BAB VIII

1056 Kata
Seketika pintu kamar terbuka dan semua orang berhamburan ke dalam, termasuk dokter dan perawat yang segera menyiapkan persalinan. Hans dan Lilian hanya bisa berpelukan di samping ranjang melihat Abi berteriak kesakitan. Albert terus menenangkan Abi. Pelayan mulai keluar masuk ikut membantu menyiapkan keperluan yang diminta perawat. “Silahkan Tuan Besar dan Nyonya Besar keluar dulu, begitu juga Tuan Muda. Proses persalinan akan segera dilakukan”, minta dokter. “Bolehkan saya menemani istri saya?” Albert ingin mendampingi Abi melewati masa sakitnya “Asalkan Anda kuat saat melihat prosesnya, saya akan mengijinkan.” Dokter mulai memakai baju medisnya. “Kami akan keluar dulu. Abi, kamu pasti bisa. Kami akan menunggu di luar." Lilian memberi semangat pada menantu kesayangannya. Terus terang dia lupa rasa sakit saat melahirkan Albert tapi dia tahu saat inilah perjuangan terberat seorang ibu demi anaknya. Abi hanya mengangguk karena sudah tidak kuat menahan sakit. Rasa sakit yang hebat dan tidak pernah dialami sebelumnya. “Ibu, tolong bantu aku. Aku akan sempurna sebagai istri dan seorang ibu. Aku akan berkorban seperti engkau dulu mengorbankan diri untukku.”, Abi berdoa dalam tangis yang tidak terlihat. Albert setia di samping Abi sambil memegang tangan Abi yang berkeringat. Kuku tangan Abi mencengkram kuat tangan Albert. Albert hanya bisa menahan karena dia tahu rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan yang dialami Abi. Albert menangis melihat Abi yang berjuang sedangkan dia tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengurangi rasa sakit itu. Kontraksi yang semakin hebat, klimaks dari persalinan. Dokter memberikan aba-aba pada Abi untuk mendorong. Bayi mungil itu semakin terlihat. Dan….terdengar suara tangis bayi. Suaranya bisa terdengar sampai keluar ruangan. “Sayang, itu suara cucu kita. Suaranya besar sekali.” Hans dan Lilian tertawa gembira sambil berpelukan di balik pintu kamar. Mereka sudah tidak perduli saat beberapa pelayan meminta mereka untuk berhati-hati pasa kondisi tulang mereka yang sudah keropos karena usia. “Selamat Tuan Albert, anak perempuan yang cantik.” Dokter menyerahkan bayi itu kepada perawat untuk dibersihkan. Albert memeluk Abi dan mengucapkan terima kasih karena sudah berjuang, “Terima kasih Abi, kau sudah memberikanku anak yang cantik. Anak kita,” Dokter memerintahkan suster untuk menyerahkan bayi itu pada ibunya setelah dinilai keadaan Abi sudah memungkinkan maka bayi itu diserahkan. Pelukan pertama, tangan-tangan mungil, kedipan mata dan senyuman. Abi menangis melihat bayi mereka, bayi yang sungguh cantik. "Anak kita. Penerus Franklin." "Benar. Dia anak yang cantik, cantik sepertimu." Ibu Al menghampiri Abi dan mengelus kepalanya. Dia menyayangi Abi seperti purinya sendiri. "Kau ibu yang hebat. Perjuanganmu akan dikenang sampai anakmu dewasa nanti." “Siapa namanya Al?”, tanya Hans pada Albert. Albert tersenyum sambil melihat genggaman bayi itu pada jarinya “Anastasia. Namanya adalah Anastasia Franklin.” Anastasia tumbuh semakin cerdas, lucu dan menggemaskan. Harry datang setiap hari untuk sekedar bermain bersama cucunya. Sedangkan Lilian membantu Abi dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Dia juga menyuruh pelayan menyediakan makanan yang memperbanyak ASI, karena Abi bersikeras menyusui sendiri. Dan sekarang Albert pulang kerja lebih awal karena ingin bermain dengan anaknya dan setiap pulang dia selalu membelikan mainan atau baju baru untuk anaknya. Yang terbaik hanya untuk Anastasia. Kamar sudah dipersiapkan sebelumnya. Dekorasi khas kamar bayi, bau bedak dan sabun bayi memenuhi ruangan. Perawat