Pagi itu suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding hari-hari biasa. Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena ada ketegangan yang tipis tapi nyata. Matteo sudah berpakaian rapi sejak subuh. Jasnya tergantung sempurna di bahunya, wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan fokus yang dalam. Hari ini sidang kedua. Hari ini putusan akan dibacakan. Zenia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah blusnya pelan. Tangannya sempat berhenti di atas perutnya yang mulai semakin jelas membulat. Dia menarik napas panjang. Ini bukan hanya tentang hukum. Ini tentang penutupan luka yang hampir merenggut keluarga mereka. “Aidan sudah siap?” tanya Zenia pelan. “Sudah,” jawab Matteo dari pintu kamar. “Dia nggak ikut. Lebih baik tetap di rumah.” Zenia mengangguk. Mereka sudah sepakat

