Suami

1002 Kata
Shuwan menarik tangan pria itu untuk pergi berbelanja baju, Long Yinse memakai Brokat hitam, topeng nya membuatnya terlihat misterius, sedangkan Shuwan mengenakan gaun merah membuatnya terlihat sangat mempesona. Sebenarnya Long Yinse belum melihat wajah asli Shuwan, dan identitas asli gadis itu ia tak tau,tapi sebenarnya Ia pernah melihatnya hanya sekilas saat Shuwan selesai mandi, ia melihat pipi dengan rona kemerahan, dan juga bulu mata lentiknya, hanya itu karena Shuwan menyamping saat itu Shuwan seakan terkena penyakit setiap 'Perempuan' di dunia jika lagi belanja,lupa dengan sekelilingnya, semua jenis kain yang dia sukai langsung diambil,bahkan Shuwan tidak lupa membelikan permen untuk Long Yinse yang diingat masih bersikap anak kecil. Long Yinse menatap permen apel di tangannya,bibirnya berdenyut kesal entah kenapa dengan keadaannya saat ini. Long Yinse hanya mendesah pasrah "Ahh" saja,lalu mengalihkan pandangannya ke arah gadis dalam gaun merah yang masih asik memilih pakaian.Dia(Long Yinse) merasa sangat tertarik dengan wajah asli di balik topeng itu Bahkan usia Shuwan jika dilihat sekilas hanya 15-16 tahun. Apalagi mata Shuwan di balik Topeng itu berwarna Violet, sangat langka dan jarang di dataran ini. Walau matanya sendiri adalah mata iblis ,yaitu mata seperti darah. Bukan sembarang orang yang memiliki warna mata yang langka seperti mereka berdua.Long Yinse sangat yakin dia dan Shuwan sudah ditakdirkan untuk bersama . Long Yinse memegang erat-erat tangan gadis itu, dan memasang tampilan anak yang baik di depan Shuwan. "Istri,Apa masih lama?"tanya Long Yinse dengan nada kelelahan,padahal bukan dia yang belanja ,tapi dia yang lelah. Shuwan hanya tersenyum lembut, Ia memegang erat kembali tangan pria itu, lalu berjalan pergi meninggalkan toko pakaian,sampai mereka tanpa sengaja berada di depan sebuah mansion. Di plakat tertulis 'Mansion Perdana Mentri', Mata violet Shuwan seketika menyipit berbahaya,bahkan genggaman nya mencengkram sangat kuat, Long Yinse memperhatikan hal itu juga,dia bahkan terkejut dengan aura kebencian dari gadis itu. "Istri...ada apa?" tanya Long Yinse. Shuwan tidak melihat ke arahnya,tapi tetap menjawab dengan suara dingin."Bukan apa-apa." Shuwan 'Pemilik dulu' tubuh ini selalu dianggap remeh dan dianggap aib bagi Ayahnya, semua putri bangsawan lainnya menghinanya.Bahkan tidak ada siapapun yang ingin membantunya. Hanya Nenek Shuwan, wanita tua yang selalu berada di sisinya,tetapi wanita tua itu akhirnya memilih pergi ke Gunung dan tinggal di sana berdoa pada dewa ,sejak ibu 'Shuwan' menghilang. Shuwan berbalik tapi melirik tajam pada kediaman itu,lalu berjalan pergi bersama Long Yin mencari penginapan yang bisa mereka akan tempati untuk saat ini. Saat mereka menemukan tempat yang cocok Shuwan berniat memesan dua kamar,mengingat bahwa keduanya masih orang asing, mereka hanya kenal beberapa hari. Namun Long Yinse yang tahu akam rencana gadis itu,langsung memeluk tangan Shuwan erat,lalu mengeluarkan mata memelas pada Shuwan yang langsung mengenai hati nurani Shuwan dengan kuat. "Istri...jangan tinggalkan aku...Hiks...hiks....Aku tidak akan meminta apa-apa lagi,"lirih Long Yinse ,bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Shuwan menatap wajah sedih pria itu seakan dia adalah orang yang paling terluka disini. Apalagi saat ini dia harus memberikan kesan baik padanya, jadi lupakan saja. "Oke." Dalam kamar hanya ada satu kasur di sana, apalagi hari sudah mulai gelap ,terlihat dari jendela. "Pergi mandi sendiri, aku akan menyiapkan pakaianmu." Long Yinse menganggukkan