Bab 188

3049 Kata

Malam itu sebenarnya terasa biasa. Tidak ada tanda-tanda yang terlalu mencolok sejak sore. Zenia sempat berjalan pelan di halaman, sempat makan dengan tenang, bahkan masih sempat tertawa kecil saat Aidan menunjukkan gambar keluarga yang ia buat—lengkap dengan Mama berperut besar dan Papa yang digambar terlalu tinggi. Namun menjelang tengah malam, ketika rumah sudah sunyi dan hanya terdengar suara pendingin ruangan yang lembut, Zenia terbangun. Rasa itu datang tiba-tiba. Mulas. Berbeda dari keram-keram ringan sebelumnya. Ia mengerutkan kening dalam gelap. Tangannya langsung memegang perutnya. “Ah…” Bukan hanya mengencang. Tapi nyeri yang dalam. Seperti gelombang yang datang dari punggung lalu menjalar ke depan. Ia menarik napas pelan. Mencoba menghitung. Satu. Dua. Tiga. Ras

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN