Dwika, sosoknya terus terpaku pada Alia yang kini pergi meninggalkannya begitu saja, kibasan rambut dengan aroma mawar yang lembut. Wangi yang begitu familiar untuk Dwika bahkan mungkin salah satu aroma favoritnya, masih membekas di hidungnya yang bangir membuat Dwika tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita yang berstatus istrinya tersebut. Ada rasa sesak yang berkumpul di hati Dwika saat dia melihat Alia menghampiri Dika bersama seorang dokter muda yang tengah menggendong Dika. Putra kecilnya yang selama ini selalu mendapatkan gelar anak Papa karena begitu mengidolakan dirinya pun sama sekali tidak bergeming. Dika melihatnya, tapi memilih untuk mengabaikan, tempo hari Dwika menyebut sikap Dika yang marah kepadanya bahkan sampai mengamuk hingga melempari batu adalah sikap yang kur