kepalanya cepat, lalu berjalan ke kamar mandi. Shuwan memasuki *Space-nya* dan langsung berjalan ke arah danau yang sangat jernih ,dengan sumber air berasal dari air yang memancar keluar. Beberapa saat setelah berendam,Shuwan keluar dari dalam air dan langsung mengenai kan pakaiannya,dan keluar dari ruang angkasa miliknya. Saat Long Yinse keluar, ia hanya mengenakan jubah putih, tubuhnya masih basah ,sehingga kain menempel pada tubuhnya membuatnya terlihat transparan memperlihatkan kulit dan ototnya. Shuwan sedang memakan buah di dekat jendela ,langsung tersedak melihat pemandangan fantastis itu. "Uhuk...uhuk...uhuk...."Shuwan menutupi mulutnya karena batuk. "Yinse... kenapa kamu keluar dengan jubah seperti itu!" Seru Shuwan dengan wajah memerah,sambil membujuk pria yang tidak malu sedikitpun itu. Long Yinse memiringkan kepalanya dengan tatapan polos. " Jadi, YinseYinse harus telanjang Yah? Istriku ternyata sangat nakal." "Tidak." Tolak Shuwan dengan wajah memerah seperti tomat. Dia selalu memikirkan bahwa Pria seksi adalah yang serius, tapi sekarang ia tahu bahwa pria seksi itu yang baru mandi,karena hawa kejantanannya keluar sangat kuat. "Aku bisa-bisa mati muda, jika diberi tontonan gratis seperti ini terus."batin Shuwan. Menghirup udara berulang kali, Shuwan mengambil handuk dan mengeringkan rambut panjang Long Yinse Long Yinse dengan senang hati duduk dan membiarkan Shuwan melakukan hal itu, ia merasa sangat nyaman, perasaan ini tidak buruk juga, pikirnya. "Kmau lain kali kalau sudah mandi, pertama keringkan rambutnya paham." Long Yinse menganggukkan kepalanya tanda mengerti, Ia lalu menatap Bayangan keduanya, Ia merasa itu terlihat sangat serasi. "Iya, besok kita akan ke gunung menemui nenek ku, Kau hanya perlu menganggukkan kepala mu dan tersenyum saat nenekku sedang bertanya,paham." Long Yinse menganggukkan kepalanya, paham. "Apa yang akan kita lakukan disana? " "Menemui nenek tentunya, dan juga kau akan berperan sebagai suami-ku." Sahut Shuwan dengan kepala berputar ke samping ,berusaha menahan rasa malunya. Long Yinse berbalik, menatap Shuwan cemberut. Seakan di balik sepasang mata merah itu di penuhi dengan kesedihan yang dia tanggung. Shuwan tidak kuat jika di tatap dengan mata sedih yang indah itu, jadi dia memilih memalingkan wajahnya ke samping. "Bukankah kita memang Suami-Istri? Apakah Istriku menolak untuk mengakuiku karena aku bodoh?" "Itu belum sah bodoh, kita harus bersujud kepada langit dan bumi. Dan juga apa kau yakin dengan perasaan mu padaku." "A..ku....aku hanya menyukaimu,istri." Sahut Long Yinse tegas. Setelah menyisir rapi rambut Long Yinse,Shuwan Tersenyum ke arahnya."Tidurlah." Shuwan langsung naik ke kasur dan menutup matanya,dia benar-benar lelah.Long Yinse berbalik menatap gadis itu yang sudah memasuki alam mimpi dengan sangat cepat. Senyum polos di wajah Long Yinse menghilang ,digantikan seringai licik. "Gadis kecil, Kamu ingin Pernikahan Sah? Kau akan menjadi Pengantin wanitaku yang paling cantik jika kau ingin,Istriku." Long Yinse perlahan memejamkan matanya sambil salah satu tangannya memeluk erat pinggang ramping gadis itu. Suasana dalam ruangan itu terlihat tenang dan romantis. Shuwan perlahan membuka matanya dan menunduk melihat tangan di pinggangnya. Dia berusaha melepaskannya, tapi tangan orang itu terlalu kuat memeluknya. 'Bagaimanapun nantinya kamu dan aku tidak berjalan di jalan yang sama. Kamu ditakdirkan untuk menjadi pemeran utama pria, sedangkan aku hanya umpan meriam dalam buku ini. Kita tidak mungkin bersama!' -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN