Ara hanya bisa terpaku beberapa detik setelah mendengar ucapan Xavier. Pria itu berdiri tegap di depannya, tatapannya serius tapi tetap dengan ekspresi bodoh menyebalkan yang bikin Ara ingin melempar sandal. “Menikah? Lo baru aja pulang beli pembalut, terus tiba-tiba ngajak gue nikah? Gila ya?” ujar Ara sambil memelototkan mata besarnya. Xavier justru tersenyum santai. “Aku serius. Sangat serius, baby.” Bukannya menjawab, Ara malah memainkan kantong belanjaan yang baru saja Xavier kasih. “Aku mau mandi, bodo amat soal nikah.” Ara berbalik mau pergi, tapi tangan Xavier lebih cepat menangkap pergelangan tangannya. “Tunggu dulu.” suara Xavier melembut, tapi tetap mengandung aura tak bisa ditolak. Ara mendesis kesal. “Apalagi sih, Xav? Mau minta penghargaan karena udah beli pembalut?” X

