Kesempatan

1282 Kata

"Assalamu'alaikum Bu ...." Suara lembut Mas Rudi kala menyapa ibu dari balik telepon. Beberapa menit Mas Rudi berbicara dengan ibu melalui sambungan telepon. Aku tak terlalu mendengarkan karena berada di dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Mas Rudi dan Mbak Yuli. Ada rasa sungkan dan tak enak pada kakak iparku. Seharusnya tamu itu dimuliakan, dibuatkan minuman. Bukan justru disuguhi pertengkaran. Dan harus menjadi penengah di antara kami. Dua cangkir teh hangat telah berada di meja makan. Mas Rudi meminta kami duduk di tempat semula. Melanjutkan persidangan yang sempat tertunda. Mas Wahyu semakin diam membisu. Nampak kegugupan di wajah tampannya. Wajah yang dulu membuatku jatuh hati padanya. Dan ternyata ketampanan tak menjamin sikapnya akan sama dengan wajahnya. "Wahyu, kenapa ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN