Jatuh

5297 Kata

DAN sekarang ia memintaku tidur di rumahnya. Bila membunuh bukan termasuk dosa besar, sudah kubunuh ia saat ini. Tak sampai di sana rupanya; aku mengira ia berhenti mempermainkanku setelah kukuliahi. Sekarang, ia lakukan hal serupa, menjungkirbalikkan hatiku seperti gelombang air pasang yang berusaha mengombang-ambingkan sebuah bahtera. Boleh aku bunuh makhluk di depanku ini, Tuhan? “Nggak,” aku menjawab ketus. “Ini pasti akal-akalan kamu. Eh, sebetulnya yang kamu pengenin dari aku itu apa sih, heh?” Bola matanya diputar ke atas tanda jengah. Lebih jengah siapa, pembaca? Harusnya aku yang jengah! Kadang aku mengutuk diri dan menyalahkan benang merah yang menghubungkan segala kerunutan kisah ini. Jika berakhiran dengan rasa sakit hati atau kegamangan, alangkah baiknya bila aku meninggalk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN