab ya, selang dua minggu, mereka pun menikah. Sampai akhirnya, pagi ini Meyra bangun tidak sendiri, ada Al yang berbaring memeluknya. "Al, bangun..." Ucap Meyra seraya melepaskan pelukan Al. Meyra terdiam menatap wajah tampan Al yang masih dalam keadaan terpejam dan Meyra tersenyum begitu saja. Lengannya terangkat mengusap wajah putih Al dengan lembut. "Diem, Mey..." Ucap Al yang perlahan membuka matanya. Meyra terkekeh pelan dan beringsut dari atas tempat tidur untuk membuka gorden kamar mereka agar cahaya matahari masuk ke dalamnya. "Yaang, ish... Silau," protes Al yang kini menghadap ke arah kiri untuk menghindari cahaya matahari. Meyra berjalan mendekati Al dan memeluk suami tampannya itu dengan gemas. "Bangun yuk! Al... Ayo bangun, katanya gak ngambil cuti, berarti harus kerja dong... Buruan mandi, ish!" Ujar Meyra tanpa melepaskan pelukannya. "Ya udah aku bangun nih, lepas dulu dong pelukannya." Meyra terkekeh pelan seraya melepaskan pelukannya, di susul oleh Al yang meregangkan otot-ototnya. "Kalau nguap di tutup mulutnya, bau setan." "Dih, ya ampun mulutnya..." Sahut Al seraya menarik Meyra ke dalam dekapan tubuhnya yang shirtless. Kemudian Al membingkai wajah Meyra dan mencium bibirnya. "Emh... Lep--assh, Al ih!" Kesal Meyra seraya memegangi bibirnya yang sengaja Alex gigit dengan gemas. "Buruan, mandi!" Kesal Meyra. "Iya sayang, iya..." Sahut Al seraya turun dari atas tempat tidur dan berlalu menuju kamar mandi. Rumahnya terasa sepi, tapi Meyra harus terbiasa. Setelah resepsi selesai dan tamu-tamu sudah kembali pulang, Al dan Meyra langsung memutuskan untuk tinggal terpisah hari itu juga. Sudah pasti Al yang memintanya, ia tidak peduli jika Meyra masih belum bisa melakukan pekerjaan rumah, ia masih bisa memperkerjakan asisten rumah tangga. "Yaang!" Panggil Alex dari dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka yang luas itu. "Apa?" Sahut Meyra yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi. "Bathrobe-nya gak ada di sini, tolong ambilin handuk aja di lemari paling bawah!" " Iya, bentar!" Meyra pun berlalu untuk mengambilkan handuk. Tok... Tok... "Ini an-- AL! Bisa gak pintunya jangan di buka semua? Gak ada malu-malunya banget..." Pekik Meyra kaget dan refleks menutup kedua matanya dengan handuk. Al terkekeh pelan, kemudian ia mengambil handuk yang Meyra gunakan untuk menutup mata dengan tiba-tiba. "Kita udah nikah, kita mantap-mantap aja udah bebas yaang..." Ucap Al seraya menutup pintu kamar mandi kembali. Meyra pun terdiam, Al benar. Lalu kenapa dia harus malu. Meyra pun tertawa mengingat kebodohannya. "He is my husband, yeah... Gue udah nikah dan gue harus inget tanggung jawab gue, huaah... Gak bakalan bisa hangout bareng temen-temen SMA lagi..." Ceklek. "Kamu udah lulus, temen SMA kamu udah pada sibuk ngurusin prioritas mereka yaang," Meyra berbalik dan menatap tubuh Al yang hanya terbalut handuk hingga pinggang. "Biasa aja kali natapnya, jangan bikin aku ngambil cuti gara-gara olahraga bareng kamu yah," ucap Al seraya berjalan mendekati Meyra yang masih mengenakan pakaian tidur. Kemudian Al memeluk Meyra dan mencium puncak kepalanya. "Mandi gih, bau..." "Dih, ya udah sana! Jangan peluk, katanya bau..." Al pun melepaskan pelukannya, "ngambek, heum? Uuululu, lucunya istriku ini... Udah sana mandi, kelas pagi?" "Ya gak pagi-pagi banget kayak gini, Al... Santai aja," Al mendorong tubuh Meyra masuk ke dalam kamar mandi. "Ini udah jam setengah tujuh, jangan kelamaan. Abis itu kita sarapan." "Kamu juga cepetan pake baju, jangan sampe masuk angin, masa iya pengantin baru bukannya jalan-jalan malah kerokan. Huuuh!" Ujar Meyra yang langsung saja menutup pintu kamar mandi sebelum Al menyerangnya. "Awas kamu yah!" Sahut Alfread yang kemudian terkekeh pelan. Kemudian ia berjalan ke arah walking closet, tempat pakaian formal miliknya, sedangkan baju sehari-hari ia simpan di dalam lemari yang kini harus berbagi dengan Meyra. Ceklek. Al melirik ke arah pintu kamar mandi yang mana Meyra tengah mengeluarkan kepalanya dari sana. "Ada apa lagi, Mey?" "Aku, maaf aku belum nyiapin baju kerja kamu. Kamu pilih sendiri aja ya... Hehe, maaf, abisnya kamu langsung ngedorong aku ke kamar mandi." Ucap Meyra. Al mengangguk paham. "Gak pa-pa, kamu lanjut mandi aja," dan Meyra pun kembali menutup pintunya. Beberapa menit kemudian Meyra pun keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan kimono mandi kesayangannya yang berwarna pink. Ia langsung menghampiri Al yang terlihat kesulitan mengenakan dasi. "Kamu udah si-- sini aku bantu pasangin," ucapnya. Meyra menatap Al datar dengan kedua tangan yang sudah memegang kedua sisi dasinya. "Kenapa sih?" "Bisa peka dikit gak sayang, soalnya kamu nikah sama gadis yang tingginya minimalis, bukan keturunan tiang listrik." Ujar Meyra setengah menggerutu. Hal itu membuat Al tertawa lucu, "lucunya istri aku..." Al langsung menurunkan tubuhnya agar Meyra dengan mudah memakaikan dasi di lehernya. "Cantik banget sih istri aku yang satu ini," PLAK! Tiba-tiba saja Meyra menggeplak lengan Al cukup keras. "Ish, galak." "Maksudnya 'yang satu ini' itu apa? Kamu punya istri berapa emang?" "Kamu doang, itu salah pilih kalimat aja hehe..." Ucap Al yang langsung mencium pipi Meyra dengan gemas. "Gemes banget, pengen gigit nih pipi chubby..." Lanjut Al seraya menangkp kedua pipi Meyra. Meyra selesai memakaikan dasi pada suaminya. "Udah beres," ucapnya. "Ya udah, aku mau pake baju dulu. Kamu kalau mau turun duluan gak pa-pa kok," Al mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. "Bareng aja," Meyra pun meraih pakaiannya dan mulai bersiap-siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN