Kegilaan Xavier

1019 Kata
Ara yang baru saja keluar dari hotel tergesa-gesa mengemudikan mobilnya menuju ke mansion mewah milik orang tuanya. "Untung aja Papa udah antisipasi buat naruh mobil di sini, nah kejadian juga kan akhirnya apa yang di takutin sama papa. Huaaa papa maafin anakmu yang gak nurut ini pah." ujar Ara sambil menahan isak tangisnya. Dengan pikiran yang kacau dan mata yang kabur oleh air mata, gadis itu hampir tak menyadari setiap belokan dan lampu lalu lintas yang dilewatinya. Sampai di depan gerbang mansion, Ara segera memencet klakson mobilnya berulang kali sampai seorang satpam buru-buru membuka gerbang untuknya. Mobil mewah itu melaju kencang memasuki halaman mansion yang luas, dan Ara langsung keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya. Langkah kakinya tergesa-gesa menuju pintu utama mansion, tangisannya semakin keras, terdengar mengiris hati. Begitu pintu dibuka, Ara langsung berteriak memanggil orang tuanya. "Huaaa Papa Mama!" teriaknya sambil menangis keras. Di ruang tamu, sang Papa yang sedang duduk santai sambil membaca koran, terkejut mendengar teriakan putrinya. Ia segera berdiri dan mendekati Ara dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. "Ara sayang, kamu kenapa? Hey, ada apa bilang sama Papa!" ujarnya mencoba menenangkan. Namun Ara terus menangis, tangannya mencengkeram erat lengan sang Papa. "MAMA!" teriaknya lagi dengan suara yang parau. Mendengar teriakan itu, Mama Sania yang sedang berada di ruangan atas langsung berlari ke bawah. Rambutnya yang terurai dan wajahnya yang tampak cemas menambah ketegangan situasi. Ia segera mendekap Ara yang masih menangis. "Sayang, kok kamu pulang? Ada apa, Nak?" tanya Mama Sania dengan suara lembut. Ara mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan. "Deo, suami sialan Ara itu selingkuh sama Vita. Mereka... mereka main gila di hotel samping tempat Nara nginap," ucapnya dengan suara tergagap, sesekali terhenti oleh isak tangisnya. Kata-kata itu seakan jatuh seperti bom, mengejutkan kedua orang tua Ara yang terpaku mendengarnya. Wajah Papa Ara memerah, sementara Mama Sania terlihat pucat. "APA!" teriak Papa Ara, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menggenggam erat bahu Ara, mencoba mencari kejelasan lebih lanjut. "Benarkah itu, Sayang? Kamu yakin melihat mereka?" tanyanya dengan suara yang berat. Ara hanya mengangguk, air matanya semakin deras. Ketiga orang itu, dalam kesedihan dan kemarahan, berpelukan erat. Ara merasa hancur, tapi setidaknya ia tahu, dalam pelukan kedua orang tuanya, ia akan selalu memiliki tempat untuk pulang dan merasa aman. "Lah sayang bukannya kamu gak suka sama dia. Kenapa sekarang nangis?" tanya Papa Kai yang baru sadar. Tentu saja Ara dan Mama Sania langsung tersadar juga. "Lah iya loh pah, mah. Ngapain Ara nangis nangis. Ya ampun gila emang." ucap Ara sambil mengusap air matanya dengan cepat. Tentu saja kedua orangtuanya langsung tertawa dengan kerasnya. Memang anak mereka satu satunya ini sangat unik. "Dah lah, besok papa yang urus perceraian kalian. Papa bilang juga apa, dia itu bukan laki laki baik." ujar Papa Kai sambil terkekeh pelan. "Lah tadi kamu bilang dia sama Vita? bukannya Vita sahabat kamu sayang. Duhhh kacian anak Mama di tikung sama sahabat sendiri." ujar Mama Sania sambil memeluk Ara dengan erat. "Gak ngaruh, ambil aja orang burungnya kecil. Ara gak minat sama Deo mah." celetuk Ara. "HEY KAMU BILANG APA TADI? GAK BOLEH YA BELAJAR DARI MANA KAMU!" teriak Papa Kai saat melihat Ara langsung berlari naik ke atas kamarnya. "Dari...Papa kepo, wleee.... " sahut Ara sambil memeletkan lidahnya ke arah Papanya. "Ya ampun anak kamu bakal banget sekarang sayang." ujar Papa Kai sambil melirik ke arah istrinya. "Aku gak ngajarin sayang, anak kamu minta di tabok itu." ujar Mama Sania. Papa Kai langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, sungguh putri satunya itu kelakuannya di luar nurul. Sedangkan Xavier dan Rehan kini baru tiba di markas Klan miliknya. "Berkumpul semua!" titah Xavier pada anak buahnya yang tengah latihan itu. "Baik Tuan!" sahut seluruh anak buahnya dengan kompak. Mereka langsung merapikan barisan. Termasuk Rehan dan Fero sahabat sekaligus Asisten Xavier di kantor maupun di Markas. "Perkuat keamanan, saya tidak suka melihat ada kejanggalan atau kegagalan sedikitpun. Dengar kalian semua harus bertanggungjawab dengan apa yang kalian kerjakan. Saya tidak menerima kesalahan dan bentuk hal apapun. Dan satu lagi jangan pernah berani berkhianat dari saya. Atau kepala kalian yang akan jadi taruhannya. Mata di balas mata, nyawa di balas nyawa. PAHAM KALIAN SEMUA, HMM....?!" ucap Xavier panjang lebar. "PAHAM TUAN KING!!" sahut mereka semua dengan kompak. Kalau di markas Xavier selalu di panggil King, tapi kalau di luar dan di kantor ia akan di panggil Xavier. "Bagus, lanjutkan tugas kalian masing masing, malam ini kawal tiga kontainer yang akan pasok barang ke arah pelabuhan utara. Jangan sampai gagal. Lakukan dengan benar. Kau Rehan, kawal mereka sampai berhasil, dan kau Fero. Ikut denganku ke ruangan. BUBAR...!!" ujar Xavier. Seluruh anak buahnya langsung berpencar ke tugas masing masing. Fero langsung mengikuti Xavier masuk ke ruangannya. "Ada apa King?" tanya Fero. Kalau di area markas dan di kantor mereka memang menggunakan bahasa formal. "Kau cari data lengkap milik gadis ini." titah Xavier dengan nada seriusnya. "Perempuan? wah wah siapa ini? King akhirnya kau normal juga. Ya Tuhan terimkasih telah menormalkan sahabat hamba ini." ucap Fero dengan raut wajahnya bahagianya. "Diam jangan berisik lo Fer. Aku gak lagi bercanda. Cari semua datanya sampai dapat. Ku tunggu 20 menit lagi. Harus sudah ada lengkap dengan nomor telfonnya." titah Xavier. Ia langsung duduk di meja kebesarannya, mengambil laptopnya nya dan mengecek semua kerjaanya. "Waktu terus berjalan sialan." ujar Xavier dengan suara dinginnya. Tentu saja Fero langsung gelagapan, ia tak bisa diam aja kali ini. Telat dikit aja kepalanya yang jadi taruhannya. "Siapa King." sahutnya. Fero dengan cepat langsung mengambil laptopnya, ia mencari semua data lengkap itu. "Sial, kenapa datanya gak muncul. Ouh s**t jangan bilang datanya di lindungi. Sial mana waktunya tinggal 11 menit lagi." ucap Fero sambil menjambak rambutnya sendiri. Di lain tempat tepatnya di hotel Deo baru saja menghajar habis habisan Vita. Sungguh semua rencananya gagal karna Vita. PLAK! PLAK! "Aa arghh sakit Deo ampun hikss hikss maafin aku. Aku ini perempuan, aku cinta sama kamu Deo. Biarin kalau Ara mau ceraiin kamu. Masih ada aku yang mau jadi istri kamu!" pekik Vita sambil menangis sesenggukan. "Jadi istiku? hey body krempeng sepertimu mau jadi istriku? Dalam mimpimu sialan!" sahut Deo sambil terkekeh sinis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN