MIMPI 1 Rumah kecil di pinggir danau dengan beberapa ekor angsa putih adalah pemandangan pertama yang kudapatkan. Seperti hari pertama aku memimpikan gadis Indische itu, aku menjelma menjadi dirinya, hidup sebagai dirinya, berjalan anggun dengan langkah ringan menghampiri bangku kayu panjang di sebelah sebatang pohon beringin rindang yang dipasang ayunan kecil. Kesadaran mimpikah? Atau barangkali hanya sebuah keinginan—harapan—yang tak pernah terpenuhi. Barangkali pula aku terlalu memikirkannya hingga hal seperti ini terjadi lagi padaku. Di bangku kayu itu, kulihat Ario tengah bertekur dengan kertas dan pensil di pangkuannya. Tangannya dilarikan ke sana-sini, gesit, seakan waktu mengejarnya tanpa jeda. Aku tertawa geli melihat raut wajah penuh konsentrasinya. Menyadari keberadaan kiki

