Pov Wahyu "Sebentar lagi undangan panggilan sidang perceraian kita akan segera turun. Persiapkan dirimu, Mas." Ucapan Wulan kembali terngiang di telinga. Benarkah ia ingin berpisah denganku. Bukankah dia sangat mencintaiku. Kalau anak muda jaman sekarang mengatakannya bucin. Aku tahu dia pasti berbohong. Mana mungin Wulan senekat itu? Tidak! Tidak! Wulan tak mungkin menggugat cerai. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Banyak kenangan manis yang kami lewati bersama. Terlebih ada Diana di antara kami. Mana mungkin dia tega memisahkan ayah dengan putrinya. Duduk di kursi tua dengan pandangan mata lurus ke depan. Sesekali memijit kepala yang terasa berdenyut. Pusing memikirkan cara menarik hati Wulan kembali. Mobil merah berhenti tepat di depan rumahku. Kenapa dia datang lagi? Astaga

