Pagi itu mansion terasa terlalu sunyi. Ara baru selesai mandi, rambutnya masih basah menetes ke bahu. Baru saja ia mau turun ke dapur buat cari sarapan, ponselnya bergetar. Dari Xavier. Xavier: Baby, aku ke kantor sebentar. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Ara mendengus. “Yaelah iya Xav, gaya amat.” Tapi jantungnya juga sempat bergetar sedikit. Setiap Xavier ngomong begitu, biasanya ada masalah. Ara turun ke ruang tamu sambil menguap. “Mau ngopi bentar, kok hawanya kayak mau perang aja sih.” Ia baru mau melangkah ke dapur ketika bel depan berbunyi. Ding-dong. Ara langsung mengerutkan dahi. “Siapa sih pagi-pagi gini? Kurir ya?” Bel berbunyi lagi lebih kencang. “Yaampun bentar napa!” Ara mendekat ke pintu sambil menyipit. “Halo? Siapa?” Suara laki-laki di luar pintu terdengar be

