Gudang itu berdiri seperti bangkai tua, berkarat, dikelilingi semak dan tanah lembap yang menyimpan jejak banyak kaki. Lampu-lampu kendaraan Xavier mematikan malam. Lingkaran cahaya terbentuk, rapi, presisi. Dua puluh anak buah menyebar tanpa suara, membentuk kepungan yang tak memberi celah. Bara memimpin sisi timur, rahangnya mengeras, tubuhnya masih menyimpan memar hukuman yang ia terima bukan sekadar sakit, melainkan peringatan. Ara turun dari mobil tanpa tergesa. Ia membuka bagasi, menarik kursi lipat, membentangkannya dengan satu gerakan. Duduk. Menyilangkan kaki. Matanya tak berkedip menatap gudang. “Aku nonton,” katanya pelan, tenang. “Kamu selesaikan.” Xavier menoleh sekilas. Tatapan mereka bertemu singkat, penuh makna. Lalu ia berpaling. Wajahnya kembali menjadi dingin sepe