terlatih dengan lisensi khusus untuk merawat bayi dan anak-anak juga sudah disediakan. Sekarang William sudah mau terjun mengelola perusahaan ayahnya. Jika tidak dalam perjalanan bisnis pasti dia menyempatkan diri mengunjungi Anastasia. Dan bisa ditebak Anastasia selalu menempel pada William. “Lihatlah anak kita, hanya mau digendong William.”, gerutu Albert pada Abi. Abi hanya tertawa melihat sikap Albert. Mau bagaimana lagi, saat Anastasia masih dalam kandungan memang senang mendengar suara William. Sambil menggendong Anastasia, William menciumi pipi lembutnya “Halo Hana kecil, paman datang lagi. Hari ini kita mau main apa?” Mereka memanggil bayi Anastasia dengan panggilan Hana karena William yang memulainya. Katanya Hana berarti bunga dan pengucapannya juga jadi lebih mudah, jadi semua orangpun ikut memanggilnya Hana. Hana melonjak kegirangan dan memeluk William. Dengan isyarat khas balita Hana menunjuk mainan atau tempat yang ingin didatangi. Kebahagiaan setiap hari selalu dirasakan keluarga itu. Walau Hans dan Lilian sudah kembali ke Inggris tapi setiap hari mereka melakukan video call untuk melepas rindu dengan cucu pertamanya. Pagi itu Albert harus pergi ke kota sebelah karena ada pertemuan penting dengan investor untuk rencana pembangunan hotel. Tapi karena jarak yang tidak terlalu jauh akhirnya Albert memilih mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan sekretarisnya sudah menunggu di lokasi pertemuan. “Kau yakin tidak mau memakai supir?”, tanya Abi pada Albert yang sedang mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. “Aku tidak apa-apa sayang. Bagaimana jika kau menemaniku?” Albert meminta Abi memakaikannya dasi. Abu harus berjinjit karena Albert jauh lebih tinggi darinya. “Bagaimana Hana? Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.” Tiba-tiba terdengar suara William terdengar sedang bermain dengan Hana. “Nah itu William datang, kita bisa memintanya menemani Hana. Lagipula tidak akan lama. Sore ini juga kita sudah kembali.” Baru kali ini dia merasa ada gunanya William datang setiap hari, setidaknya dia mengesampingkan kejengkelannya karena anaknya sendiri lebih dekat pada orang lain. Setelah mereka berdua bersiap-siap, mereka menemui William. “Will, bisakah kau menemani Hana hari ini? Aku akan pergi menemani Albert. Kami akan kembali sore nanti.”, pinta Abi pada William. “Tentu Abi, kebetulan aku tidak ada kegiatan. Makanya aku sudah datang dari pagi.” William sedang menyuapi Hana dengan buah yang sudah dipersiapkan pengasuh. Akhirnya Albert dan Abi pergi berdua, meninggalkan Hana pada William. Sebelum pergi Albert dan Abi menggendong Hana, mencium dan memeluknya. “Hana, mama dan papa pergi dulu ya. Jadi anak baik, jangan menyusahkan paman Will, oke." Hana yang sudah berumur 5 tahun menjawab, “Ya mama, cepat pulang. Aku sayang mama papa.” Hari itu cuaca tiba-tiba memburuk. Sedari pagi hujan turun walau tidak deras, tapi semakin siang hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda malah semakin membesar. Pertemuan Albert dengan investor sudah selesai dan mereka sudah akan pulang. Menurut ramalan cuaca akan terjadi badai pada malam hari. Jadi Albert dan Abi memutuskan segera kembali karena mengkhawatirkan Hana. William sudah memberi tahu bahwa tidak apa jika mereka tidak pulang. Lebih baik mereka menginap 1 hari untuk menghindari badai, namun mereka bersikeras untuk kembali. Mereka mengendarai mobil dengan kecepatan sedang tapi hujan semakin deras sehingga jarak pandang semakin pendek. Dengan kecepatan seperi itu malam telah datang karena Albert berkendara lebih lambat lagi..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN