Bab 168

3443 Kata

Hari keempat dimulai dengan langit yang kelabu, seolah ikut mencerminkan perasaan Matteo. Dia baru saja kembali ke rumah setelah semalaman hampir tidak tidur. Kepalanya berat, matanya perih, tapi dia tidak punya waktu untuk mengeluh. Begitu masuk ke ruang tamu, ponselnya bergetar. Nama salah satu anak buahnya muncul di layar. Matteo langsung mengangkat. “Ada apa?” “Kami nemu satu orang, Boss,” jawab suara di seberang sana, terdengar tertahan tapi jelas ada sesuatu yang penting. “Ciri-cirinya cocok sama yang kita cari. Salah satu preman yang ikut nyulik Aidan.” Jantung Matteo seakan berhenti berdetak sesaat. “Di mana?” “Di daerah pinggiran kota. Dia lagi sembunyi. Kelihatannya panik. Kayak orang yang ngerasa lagi diburu.” Matteo menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN