Icha
"pah" kataku sambil berlari memeluk papa dengan air mata yang mengalir.
"ada apa ini sayang, kenapa kamu menangis?" tanya papa sambil membelai lembut rambutku
hatiku sakit, lelah dan entahlah, aku tak kuasa menahan tangis dan semakin pecah tangisku saat memeluk mama.
satu jam berlalu, aku pun baru bisa tenang, dan mulai menceritakan semuanya kepada mama dan papa.
saat itu,
braak, praankk, bugghh
hantaman benda yang sengaja di banting, di pukul, dan di lempar memekakan telinga, yang bukan sekali dua kali terjadi di dalam rumah kami.
"aku lelah mas seperti ini terus" teriakku kepada mas hamdan, dia suamiku.
"diam kamu!" katanya
"kamu selalu seperti ini mas, saat ada masalah di kantor atau di tempat lain, selalu aku dan anak yang menjadi sasaran amukanmu" sungutku
ya setiap kali mas hamdan ada masalah dengan siapapun, selalu aku dan anak-anak yang menjadi amukannya, seperti makanan sehari-hari bagi kami. apalagi ditambah saat dia kalah main game online. sudah bisa di pastikan, anak-anak dan aku takkan pernah luput dari sasaran kemarahannya.
Aku pun lelah selama 8 tahun pernikahan kami selalu seperti ini, batinku pun tak kuasa lagi menahannya.
"bisa diam gak kamu, aku pusing. pergi sana, jangan ganggu aku"
"baiklah kalau itu mau mu mas" aku beranjak pergi meninggalkannya ke rumah orangtuaku
Setelah mendengar penuturanku, kulihat wajah kedua orangtuaku merah padam, yang kutahu bahwa mereka sedang menahan marah.
"kamu disini saja dulu, jangan pulang, besok papa yang antar pulang, sekalian papa akan membicarakan ini dengan hamdan, sekarang masuklah ke kamarmu, istirahatlah" sahut papa.
"sudah mama bilang, jangan menikah dengannya, kamu yang keras kepala, di butakan oleh cinta, dan sekarang apa? terbukti kan ucapan mama" sambung mama sebelum aku masuk kedalam kamar.
dan aku hanya bisa terdiam, tak mampu menjawab ucapan mama, karena semua itu benar adanya
ku baringkan tubuh ini, kututup wajahku dengan bantal, dan pecahlah tangisan ku .
ku tutup hari ini dengan kecewa yang tak bisa ku gambarkan seperti apa sakitnya.
cinta melawan restu tak akan ada baiknya.