Zenia berdiri di ruang tamu, tangannya terkepal, wajahnya memerah. Kabar bahwa Matteo berniat mengadakan pesta besar di rumah Ancelotti membuat darahnya hampir mendidih. Rumah ini bukan sekadar bangunan mewah. Ini adalah simbol kenangan Carlo, suaminya yang baru saja meninggal, ayah yang selama hidupnya begitu melindungi keluarga dan rumahnya. “Dia tidak bisa melakukan ini,” gumam Zenia keras, suara bergetar karena kemarahan. “Ini rumah Carlo, bukan arena permainan Matteo!” Matteo muncul dari tangga dengan langkah panjang dan mantap. Matanya menatap tajam pada Zenia, bibirnya melengkung tipis, seolah menunggu reaksi. “Apakah aku mendengar seseorang tidak senang dengan rencanaku?” kata Matteo, suaranya datar, namun ada nada dingin yang menusuk. Zenia menatapnya lurus, napasnya masih ber

