TAMPAKNYA ia sedang berbahagia. Kulihat Rinai mondar-mandir membereskan meja di ruang tengah apartemennya. Majalah, koran, laptop, kertas-kertas, semuanya berserakan di sana. Ia berceloteh selama menumpuk kertas kerjanya jadi satu dan meletakkannya rapi di dalam laci. Kuamati gerak-geriknya sekaligus mendengarkan ceritanya tentang tesis kawannya yang mendapatkan A dan menyabet predikat sebagai wisudawan terbaik Sorbonne. “Oh ya, kamu ingat Irene, kan? Pas kita jalan berdua di Pont des Arts, kita ketemuan sama dia. Dia mau nikah, loh. Katanya kita diundang...” Sial. Rupanya tak semudah perencanaan dan ekspektasiku. Aku makin merasa bersalah. Hampir-hampir perasaanku berbisik memintaku menghentikan kenekadanku, namun logika terus merajuk dan memintaku tetap melakukannya. Baru saat ia berh

